Kamis, 24 Januari 2013

MEMBUKA SIMBOL MENEMUKAN MAKNA tentang ULAR dalam Kitab Kejasian

Pembelajaran Ke - 3

MEMBUKA SIMBOL MENEMUKAN MAKNA tentang ULAR (Ibr. נָּחָשׁ֙; Ingg. Serpent)

Sepatutnya menelaah Alkitab, kita tidak terlalu tergesa-gesa menyatakan sesuatu itu bersifat positif atau negatif, hitam atau putih berdasarkan rekayasa iman. Bacalah Alkitab secara jujur, sebagaimana yang tertulis dalam naskahnya. Sebab jika kita menyimak naskah Alkitab oleh sejumlah konsep yang sudah dibentuk menurut paham yang kita anut (fundamentalisme, liberalisme, arianisme, pelagianisme, nestorianisme, lutheranisme, calvinisme, dll), maka 'kerugma' (inti berita) yang akan disampaikan telah dikhamiri oleh paham yang kita pegang; dan, dengan demikian tidak memberikan kesempatan kepada Alkitab (masing masing penulis kitab) untuk berbicara. Ini suatu sikap kurang arif.

Katakanlah contoh : ULAR dalam Alkitab. Banyak orang berpendapat bahwa 'ular' adalah hewan yang jahat. Ia selalu digunakan sebagai 'simbol' atau 'lambang' untuk menggambarkan Iblis / Setan (bd. Kej. 3:1), meski dalam ayat yang dimaksudkan tidak menegaskan, bahwa ular (Ibr. נָּחָשׁ֙ bc. nachas -> kasus tunggal) adalah sama dengan Iblis / Setan.

Untuk itu kita berhati-hati, supaya tidak muncul kontradiksi luas yang muncul dari pentafsiran (EX-egese), lebih baik dikatakan pentaksiran (EIS-egese).

ULAR (Ibr. נָּחָשׁ֙ bc. nachas -> kasus tunggal)

Kasus 1.

Kejadian 3 : 1 diceritakan, bahwa "ular (Ibr. נָּחָשׁ֙; bd. nachas -> kasus tunggal) ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah." Dan oleh kecerdikannya, ular dianggap hewan berbahaya, juga sebagai penggoda karena lidangnya bercabang.

Kasus 2.

Dalam Bilangan 21 : 6 - 9 diceritakan, bahwa "menyuruh ular-ular (Ibr. נְּחָשִׁ֣ים; bc. nachasim -> kasus jamak) tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: "Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini (Ibr. הַנָּחָ֑שׁ bc. ha-nachas) dari pada kami." Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung (Ibr. -> לְךָ֙ שָׂרָ֔ף bc. laka sarap -> kasus tunggal; artinya "sesuatu yang berapi-api, yang membakar seperti api, yang bernyala seperti api") taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup." Lalu Musa membuat ular tembaga (Ibr. נְחַשׁ נְחֹ֔שֶׁת bc. nachas nahoset) pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup."

Kasus ke - 2 ini menceritakan, bahwa peristiwa Allah "menyuruh ular-ular" untuk memagut Israel di padan Gunung Hor di wilayah Edom, karena mereka berhati jahat.

KERANCUAN BERPIKIR DALAM APLIKASI KHOTBAH

Catatan :

Apabila kita memberitakan Firman Allah, selayaknya, tak perlu menggeneralisasikan sebuah kata Bahasa Indonesia, di mana kita tidak mengetahui bahasa aslinya (Ibrani, Yunani). Sebab kita akan membuat kesalahan interpretasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman terhadap naskah Alkitab, seakan terdapat ayat-ayat yang bertentangan. Padahal pertentangan itu dikarenakan hasil tafsiran yang kurang afdol.

MAKNA SYMBOL DALAM PEMBERITAAN FIRMAN ALLAH

Berbeda dari kasus Kejadian 3:1, dalam Bilangan 21 : 6 - 9, justru TUHAN Allah menyuruh "ular-ular tedung" (Cobra atau King Cobra) untuk memagut umat yang berhati jahat. Gambaran ini bertentangan maknanya dengan kebiasaan menafsir yang menegaskan, bahwa ular itu hewan jahat, atau simbol Iblis / Setan. Perbandingan ini dapat dikatakan demikian : SEJAHAT-JAHATNYA SEEKOR ULAR LEBIH JAHAT / LICIK LAGI HATI MANUSIA. Akibat dari kelicikan / kejahatan hati dan pikiran manusia, maka TUHAN Allah menghukumnya.

