Selasa, 22 Juli 2014

MATERI KATEKISASI PRA NIKAH bahagian I

MATERI
KATEKISASI PRA NIKAH
GPIB Jemaat PETRA di Bogor

Bahagian 1

PEMBENTUKAN
KELUARGA KRISTEN

a)   PENDAHULUAN

1.     Manusia adalah mahkluk sosial (homosocius) yang selalu hidup berkelompok. Ia tidak dapat hidup seorang diri saja. Kelompok yang terkecil dalam masyarakat disebut : keluarga, terdiri dari suami – isteri. Keluarga adalah sebuah ikatan perjanjian (kontrak sosial) yang dibuat oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan di hadapan pejabat pemerintahan (Pejabat Pencatat Perkawinan Sipil). Ikatan perjanjian itu bersifat yuridis formal, mengikat kedua pihak yang berjanji serta menetapkan lembaga perkawinan (keluarga) sebagai istitusi hukum (yang terikat dengan hukum positif dalam Negara).

2.    Perkawinan, sesungguhnya, bertujuan membuktikan kekuatan cinta-kasih dan kasih setia seorang laki-laki kepada seorang perempuan di depan masyarakat. Sekaligus melegalisasikan perbuatan seksual di antara kedua pihak yang berjanji, sehingga mereka tidak boleh melakukan perzinahan dengan siapapun sepanjang kehidupan berkeluarga.

b)  PERKAWINAN MENURUT KESAKSIAN ALKITAB
Dasar perkawinan menurut kesaksian Alkitab diucapkan oleh Nabi Hosea : “Aku akan mengikat perjanjian bagimu pada waktu itu dengan binatang-binatang di padang dan dengan burung-burung di udara, dan binatang-binatang melata di muka bumi; Aku akan meniadakan busur panah, pedang dan alat perang dari negeri, dan akan membuat engkau berbaring dengan tenteram. Aku akan menjadikan engkau isteriKu untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteriKu dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteriKu dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN” (HOS. 2 : 17-20)

Ucapan Nabi Hosea itulah yang menjadi patron (pola, model) bagi perkawinan kristen. Hosea menjadikan tradisi perkawinan menurut budaya masyarakat Israel sebagai kebiasaan positif untuk menceritakan, bagaimana Allah membangun hubungan dengan umatNya, Israel. Ada beberapa tahapan yang wajib dipenuhi pihak laki-laki kepada pihak perempuan :

Pertama, membayar mahar perkawinan. “Aku akan menjadikan engkau isteriKu untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteriKu dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteriKu dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN.” TUHAN, Allah Israel sebagai pihak laki-laki memenuhi adat kebiasaan Israel dengan memberikan mahar perkawinan, yakni : keadilan dan kebenaran, kasih-setia dan kasih-sayang serta kesetiaan. Melalui pembayaran mahar tersebut, Israel dibeli dan dijadikan isteriNya (mempelai perempuan).

Kedua, waktu perkawinan... Menurut Hosea, perkawinan itu berlangsung seumur hidup : Aku akan menjadikan engkau isteriKu untuk selama-lamanya (Hos. 2:19). Perkawinan itu tidak terikat pada waktu, tetapi pada kehendak kedua pihak yang mengikat perjanjian --- selama-lamanya. Mengapa tidak terikat pada waktu ? Sebab suami-isterilah yang harus membuktikan, bahwa mereka berdua berkeinginan untuk melanjutkan hubungan cintanya ke jenjang perkawinan; dan, oleh karena itu, mereka senantiasan akan memperjuangkan dan mempertahankan perkawinan sampai ‘selama-lamanya.

Ketiga, perkawinan sah menurut hukum masyarakat. Hosea berkata : “Aku akan mengikat perjanjian bagimu pada waktu itu”(Hos. 2:18). Budaya Israel Kuno memperlihatkan, bahwa kedua pihak wajib membuat perjanjian. Apakah tujuannya ? Agar hubungan perkawinan itu sah di hadapan khalayak ramai yang menyaksikan peristiwa tersebut. Di samping itu, hubungan cinta-kasih kedua orang itu diakui masyarakat, serta berjalan tanpa gangguan.

Perlu diperhatikan, proses ini dijalani laki-laki dan perempuan di Israel menurut adat istiadat, dan, hubungan keduanya diikat secara keagamaan maupun hukum --- satu hukum berlaku untuk semua ---, yakni hukum Taurat.