Hukuman itu tak akan dilaksanakan, jikalau manusia "memandang kepada ular tembaga yang diciptakan Musa.

HUBUNGAN CERITA SIMBOL INI DENGAN TEOLOGI PERJANJIAN BARU

Simbol adalah bahasa lambang. Ia dapat ditafsirkan ke dalam berbagai ungkapan. Hal ini dilakukan para teolog Perjanjian Baru seperti Yohanes Sang Penginjil (3:14-15 => "Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal"), juga Paulus Sang Rasul (I Kor. 10:9 => "Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular").

MEMBACA KASUS ULAR DALAM TRADISI PERJANJIAN BARU

a). Rasul Paulus menggunakan cerita simbol itu sebagaimana apa adanya, sama persis dengan narasi Israel di Gunung Hor dalam wilayah Edom. Mereka bersungut-sungut, dan akhirnya TUHAN Allah menyuruh ular-ular tedung memagut, sebuah gambaran realistis dari penghukuman Allah atas dosa manusia (HATI YANG SUKA BERSUNGUT).

b). Rasul Yohanes menggunakan ular tembaga dari narasi Israel di Gunung Hor sebagai SIMBOL yang menceritakan PENYALIBAN KRISTUS DAN KESELAMATAN. Kata Yesus, menurut Yohanes, "demikian juga ANAK MANUSIA harus ditinggikan, supaya setiap ORANG YANG PERCAYA kepada-Nya beroleh HIDUP KEKAL."

MAKNA SIMBOL DALAM BERITA INJIL KRISTUS

a). Jika kita yang telah diselamatkan tidak mengubah cara hidup : suka bersungut-sungut karena alasan sepele, tidak mau bersyukur atas berkat Allah; maka TUHAN akan menghukum, bagaikan Israel di Gunung Hor (Teologi Paulus dalam Surat Korintus).

b). Satu-satunya JALAN hanyalah PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS yang ditinggikan Allah di Golgota. Dari sanalah sumber kehidupan mengalir. Namun, jika menolak atau meragukannya, kita akan menghadapi bahaya yang mengancam kehidupan pribadi dan keluarga (Teologi Yohanes). Jadi JALAN satu satunya untuk keluar dari hukuman, karena hati yang bersungut-sungut adalah BERIMAN KEPDA YESUS KRISTUS....

Catatan : BERHATI HATILAH DALAM MENAFSIR, JIKA SALAH MENYAMPAIKAN BERITA, MAKA TERSESATLAH PIKIRAN UMAT !

Silahkan mendiskusikannya bersama teman atau anggota keluarga !

Medan - Hari Rabu, 23 Jabuari 2013.

Salam hormat & doaku

PENULIS

Seri V - ESKATOLOGI DALAM PERJANJIAN LAMA - Kitab Nabi NAHUM & Kitab Nabi YEREMIA


KONSEP ESKATOLOGI DALAM PERJANJIAN LAMA

V
Dalam KITAB NAHUM & KITAB YEREMIA



A.  NAHUM

Nahum menuliskan lirik LAGU KEMENANGAN karena keruntuhan Kota Niniwe (612 sb.M). Nyanyian atau Mazmur ini kurang lengkap. Meskipun demikian nabi berusaha menggambarkan kehancuran alam semesta pada Hari Tuhan.

B.   JEREMIAH

Kitab Nabi Yeremia menguraikan konsep teologi sang nabi tentang “eskatologi” dalam bentuk prosa lirik (pidato yang diselingi puisi). Yeremia menubuatkan penghukuman Kerajaan Yehuda dan Ibukotanya : Yerusalem, karena umatnya tidak mau berbalik dari dosanya (Yer. 7 : 3 - 10 => “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel : Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini.. Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi : Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN, melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing, tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain, yang menjadi kemalanganmu sendiri, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya. Tetapi sesungguhnya, kamu percaya kepada perkataan dusta yang tidak memberi faedah. Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal, kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini !”). Pemimpin dan rakyat rajin berbuat jahat. Mereka suka menyembah berhala. Oleh karena itu, Allah menghakimi dan menghukum umatNya. Yeremia menubuatkan konsep eskatologi yang konkrit, lahir dari kesadarannya setelah menggumuli katakter bangsa yang jahat / fasik kepada Allah dan sesama. Enambelas dari pidatonya dimulai dengan frasa “hinneh yamim baʾim” (“Perhatikanlah !, hari itu akan datang”... 7:32; 9:24; 16:14; 19:6;dll), di mana nabi mendudukan secara hurufiah makna kata “pada hari hari terakhir” terkait serangan penaklukan yang dilakukan oleh nebukadnezar dari imperium Babilonia (cf. 15:1–4; 34:8–22; 37:3–10; dll).

Meskipun situasi politik keamanan internasional tidak begitu baik bagi Yehuda – Yeruralem, nabi Yeremia tetap percaya, bahwa TUHAN Allah akan mengasihani sisa-sisa Israel yang bertahan setelah penghancuran Kota Suci Yerusalem oleh penguasa Babilonia (32:-1-5). Pemuka pemerintahan sipin dan agama diboyong ke Babel tahun 587 sbM (24:1-10). Tetapi Ia juga masih berharap TUHAN akan memulihkan kembali Kerajaan Israel Utara, setelah mereka mengakui kesalahannya (3:11-18); dan, akhirnya kerajaan itu sungguh-sungguh dibaharui dan dipulihkan setelah Allah membebaskan umatNya dari pembuangan di Babilonia.

Sama seperti Yesaya dan Mikha, Nabi Yeremia menubuatkan kelangsungan Dinasti daud sebagai pemimpin ideal bagi masa depan umat (23:5-6 => Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN--keadilan kita). Nabi Yeremia memnamai nama pemimpin ideal itu : YHWH tzideqenu (Ibr. יהוה צִדְקֵנוּ). Nabi itu terinspirasi oleh nubuat Hosea (2:20-22 => “Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mendengarkan langit, dan langit akan mendengarkan bumi. Bumi akan mendengarkan gandum, anggur dan minyak, dan mereka ini akan mendengarkan Yizreel. Aku akan menaburkan dia bagi-Ku di bumi, dan akan menyayangi Lo-Ruhama, dan Aku berkata kepada Lo-Ami: Umat-Ku engkau! dan ia akan berkata: Allahku !"). Mungkin kata  itu YHWH tzideqenu (Ibr. יהוה צִדְקֵנוּ) merupakan makna terbalik dari nama Raja Yehuda yang jahat : Zedekiah (Heb. צִדְקִיָּהוּ).

Pada akhirnya Nabi Yeremia menyampaikan konsepnya tentang tindakan eskatologis dari Allah, ketika Dia membaharui perjanjian yang dahulu diberikanNya kepada para leluhur sampai ke dalam zaman Musa di Sinai (sinaitic convenant). TUHAN, Allah Israel, akan bekerja memulihkan dan membaharui Israel, dimulai dari perubahan hatinya; HATI YANG BARI, HATI YANG ROHANI YANG TAAT SETIA kepada Allah (Yer. 31:31-34)

Medan – Jumat, 25 Januari 2013

SALAM HORMAT DAN DOAKU

Penulis

Seri IV - ESKATOLOGI DALAM PERJANJIAN LAMA - Kitab Nabi Mikha & Kitab nabi Zefanya


KONSEP ESKATOLOGI DALAM PERJANJIAN LAMA

IV
MIKHA & ZEFANYA

Mikha adalah penduduk asli Moreshet. Sebuah kota kecil yang terletak dalam wilayah Yehuda. Ia menjalankan tugas kenabiannya berdekatan waktu dengan Yesaya-Yerusalem [saya menggunakan sebutan Yesaya-Yerusalem untuk menunjuk pada aktifitas Yesaya, sang nabi, yang nubuatnya tertulis pada pasal 1 – 39, serta untuk membedakannya dari Deurero-Yesaya (40-55) dan Trito-Yesaya (56-66)]. Masa kerjanya terlalu singkat.

NUBUAT ESKATOLOGIS DALAM KITAB MIKHA

1). Tentang RAJA YANG DIURAPI TUHAN (Messiah)

Sama seperti Yesaya, ia bernubuat tentang masa depan umat Allah dalam sebuah konsep eskatologi, yang terkait dengan Raja Yang Diharapkan (landasan bagi Pemerintahan Sang Mesiah). Menurut Mikha, sama seperti juga seluruh umat Israel, Raja Mesiah itu berasal dari dinasti Daud, yang lahir di Kota Daud, Beth-lechem (Mik. 5 : 1 – 3 => “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel. Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi”,...)