Keadaan itu berbeda dengan budaya hukum di Indonesia setelah UU Perkawinan tahun 1974 dan penyempurnaannya diberlakukan. Terhadap UU Perkawinan tersebut, Gereja mempunyai sikap : “Perkawinan disahkan dan diresmikan oleh Negara, sedangkan Ibadah Pemberkatan Perkawinan Kristen dilakukan oleh Gereja untuk memohonkan berkat atas keluarga” (bukan ke atas pribadi kedua orang yang menikah). Pandangan tersebut terkait beberapa alasan :

a)     Jika terjadi keputusan perceraian, Gereja tidak boleh dilibatkan, sebab Gereja tidak mengesahkan dan meresmikan perkawinan. Kedua pihak yang menikah wajib menyelesaikan masalah keluarganya (perceraian) pada negara.

b)     Gereja tidak pernah menyetujui perceraian, apapun alasannya. Hal ini mengingat akan tugas Gereja selaku pelaksana misi Allah sesuai kesaksian Alkitab. Dan, bertolak dari landasan alkitabiah, yakni : ucapan Yesus Kristus : “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. (Mati. 19:6)

Pada sisi lain, Yesus menolak perzinahan sebagai alasan untuk bercerai. KataNya : “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah (MAT 19 : 8 – 9). Menurut Yesus, sebagaimana dicatat Matius, sesungguhnya Musa tidak mau memberikan surat cerai kepada orang Israel yang ingin bercerai. Surat cerai itu diberikan, karena ketegaran hati (kerasnya kemauan) mereka untuk bercerai. Itulah yang dimaksudkan Yesus : “... sejak semula tidaklah demikian.”

Mengapa Yesus berpendapat demikian ? PandanganNya bertolak dari alasan :

Ø Penciptaan dan pencitraan manusia. Manusia itu : laki-laki dan perempuan (Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, ... Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya merekaKej. 1:26-27). Laki-laki tanpa perempuan tidak mungkin, dan perempuan tanpa laki-laki akan hancur. Keutuhan hidup manusia tampak dalam kesatauan hubungan laki-laki dan perempuan. Jadi sepasang suami isteri wajib memahami dan menghayati kemanusiaannya melalui pembinaan hubungan mereka dalam kesatuan keluarga.

Ø Pernyataan Adam : “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki” (Kej. 2:23). Pernyataan Adam (laki-laki) ini sangat penting : pertama, manusia-laki laki mengakui kesederajadan status sosial serta kesamaan hakekat manusia-perempuan. Kedua, di dalam pernyataan itu tersirat makna, perbedaan fungsi manusia-laki laki dan manusia-perempuan, dikarenakan kodrat kelamin. Dan, perbedaan itu biasa. Yang penting dan yang diutamakan adalah fungsi keduanya bagi pelayanan akan persekutuan keluarga.

Ø Perkawinan merupakan simbol yang menyatakan kesatuan hidup yang terjalin dalam hubungan antara manusia dan Allah. Sama seperti perkawinan mempersatukan laki-laki kepada perempuan, juga Allah kepada manusia. Inti persekutuan (komune) itu adalah hubungan-hidup. Tak mungkin ada kehidupan tanpa adanya hubungan. Tak mungkin ada asap, kalau tidak ada api. Keduanya adalah kesatuan, persenyawaan-hidup-yang-bergerak. Dalam sebuah kalimat indah Rasul Paulus melukiskan hubungan perkawinan : “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Eps. 5:32). Jadi jika suami-isteri kristen memahami dan menghayati akan kesatuan ilahi yang dimaksud, sebaiknya, mereka tidak boleh bercerai. Jika perceraian itu terjadi oleh karena kemauan sendiri, maka suami-isteri kristen tidak menjadi contoh dan alat pemberitaan bagi kemuliaan Kristus, mempelai Jemaat.

Hubungan perkawinan dan monoteisme Allah. Acapkali kita khilaf. Kita berpikir, bahwa perceraian hanya meruakan urusan suami-isteri; padahal ia terhubung langsung pada pengakuan iman. Jika kita mengaku percaya, bahwa Allah yang disembah itu esa, maka wujud pengakuan itu harus nampak dalam hubungan perkawinan : hanya seorang isteri dan atau seorang suami saja. Tidak boleh selingkuh (bd. Mal. 2:10 => Bukankah kita sekalian mempunyai satu bapa ? Bukankah satu Allah menciptakan kita ? Lalu mengapa kita berkhianat satu sama lain dan dengan demikian menajiskan perjanjian nenek moyang kita ?), sama seperti Allah setia dan tidak mengkhianati kita.

C. PENUTUP

1.       Perkawinan / pernikahan hanya terjadi satu kali seumur hidup. Tidak boleh bercerai (Mal. 2:16 => Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel – juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat !). Allah tidak menghendaki perceraian, seperti yang diucapkan Yesus Kristus : Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat. 19:6).

2.       Gereja tidak boleh menceraikan pasangan suami isteri. Perceraian adalah urusan suami-isteri dan Negara. Jika ada suami-isteri di dalam Jemaat yang bercerai, maka Gereja wajib melaksanakan percakapan pastoral, agar mereka tidak bercerai. Akan tetapi jika oleh kekerasan hatinya mereka tetap melanjutkan perceraian, maka Gereja wajib menempatkan pasangan suami isteri itu dalam status penggembalaan khusus sammpai masalahnya selesai tuntas.

3.      Gereja tidak menssahkan maupun meresmikan perjanjian perkawinan menurut hukum negara. Gereja hanya memohonkan berkat Allah atas keluarga yang telah dibentuk berdasarkan perjanjian menurut hukum negara.
Bogor – Rabu, 23 Juli 2014

Salam dan Doaku

PENDETA  ARIE A. R. IHALAUW
















Selasa, 15 April 2014

TATA IBADAH SYUKUR PASKAH - 20 Apriel 2014 - GPIB Jemaat PETRA di Bogor


GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA BAGIAN BARAT
G P I B
Majelis Jemaat ‘PETRA’ di Bogor

Sekretariat : Jalan Raya Bogor Km. 17 Cibuluh – Ciluar




TATA IBADAH
UCAP SYUKUR UMAT DALAM PERISTIWA

KEBANGKITAN
KRISTUS YESUS

THEMA

MEMBANGUN KEMITRAAN ANTAR UMAT
DEMI KESELAMATAN BANGSA
 ROMA VIII : 28

SUB THEMA

Kasih Kristus Yesus mendorong semangat orang Kristen untuk berpartisipasi membangun bangsa yang majemuk menuju kehidupan penuh damai-sejahtera
ROMA  X : 12

MAJELIS JEMAAT
GPIB PETRA DI BOGOR

Minggu, 23 April 2014

-----ooo00ooo-----


PROSESILITURGI I

SAPAAN PEMBUKA TEMU

Diak. 1     :  Kawan...,
                      Apakah gerangan kejadian di hari ini...
                      Lihatlah... banyak orang berkumpul di sini...
                      Adakah yang mereka cari di hari begini subuh ?
Diak. 2     :     Benar, sahabatku !
                         Akupun heran melihatnya...
                         so pasti...., so pasti ada cerita, sahabatku
Diak. 1     :  Ya..., benar sekali...
                      dahulu kala ada kabar berita ...
                      cerita tentang seorang tokoh ...
Jemaat    :     Siapakah Dia ?
                         Siapakah tokoh sejarah yang kaumaksudkan, kawan ?
Diak. 2     :  Yesus, orang Nazareth !
                      Dialah yang menciptakan sejarah keselamatan !
                      Dialah yang sedang kita nantikan !
Jemaat    :     Marilah kita memuji namaNya.
                         Marilah kita bersorak karena Dia adalah Tuhan kita...
Diak. 1     :  Marilah berdiri, kita menyanyikan pujian bagi Allah !

NYANYIAN UMAT

PUJI YESUS
KID. JEM. 293 : 1 – 2

1.    Puji Yesus Pujilah Juruselamat, angit bumi agungkan kuasaNya. Haleluyah nyanyilah para malaikat kuasa hormat b’rilah kepadaNya. Selamanya Yesus Gembala kita, siang malam kita didukungNya. Puji Dia b’ritakan keagunganNya. Puji Dia, mari bernyanyilah !

2.    Puji Yesus, pujilah Juruselamat pada salib dosa dihapus-Nya. Gunung Batu dan Pengharapan abadi dinyatakan di bukit Golgota. Haleluyah, hilanglah dukacita oleh kuasa kasih-setiaNya. Puji Dia ! B’ritakan  keagunganNya. Puji Dia ! Mari bernyanyilah !