2).  Tentang ZION sebagai GUNUNG TEMPAT ALLAH MENJALANKAN PEMERINTAHAN

Mikha menubuatkan, bahwa Gunung Zion, sungguh-sungguh, akan menjadi pusat ibadah (keagamaan) bagi seluruh umat manusia. Gagasan Mikha ini menjadi topik teologi yang dikembangkan Agama Israel / Yahudi di kemudian hari. Ucapan Mikha ini:

Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir : gunung rumah TUHAN akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem." Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut TUHAN semesta alam yang mengatakannya” (4 : 1 – 4).

hampir identik dengan yang diberitakan oleh Nabi Yesaya-Yeerusalem :

Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata : "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem." Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang” (2 : 2 – 4).

Banyak pakar Perjanjian Lama berpendepat, bahwa narasi (Mik. 4:1-4; Yes. 2:2-4) bukan berasal dari sumber Mikha maupun Yesaya-Yerusalem. Nubuat-nubuat itu ditambahkan oleh editor / redaksi kedua kitab tersebut kemudian hari.  Kemungkinan ia berasal dari sumber-sumber umum yang sudah tersebar dalam masyarakat (Lay Source). Lebih menarik lagi, jika kita membaca Kitab Yoel, di mana nabi menggambarkan eskatologi dalam gambaran perang ilahi antara TUHAN melawan musuh-musuhNya.

NUBUAT ESKATOLOGIS DALAM KITAB ZEPHANIAH

Zefanya menyampaikan nubuatnya sekitar tahun 604 – 603 sb. Masehi., pada awal pemerinthan Yosia bin Amon -- Raja Yehuda --  di Yerusalem. Pada saat itu masyarakat Yehuda sedang masyuk menjalankan penyembahan berhala dan orang-orang fasik dalam umat Yehuda masih sangat banyak. Secara politis Yehuda mengalami sedikit kebebasan, dikarenakan imeripun Asiria sedang mengalami kemunduran. Keadaan inilah yang dimaksudkan oleh Nabi Zefanya : Sudah dekat hari TUHAN yang hebat itu, sudah dekat dan datang dengan cepat sekali !” (1 : 14).

Gambaran tentang kedahsyatan “hari” (bc. Hari TUHAN) dari nabi amat banyak mempengaruhi tulisan-tulisan teologi Agama Israel / Yahudi. Allah menghancurkan orang-orang jahat / fasik (dimaksudkan Zefanya : “musuh-musuh TUHAN”).

Hari kegemasan hari itu, hari kesusahan dan kesulitan, hari kemusnahan dan pemusnahan, hari kegelapan dan kesuraman, hari berawan dan kelam, hari peniupan sangkakala dan pekik tempur terhadap kota-kota yang berkubu dan terhadap menara penjuru yang tinggi. Aku akan menyusahkan manusia, sehingga mereka berjalan seperti orang buta, sebab mereka telah berdosa kepada TUHAN. Darah mereka akan tercurah seperti debu dan usus mereka seperti tahi. Mereka tidak dapat diselamatkan oleh perak atau emas mereka pada hari kegemasan TUHAN, dan seluruh bumi akan dimakan habis oleh api cemburu-Nya; sebab kebinasaan, malah kebinasaan dahsyat diadakan-Nya terhadap segenap penduduk bumi.

SALAM HORMAT DAN DOA

PENULIS



Seri III - ESKATOLOGI DALAM PERJANJIAN LAMA - Kitab Nabi Yesaya


ESKATOLOGI DALAM PERJANJIAN LAMA

III
KITAB NABI YESAYA

Pada paruhan Abad VII sb.M, dua nabi : YESAYA dan MIKHA aktif bekerja di Kerajaan Yehuda. Beberapa nubuatannya menunjuk pada peristiwa eskatologi. Kesejajaran makna eskatologi yang sama ditemukan juga dalam Kitab Zefanya, Nahum dan Yeremia. Ketiga nabi ini bekerja seabad kemudian.