DOA DI AWAL JUMPA

Jemaat    :     WAHAI PENDOA !
                         UCAPKANLAH DOAMU ! BIARLAH TUHAN MEMBERKATI PERTE-MUAN RAYA INI. BIARLAH DIA SENDIRI YANG DATANG MENYAPA KITA !
Pent. 1     :  Marilah kita berdoa :
                      Ya Allah Mahakudus, kami datang memenuhi undanganMu untuk mengucap syukur kepadaMu, oleh karena Dikau telah menganugerahkan keselamatan melalui kebangkitan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami !
Jemaat    :     Kami berkumpu di sini untuk menyembah Kristus yang telah bangkit dan naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Bapa surgawi.
Pent. 1     :  Bersama sekalian malaikat dan mahkluk surgawi, umat memuliakan namaMu :
Jemaat    :     KUDUS, KUDUS, KUDUSLAH, TUHAN ALLAH SERWA SEKALIAN ALAM. DIA YANG SUDAH ADA DAN YANG AKAN DATANG UNTUK MENGHAKIMI DUNIA SERTA MENEGAKKAN PEMERIN-TAHANNYA ATAS SELURUH CIPTAAN.
Semua       :  Terpujilah namaMu, kini dan sepanjang segala zaman !

JEMAAT DUDUK

PUJIAN DAN PENGAKUAN DOSA KEPADA ALLAH
Pent. 2     :  Pujilah TUHAN hai semua orang yang sudah diselamatkan.
                      Pujilah Dia karena telah diberikan kebaikanNya atas kita !
Wanita    :     TUHAN..., DIALAH ALLAH YANG TELAH MEMBEBASKAN KITA !
                         DIALAH JURUSELAMAT KITA TURUN TEMURUN !
Pent. 2     :  Dia melepaskan kita dari ikatan dosa !
                      Dia menghidupkan kita dari jurang kematian !
                      Kita diberiNya makanan dan minuman setiap hari !
Laki          :     TIDAK ADA TUHAN KECUALI ALLAH, DIALAH YANG DITINGGIKAN DI LANGIT DAN DISEMBAH DI BUMI.
                         DIALAH KRISTUS YESUS, TUHAN DAN ALLAH KITA !
Semua     :  Bersoraklah karena Allah telah melakukan perkara besar atas kita ! Bernyanyilah bagi Dia, karena Ia memelihara kita dari penindasan kuasa maut. Marilah kita memuji Dia, Yesus Kristus, Juruselamat dunia !

NYANYIAN JEMAAT

TERPUJI ENGKAU, ALLAH MAHABESAR
KID. JEM.397 : 3 – 4

3.       Dimuliakanlah Anakdomba kudus, yang mengorbankan diri jadi Penebus ! ... REFF....
HALELUYAH PUJI TUHAN ! HALELUYAH AMIN ! JIWA KAMI KAUJADIKAN SEGAR ABADI.

4.      Berilah Tuhan kasih abadMu; jiwa kami penuhi dengan ApiMu ... REFF....

PEMBERITAAN FIRMAN ALLAH

REFLEKSI PASKAH
DRAMA BAHAGIAN I

AKU TAK SANGGUP LAGI

Narator I    :  Drama ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Pulau Ambon, di pesisir pantai Airlouw (Nusaniwe). Desa ini berhadapan dengan laut bebas, di mana perubahan musim sangat mempengaruhi mata pencaharian. Sebahagian besar penduduknya berprofesi nelayan. Pekerjaannya sehari-hari menangkap ikan di laut lepas.
Narator II   :  Di tepian pantai, dekat “Pintu Kota” yang memisahkan Desa Airlouw dan Desa Seri, di situ tinggal sebuah keluarga Antonius dan Mariana serta kedua anaknya, perempuan sulung (Lea) dan laki-laki bungsu (David). Juga Melkianus, adik Mariana. Kehidupan mereka sangat tergantung pada hasil tangkapan ikan. Jika laut tenang, Antonius dapat membawa pulang banyak tangkapan; akan tetapi bila badai dan gelombang laut mengamuk, keadaan ekonomi keluarga amat memprihatinkan.

Suatu hari suami-isteri itu duduk bercanda :

Mariana         : “Papa, katong pung uang su abis.... seng ada baras lai par mamasa makanan anak-anak...” 
Antonius       :        “Ouuww... beta pi ka kabong cari kasbi dolo. Nanti mama rebus par makan malam jua, ... tau kan... laut masih ganas kio... apalagi su dekat hari bae bagini, jang sampe katong dapa susa e...” Mariana tersenyum kecut...
Melkianus    :  “Usi e... inga-inga jua, su mau dekat hari Paskah to... jang sampe katong cilaka. Biar hidup kurang-kurang, yang penting katong samua salamat kio, usi e...” timpa adiknya, Melkianus.
Mariana         :        “Abis mo biking bagemana lai... ana dua kacil itu manangis minta susu, beta seng pung uang par bali, Anton e ...! Sapa pung hati seng susa lia ana-ana pung aermata ? Minyak lampu jua su karing..., sabong mandi su abis... su seng ada apa – apa lai di dapor Anton e... la beta mo cari uang di mana ni.... !!!”
Lea                  :  “Mamaaaaa..... mamaaa.... Lea haus, Ma...” Mariana memberikan segelas air putih, tapi Lea makin meronta... “Minta teh susu Ma..., Lea ndak mau air putih....” sambil kebingungan sang ibu menjawab
Mariana         :        “Sabar ya nak !... Esok papa akan menangkap ikan... kita akan menjualnya, udah itu Mama membelikan susu untuk Lea dan ade David...” Mariana mencoba membujuk anaknya.

BAHAGIAN II
Narator I       :  Antonius mengajak iparnya, Melkianus, menuju pantai. Setibanya di sana keduanya merasakan tiupan angin sangat kencang. Deburan ombak memecah keheningan malam. Gerimis membasahi pasir putih di pantai Pintu Kota. Antonius menyapa iparnya lembut :
Antonius       :  “Melky e... beso pagi pagi katong dua pigi tangkap ikang e...”
Melkianus    :        “Kaka e... galombang talalu basar deng angin masih kancang ka apa ? Ati-ati jua, jang sampe katong cilaka di tenga laut, kio kaka e !”
Antonius       :  “Suda jua... jang bicra banya lai... sabantar malam siapkan alat-alat parau, lalu eso pagi pagi katong dua ka laut e...”

                            Wajah Melky kecut... ia bukan takut melaut, tetapi cuaca masih belum begitu baik. Ada ketakutan kecil di hatinya.

Melkanus     :        “Kaka e... pikir bae bae jua... beta Cuma kasi inga, jang sampe katong cilaka kio.... !!!!”
Antonius       :  “Diam... ! seng usa malawang... Biking samua yang beta su bilang... besok pagi katong barangkat, bae atau tidak bae cuacanya....”

BAHAGIAN III

Narator II      :  Sesudah beberapa jam di pantai, kedua orang itu kembali ke rumahnya. ...
                            Pelita kecil itu masih bercahaya, sesekali sinarnya meredup ditiup angin laut. Kedua buah hatinya sudah terlelap, sementara Mariana, isterinya, tertidur di bale-bale. Sementara Melkianus ke gudang kecil menyiapkan perlengkapan melaut; Antoniius bercakap dengan isterinya :
Antonius       :  “Mama..., tolong siapkan bekal, ya... esok subuh kami akan melaut... !” tutur Antonius
Mariana         :        “Iya, pa... ! Mudah mudahan papa diberkati Tuhan, lalu pulang membawa banyak ikan tangkapan...”

BAHAGIAN IV

Narator I       :  Antonius tersenyum menatap isterinya. Hatinya miris ! Lelaki itu melangkah masuk ke kamar dan berbaring sambil memeluk kedua anaknya.
Narator II         Subuh ... ketika orang masih tertidur lelap, Antonius bersama adik iparnya diantar oleh Mariana ke pantai. Tampaknya lautan tenang...., namun mendung menutupi bahagian barat kaki langit. Kedua laki-laki itu mendorong perahu ke bibir pantai, lalu menghilang ditelan gelap. Mariana melenggang kembali ke gubuknya.