A.  MERINGKAS KITAB NABI.

Yesaya mulai aktif bekerja sebagai nabi kira-kira tahun 740 – 701 sb.M. Dari 66 pasal yang tertera dalam Kitab Yesaya, diperkirakan hanya 39 pasal yang berhubungan langsung dengan nabi (Bahagian ini disebut “Proto-Yesaya”). Ada bahagian yang menubuatkan peristiwa eskatologi yang  jauh lebih tua dari pada masa kerja nabi ( seperti “Nubuat Yesaya tentang Akhir Zaman” 24:1–27:13). Bahagian ini ditambahkan kemudian hari oleh redaktor kitab Yesaya. Pasal 40 : 1 – 55 : 13 dikelompokkan ke dalam Kitab Yesaya II, disebut juga “Deutero-Yesaya”; dan Pasal 56 : 1 – 66 : 24 disebut Kitab Yesaya III atau “Trito-Yesaya.”  Para pakar biblika menyimpulkan, bahwa nubuatan yang terdapat dalam “Trito-Yesaya” diperkirakan berasal dari Nabi Yesaya atau murid-nuridnya.

B.  MERINGKAS BIOGRAPI

Yesaya hidup pada masa Kerajaan Yehuda sedang mengalami krisis nasonal.  Tiglath Pilezer III (thn 745 – 727 sb.M) menyerang Siria dan banyak kota di Kerajaan Israel Utara. Di bawah pemerintahan Salmanezer V (thn 727 – 722 sb.M) dan Sargon (th. 735 – 715 sb.M) menjadikan Israel sebagai wilayah taklukan, juga sebagian wilayah Palestina. Raja Ahaz (th. 735 – 715 sb.M), bahkan Raja Yehuda : Hizkia (th. 715-687 sb.M) menjadi bulan-bulan penguasa itu.

1).   Nubuat Eskatologis berhubungan dengan “Sisa-sisa Israel”.

Yesaya menceritakan panggilan dan pengudusannya menjadi nabi (6:1-13) untuk ditugaskan membasmi penyembahan berhala dan kejahatan sosial Israel dan Yehuda. Banyak kecaman nya terkait penghakiman dan penghukuman yang muncul dari gagasan tentang “Hari TUHAN.” Nubuatannya itu bukan saja ditujukan kepada Israel dan Yehuda melainkan juga ke bangsa-bangsa non-israeli. Hanya TUHAN saja yang ditinggikan pada hari itu (2:12,17). Katanya kepada Israel : “Engkau akan melihat kedatangan TUHAN semesta alam dalam guntur, gempa dan suara hebat, dalam puting beliung dan badai dan dalam nyala api yang memakan habis. Maka segala pasukan bangsa-bangsa yang berperang melawan Ariel, dan semua orang yang memerangi dia dan kubu pertahanannya dan orang-orang yang menyesakkan dia akan seperti mimpi dan seperti penglihatan malam-malam...” (29:6-7).

Berulang ulang tema eskatologis dinubuatkan Yesaya dalam kaitan dengan “sisa-sisa Israel” (10:21–22; 11:11,16; 14:30; 28:5; 37:32). Beberapa kecamannya sama seperti Amos 5 : 15 (bd. “hanya suatu sisa” dalam Yes. 10:12), tetapi sekaligus ada penghiburan diberikan kepada sisa-sisa umat Allah (bd. “Pada waktu itu Tuhan akan mengangkat pula tangan-Nya untuk menebus sisa-sisa umat-Nya=> Yes. 11:11 sejajar 4:3; 11:16; 28:5). Tidak ada alasan kuat untuk menolak ayat-ayat yang ditunjuk tersebut, dengan mengatakan bahwa ayat-ayat itu berasal dari nubuatan nabi-nabi periode eksilis maupun pos-eksilis, sebab disebutkan nama anak nabi sebagai simbol : Syear-Yashub (7:3) yang berarti : “suatu sisa akan kembali”.

2).   Nubuat Eskatologi terhubung pada Dinasti Raja Yehuda yang akan datang.

Nubuat ini biasanya disebut ‘pasal-pasal tentang Imanuel’ (termasuk 8:8). Immanuel artinya “Allah berserta kita” (hanya ditemukan dalam 7:14). Ketika Raja Ahaz dari Yerusalem diancam oleh koalisi Raja Israel bersama Raja Damaskus untuk melawan Asiria, Nabi Yesaya mendesaknya  untuk berpegang teguh kepada Allah. Ia berkata : “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong” (7:14,16). Pada saat nubuat ini disampaikan, Yesaya bertujuan menyebutkan kelahiran anak Ahaz, namanya ; Hizkia. Dialah yang dinamai “Immanuel, Allah berserta kita.

Mungkin saja nubuat tentang Immanuel itu  dihubungkan dengan pasal Yesaya 9 : 5 –6 : “Pele-Joez-El-Gibbor-Abi-Ad-Sar-Shalom” (Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa Kekal, Raja Damai). Bisa jadi, setelah menyanyikan pujian ini : “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel..., Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa Kekal, Raja Damai.” Dialah yang dinubuatkan dan dinantikan umat Israel.

Salam hormat dan doaku








Seri II - ESKATOLOGI DALAM PERJANJIAN LAMA - Kitab Nabi HOSEA


KONSEP ESKATOLOGI DALAM PERJANJIAN LAMA

II
KITA NABI HOSEA

B. ESKATOLOGI DALAM KITAB NABI HOSEA

Hosea bin Beeri adalah Nabi yang berasal dari Wilayah Kerajaan Israel Utara (1:1). Ia bekerja sejaman dengan Amos dari Tekoa (wilayah Selatan yang disebut Yehuda). Kemungkinan Hosea masih belia, ketika ia bernubuat sebelum kehancuran Kerajaan Israel Utara dan ibukotanya, Samaria (722 sb.M). Beberapa di antara nubuatannya dituliskan dalam masa kerja nabi. Sama seperti Amos, Nabi Hoseapun mengecam moral dan karakter Israel Utara yang jahat (Hos. 2:3-7, 16-25; 5:14; 10:14-15; 13:7-8, dll) yang bersifat sinkritis (2:16–23; 6:1–3; 11:8–9; 12:6; 14:2–9; dll)

Umumnya eskatologi dimengerti sebagai perubahan gagasan dari sebuah realitas sejarah sosial menjadi sesuatu yang berbeda di masa depan, Hosea tanpa ragu mempertahankan konsep asli eskatologi dalam sejarah Israel; seperti, konsep Hosea tentang pembaharuan kasih dan janji Allah. Hal itu direformulasikan kembali berdasarkan pengalaman Israel keluar dari Mesir (2:14–15; 11: 1).

Hosea menubuatkan pemulihan keadaan Israel, setelah Allah membaharui kondisi umat Israel, tidak berdasarkan perjanjian yang lama tetapi dalam sebuah perjanjian yang baru (2 : 21 – 22; bd. Yer. 31). UmatNya akan hidup dalam jaminan Allah, suatu keadaan penuh damai sejahtera bagi semua makhluk hidup.

Salam hormat dan doaku

Seri I => ESKATOLOGI dalam Perjanjian Lama : KITAB AMOS


I
KITAB NABI AMOS

Pertama, Kondisi sosial-politik-ekonomi-agama Israel. Masa kerja Amos diperkirakan tahun 750 sb. Masehi. Ia bekerja selama periode kemakmuran dan perdamaian dialami Israel Utara dan Yehuda, ketika Yerobeam II memerintah di Samaria (th. 786-746, sb M), termasuk juga perang saudara (II Rj. 14:25-27). Sepanjang masa kerjanya Ambos menyaksikan berbagai bentuk ketidak adilan sosial, di mana muncul orang kaya baru (pemilik lahan pertanian) dan pemerintahan sipil yang menindas orang-orang miskin. Juga penyembahan dewa-dewi budaya-agama-suku sekitanya.

Kedua, konsep tentang ‘hari TUHAN’. Israel berkeyakinan, bahwa TUHAN selalu akan menjamin kehidupan mereka. Dan ‘hari TUHAN’ (Ibr. Yom-YHWH) merupakan waktu penghukuman yang ditetapkan Allah atas bangsa-bangsa asing yang menindas Israel. Nabi Amos membalikkan keyakinan itu; oleh karena ia melihat nyata-nyata kejahatan sosial dan ritual yang dilakukan umat Israel (Amos 1:3, 6, 9, dll). Bukan saja bangsa-bangsa non-israeli yang dihukum Allah (1:3 – 2:3), tetapi juga Yehuda (Kerajaan Yerusalem) dan khususnya Israel Utara (2:4 – 6:14). Amos memberitakan penghukuman itu berlawanan dengan pemahaman iman Israel tentang eksistensi mereka selaku ‘umat pilihan Allah’ yang memiliki hak istimewa. Kata Amos : “"Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” (3:2).