Narator I          Beberapa jam kemudian mendung hitam pekat menutupi wajah langit. Halilintar dan guruh sambung menyambung. Sesaat kemudian hujan lebat mengguyur bumi. Dari jendela rumahnya, Mariana menatap ke laut lepas. Ombak gelombang berbuih putih menghantam bibir pantai. Nyalinya ciut. Kekuatiran meliputinya. Wajah Mariana pucat pasi. Terbayang olehnya wajah kusut Antonius, suaminya tercinta. Perasaan Mariana semakin galau.... ia terduduk lemas di bale-bale depan pintu rumahnya. Mulutnya komat kamit. Mariana sedang berdoa... (keyboard mengalunkan kidung DI TENGAH OMBAK... lembut mendayu)
Narator II      :  Tiba-tiba...
                            Bunyi guruh mengglegar memecahkan kesunyian... berbareng suara lelaki meratap meraung-raung kesedihan....

Melkianus    :  “Kaka e e e e e... sioooooo.... Tong Alla e e e ... kasiang lawang kaka e e e...
Mariana         :        “Oe... ade... !!! Diam dolo... jang manangis ade ... ada apa lai ? Kanapa ade su pulang ?....
Melkianus    :  “Usi Ana e... katong pung parau tenggelam... bung Anton ilang sampe sakarang..., orang binungku tolong beta, sio usi e e e e e...” Melkianus semakin meraung perih.
Mariana         :        “Tong Alla e e e.... mangapa samua harus beta tarima sio Tuhan e e ....” Mariana mendekap kedua anaknya sambil menangis ... “anak-anak masih kacil... seng ada dorang pung Bapa lai... sio Tuhang e e e... Sio Tuhan eee... beta rasa saki lawang..., katong pung hidup su susah..., sakarang makin susah lawang Tetemanis e e e.....”    
Lea                  :  “Mama... ma... mama... mengapa Mama nagis Ma ?” Anak perempuan itu kelihata menggigil... Ia ketakutan melihat ibunya meraung-raung... “Mama, jangan menangis, Ma !”

PROSESI LITURG II

Diak. 1     :  Apakah TUHAN membiarkan umatNya sengsara ?
                      Apakah TUHAN tidak memperhatikan derita orang percaya ?
Jemaat    :     Setiap hari kami berhadapan dengan kepahitan hidup...
                         Setiap saat kami berjuang mempertahankan diri...
                         Rasanya..., TUHAN tidak melihat derita !
                         Kadang kami merasa, TUHAN tidak mendengar doa !
Pel.Fir     :  TUHAN tidak berjanji memberikan kenikmatan hidup,
                      tetapi yang dijanjikanNya : “AKU MENYERTAI ENGKAU SAMPAI AKHIR ZAMAN” (Math. 28:20b).
                     
                      TUHAN tidak berjanji perjalananmu akan menyenangkan, tetapi yang dijanjikanNya : “AKU AKAN BERPERANG UNTUK KAMU, DAN KAMU TINGGAL DIAM SAJA” (Kel. 14:14).

                      Kristus yang menang dari maut bertanya kepada saudara : “DIMANAKAH KEPERCAYAANMU ?” Oleh karena itu, saudara harus menjawab pertanyaan tersebut menurut pengakuan iman masing-masing pribadi.

REFLEKSI PASKAH
DRAMA BAHAGIAN II

                      Sambil Mariana menangis memeluk kedua anaknya, SOLOIS menyanyikan Lagu : “DOA” (Eddy Silitonga) ... diiringi keyboard : “AKU TAK SANGGUP LAGI MENERIMA DERITA INI, AKU TAK SANGGUP LAGI, MENERIMA SEMUANYA
Ibu 1           :  (sikapnya agak sinis) “Tuhang e ... lia Mariana tu... Dia mau manangis for apa ? Dia yang paksa Anton pigi mencari ikang... sakarang dia rasa, bagemana hidup tanpa suami...
Ibu 2           :     Oe... Welly e... jang ale lancang bagitu lai sodara... Mariana su susah, mar ale menghina tarus... Jaga mulu sadiki... bagemana kalo ale yang mengalami....
Ibu 3           :  Sssssssttttttttttt....... diam.... dengar tu... ada orang bataria... tabaos basar – basar.... ada apa tu e ... ?

Marinyo    :  (pukul tipa sambil berteruak) ....... Rakyat Negeri..... Mari  bakumpul samua... Orang su bawa Anton pung mayat ni e ..... (peti diusung oleh Kaum Bapak sampai ke depan mimbar)

NYANYIAN JEMAAT

INGINKAH KAU IKUT YESUS
KID. JEM.397 : 3 – 4

1.   Inginkah kau ikut Yesus, pikul salib. Jangan bimbang, jangan ragu ikut Tabib.

PIKULLAH SALIBMU SAJA IKUT TERUS, LIHATLAH MAHKOTA RAJA AGUNG KUDUS.

2.    Haruslah kausankal diri, pikul salib. Di godaan dunia ini, ikut Tabib....

3.   Apapun kesusahanmu, jangan lemah. Tuhan Yesus besertamu, ikut tetap....

Jemaat    :  Wahai pemberita !
                      Ucapkanlah berita,.... sampaikanlah pesan dari langit...  Adakah Pemilik Langit membisikkan sesuatu padamu ? Tuturkanlah, wahai pemberita agung ! Tuturkan berita, bukalah siratan makna, agar kami mengerti makna semua cerita !
Pel.Fir     :     Dengarlah ! Bukalah telinga dan camkanlah berita ! TUHAN itu Allah kita. Dia Allah nenekmoyangmu, Dialah Bapa bagi kita ( Pengajaran I -> hanya 5 menit ).

Diak. 1     :  Wahai Pemberita Agung !
                      Katakanlah jujur, apa makna kematian & kebangkitan ? Bisakah Allah yang hidup itu mengalami kematian jasmani ?
Pel.Fir  :  Bukalah mata hatimu dan pahamilah kata-kata hikmat yang diberitakan Sang Pen-cipta, Juruselamat dan Allah kita ! ( Pengajaran II -> hanya 5 menit. Pemberita berdiri di samping janda dan anak-anaknya, dekat dengan peti jenazah, menyampaikan berita MAKNA KEBANGKITAN KRISTUS bagi orang percaya yang berjalan menuju masa depan. Mariana dan kedua anaknya berdiri di samping peti jenasah sambil menangis. Kemudian Pendeta - Penatua - Diaken mendekatinya dan memberikan penghiburan).
NYANYIAN UMAT

ANAK ALLAH YESUS NAMANYA

Anak Allah, Yesus namanya, menyembuhkan, menghidupkan. Dia t’lah mati ganti dosaku, hidup  baru berarti s’bab Yesus hidup.

S’bab Dia hidup ada hari esok, s’bab Yesus Hidup, ‘ku tak gentar. Ka’na ‘ku tahu Dia pegang hari esok. Hidup jadi berarti s’bab Yesus bangkit.

  Sambil nyanyian tersebut dilagukan, seluruh Presbiter dan Warga Jemaat berjalan menuju KOTAK PERSEMBAHAN untuk memberikan PERSEMBAHAN KHUSUS bagi PEMBANGUNAN GEDUNG GEREJA “PETRA’ DI BOGOR

PENGAKUAN KRISTEN

Pel. Fir    :  Marilah kita berdiri dan menyatakan Pengakuan Iman kepada Trinitas Mahakudus. Mari kita berikrar :

VOCAL  GROUP / PS

Jemaat    :  Wahai Gembala Umat !
                      panjatkan doamu kepada Tuhan....
                      ceritakan keadaan kami di Bogor,
                      ‘gar Dia selalu memelihara kami
                      selalu memberkati kehidupan kami, umatNya
Pel. Fir    :        Marilah kita datang kepada Allah, Bapa surgawi,
                            seraya menaikkan permohonan kepadaNya.
                            Marilah kita berdoa :  Ya Allah, .....

JAWABAN UMAT
YANG MELAYANI TUHAN

UCAPAN SYUKUR UMAT

Diak. 3     : “Marilah kita memberi persembahan syukur kepada Allah untuk mendukung pekerjaanNya yang dilakukan Gereja, sambil mengingat pesan Alkitab : “Janganlah seseorang pergi menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu (UL. 16:16-17). Kolektan akan dijalankan oleh Majelis Jemaat.

DIKAU YANG BANGKIT, MAHAMULIA
KID. JEM. 104 : 1 – 2

1.     Dikau yang bangkit Mahamulia, Dikaulah abadi jaya dan megah ! Turun malak sorga pulih cemerlang.

DIKAU YANG BANGKIT MAHAMULIA ! DIKAULAH
ABADI JAYA DAN MEGAH

2.    Lihatlah Dia, Yesus Tuhanmu ! Dialah Yesus yakinlah teguh. Mari, umat Tuhan, bergembiralah ! Bertekun maklumkan kemenanganNya.