Ketiga, untuk menunjuk pada waktu penghukuman dan penghakiman Allah di masa depan, Amoslah yang pertama-tama menggunakan istilah “hari TUHAN” (Ibr. yom-YHWH; Ing. Day of the Lord) --- sebuah konsep teologi yang sarat makna dan yang dikembangkan oleh nabi-nabi setelah Amos (Yes. 13:6, 9; Yeh. 13:5; Jo. 1:15; 2:1, 11; 3:4; 4:14; Ob. 15; Zep.. 1:7, 14; Mal. 3:23) dengan beberapa variasi “pada waktu itu” (Ibr. ha-yom ha-hu => Yes. 2:11; Zef. 1:15), “waktu itu” (Ibr. ha-yom => Mal. 3:19; bd. Yeh. 7:7). Meskipun istilah “hari TUHAN” itu digunakan pertama kali oleh Amos, akan tetapi ia sudah sangat terkenal digunakan masyarakat Israel (teori L = Layman sources). Keasliannya diuangkapkan ketika peperangan dimenangkan oleh pasukan tentara (bd. Yes. 9:3 => “Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian” menunjukkan waktu kemenangan Israel atas Midian). 

Keempat, Amos menentang keyakinan Israel mengenai Hari Tuhan. Dalam kasus ini, pada masa kerja Amos, masyarakat israel telah memakai istilah tersebut untuk menunjukkan, kapan Allah memberikan kemenangan sempurna kepada Israel dengan mengalahkan musuh Israel, kemudian menghidupkan “terang” perdamaian abadi serta melimpahkan kekayaan. 

Menyaksikan kejahatan Israel di bisang sosial dan agama, Amos mereformulasikan “hari TUHAN” mempertanyakan keyakinan iman Israel. Ia berkata : “Celakalah mereka yang menginginkan hari TUHAN ! Apakah gunanya hari TUHAN itu bagimu ? Hari itu kegelapan, bukan terang! Bukankah hari TUHAN itu kegelapan dan bukan terang, kelam kabut dan tidak bercahaya ?” (5 : 18, 20). Malahan lebih jauh diucapkan : "Pada hari itu akan terjadi," demikianlah firman Tuhan ALLAH, "Aku akan membuat matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah. Aku akan mengubah perayaan-perayaanmu menjadi perkabungan, dan segala nyanyianmu menjadi ratapan. Aku akan mengenakan kain kabung pada setiap pinggang dan menjadikan gundul setiap kepala. Aku akan membuatnya sebagai perkabungan karena kematian anak tunggal, sehingga akhirnya menjadi seperti hari yang pahit pedih" (8:9-10). Amos memakai peristiwa gerhana matahari untuk megambarkan gagasannya tentang ‘eskatologi’, sebagaimana juga dilakukan Nabi Yesaya : “Sungguh, hari TUHAN datang dengan kebengisan... Sebab bintang-bintang dan gugusan-gugusannya di langit tidak akan memancarkan cahayanya; matahari akan menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya” (13:9-10). Dan hal itu dipahami secara hurufiah, bahwa hari TUHAN itu datang bersama ancaman alam.

Keenam, jalan keluar yang diusulkan Amos. Kecaman Amos mengingatkan Israel, bahwa TUHAN akan bekerja menciptakan masa baru, setelah Dia menghancurkan orang fasik, baik dari bangsa-bangsa maupun dalam persekutuan umat pilihanNya. Sebuah konsep awal tentang pemulihan dan pembaharuan menurut Amos. Dikatakannya, jika Israel ingin selamat, maka mereka harus “mencari TUHAN” (5:4-6), supaya ‘Allah akan mengasihani sis-sisa keturunan Yusuf’ (5:14-15). Di sini pula kita membaca konsep awal tentang “sisa-sisa” Israel (Ibr. she’erit). Kata ini “she’erit” akan mengalami perkembangan di kemudian hari (Yer. 6:9; 31:7; Yeh. 9:8; dll; kadang muncul dalam bentuk sheʾar => Yes. 10:20–21; 11:11, 16; dll). Akan tetapi menurut Amos, hari TUHAN itu terhubung pada peristiwa penghancuran Kerajaan Israel Utara.

C.2. Makna Pemberitaan Amos bagi Umat Allah Masa kini

a). JANGAN BERPIKIR ALLAH MEMBELAMU, KARENA KAMU UMAT PILIHAN !