Kantong Persembahan diedarkan oleh
Majelis Jemaat

Diak. 3     :  Marilah kita berdiri, sambil menyanyikan ayat 3 dari nyanyian yang sama

DIKAU YANG BANGKIT, MAHAMULIA
KID. JEM. 104 : 3

3.    Tuhanku hidup, takutpun lenyap. Dia Junjunganku, da-maiku tetap. Yesuslah kuatku, kemenanganku. Yesuslah hiduppku, kemuliaanku.... REFF. ...

DIKAU YANG BANGKIT MAHAMULIA ! DIKAULAH
ABADI JAYA DAN MEGAH

DOA PERSEMBAHAN

Diak. 3     :  Marilah kita menyerahkan persembahan ini kepada Allah serta memohonkan berkatNya atas kehidupan kita. Marilah berdoa : KeadilanMu telah dinyatakan melalui peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang selalu kami ingatrayakan. Dan melalui Paskah Kristus Yesus, Engkau menghadiahkan harta surgawi yang membuat semua ciptaan bersukacita. Semua itu menyatakan kebaikan hatiMu, ya Bapa Mahakudus.

Jemaat    :  Kami mengakui, bahwa persembahan uang yang diberikan tak sebanding dengan anugerah yang telah Kaukaruniakan, serta tak dapat disejajarkan dengan kebaikanMu.

                      Akan tetapi pemberian kami ini hanyalah pernyataan cinta kepadaMu. Kiranya Engkau berkenan atasnya, ya Allah. Pakailah, ya Tuhan, untuk membangun kerajaanMu di bumi, agar seluruh ciptaan menikmati damai sejahtera yang datang dari padaMu di dalam kelahiran Yesus. Amin (disusun oleh  Arie A. R. Ihalauw)

JEMAAT DUDUK

PEMBERKATAN  &  PENGUTUSAN

WARTA JEMAAT

Pent. 3 :  Majelis Jemaat mengharapkan saudara-saudara dapat bersabar untuk mendengarkan Warta Aktifitas Pelayanan selama sepekan : 24 – 31 April 2014 mendatang.

=> pembacaan Warta Jemaat => sesudah dibaca =>

                Sungguh,... kehadiran saudara-saudara untuk mengikuti Ibadah Minggu 31 April 2014 mendatang merupakan sebuah kehormatan bagi kami. Dan Majelis Jemaat berdoa, kiranya Tuhan Yesus yang bangkit dan menang senantiasa memberikan rachmat kebaikanNya ke dalam keluarga Bapak / Ibu / Sdr – sdri.

PENGUTUSAN

Pel. Fir.   :  Yesus Kristus yang bangkit dan menang berpesan kepada saudara : “Beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (MARK. 16 : 15). Oleh karena itu, lakukanlah pesanNya, sambil menantikan pernyataan akan kemuliaan Kristus yang akan datang.

        Diberikan kesempatan kepada saudara untuk menyalami tetangga duduk, sambil mengatakan : “Damai sejahtera di dalam TUHAN”

TIAP LANGKAHKU DIATUR OLEH TUHAN

1.    Tiap langkahku diatur oleh Tuhan, dan tangan kasihNya memimpinku. Di tengah glombang dunia menakutkan, hatiku tetap tenang teguh.
TIAP LANGKAHKU, KUTA’U YANG TUHAN PIMPIM; KE TEMPAT TINGGI ‘KU DIHANTARNYA, HINGGA SEKALI NANTI AKU TIBA DI RUMAH BAPA SORGA YANG BAKA.

2.    Di dalam TUHAN saja harapanku, sebab di tanganNya sejahtera. Dipegangnya kunci Kota Allahku, negeri perjanjian mulia.

PEMBERKATAN
Pel. Fir.   :  (Ucapan Pendeta sebelum penumpangan tangan atas persekutuan jemaat)

             Atas nama TUHAN, yang telah memanggil, mengurapi dan menetapkan kami selaku pelayan firman berdasarkan otoritas Kristus. Kami diutus Allah untuk menyampaikan berkatNya bagi kamu sekalian. Terimalah berkat Allah :

TUHAN   memberkati dan menyertai engkau...
TUHAN   menyinari engkau dengan wajahNya serta
                   memberi engkau kasih-karunia.
TUHAN   menghadapkan wajahNya kepadamu dan
                   memberi engkau damai-sejahtera !
                  
Jemaat    : AMIN – AMIN – AMIN (dinyanyikan)

-----ooo00ooo-----


Ariha - arsip