Banyak pengkhotbah menyesatkan umat melalui pengajarannya, seakan-akan orang kristen menerima hak istimewa sebagai anak TUHAN, tanpa bisa terlepas atau hilang. Hak istimewa itu akan dinikmati siapapun (orang kristen) yang menjalankan ibadahnya secara sempurna di dalam ritual keagamaan maupun pelayanan kemasyarakat, satu paket utuh ! Jika ia menjalankan ritual (liturgi) keagamaan tanpa kasih sayang dan perbuatan baik, maka ia akan dihukum bersama-sama orang fasik pada waktu TUHAN.

b). JALAN MENUJU SELAMAT

Menurut Nabi Amos, kalau kita (orang kristen) ingin masuk ke dalam masa depat yang diciptakan TUHAN, ia wajib melakukan 2 (dua) suruhan Allah : a). Carilah TUHAN dan beribadah kepadaNya (Ams. 5:4-6); dan b). Berbuat baik dengan menegakkan keadilanNya di bidang sosial (membagikan kesejahteraan kepada orang miskin => Amos 5 : 14 - 15).

Lakukanlah dengan setia, maka TUHAN menyelamatkan engkau pada hari Dia menyatakan kemuliaanNya

Salam Hormat dan Doaku


Mempelajari sejarah pertumbuhan dan perkembangan gagasan "ESKATOLOGI" dalam Alkitab Perjanjian Lama (PENDAHULUAN)


MENDALAMI TEOLOGI ALKITABIAH MEMPERKAYA WAWASAN IMAN

Sengaja saya memposting tulisan ini kepada rekan-rekan sepelayanan(presbiter), khususnya Majelis Jemaat GPIB KASIH KARUNIA di Medan, sebagai bahan bacaan untuk memperkaya wawasan iman kalian demi meningkatkan pengenalan Warga Jemaat tentang EKLESIOLOGI (hal-hal yang terjadi di zaman akhir). Saya akan mengupasnya sesuai kesaksian Perjanjian Lama, menurut masa kerja para Nabi di israel dan Yerusalem - Yehuda :

Memahami Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan
Gagasan Teologi tentang EKLESIOLOGI dalam Perjanjian Lama

BE-‘AHARIT HA-YAMIM

(“di dlam masa yang akan datang”, “pada masa depan”)

by 
PUTERA SANG FAJAR

A. Pendahuluan.

So pasti, telah banyak uraian yang dibaca dari berbagai buku yang dituliskan para penulis tentang ‘eskatologi’; akan tetapi tak ada salahnya juga artikel ini disimak sebagai pembanding. Mudah – mudahan menambah pengetahuan.

“Eskatologi” berasal dari kosa kata Yunani yang diterjemahkan : “hal-hal terakhir, peristiwa-peristiwa terakhir.” Kata “terakhir” menunjuk pada takdir yang dijalani manusia secara kolektif maupun individual”. Bisa juga diartikan : “Akhir dari sejarah manusia” atau “akhir dari sejarah sebuah bangsa.”

B. Be’-aharit ha-yamim sebagai konsep Teologi Agama Israel 

Umumnya Alkitab Perjanjian Lama tak memiliki kata yang melukiskan gagasan ‘eskatologi’. Kata Ibrani yang dipakai : “aharit ha-yamim’, sering berkonotasi ‘eskatologi.’ Diterjemahkan ‘hari-hari terakhir’ atau ‘akhir zaman.’ Gagasan itu berlatarbelakangkan istilah Akadian ‘ina ahrat umi’ (terj. dalam waktu yang akan datang). Kadang-kadang dalam Alkitab Ibrani, frasa ‘be-‘aharit ha-yamim’ diterjemahkan ‘pada masa depan, dalam waktu yang akan datang,’ tanpa berkonotasi eskatologi. Oleh karena itu, selayaknya penafsir memperhatikan secara teliti maksud penulis kitab, seperti dalam ayat ini : “Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari (Ibr. aharit), maka engkau akan kembali kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya.” [Ul. 4:30; bd. 31:29 => “...Sebab itu di kemudian hari (Ibr. aharit) malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN,...”; Yer. 29:11 => “... untuk memberikan kepadamu hari depan (Ibr. aharit) yang penuh harapan. ...”]. Nabi-nabi, namun ketiga kasus tersebut hanya merupakan kekecualian saja, selebihnya frasa ‘be-aharit ha-mayim’ berkonotasi eskatologis. Tergantung pada ayat / pasal di mana frasa itu ditemukan.

Menjelang runtuhnya Bait Allah Yerusalem, terjadi perkembangan bahasa, di mana para penulis menggunakan : ‘kes (qes) ha-yamim’ untuk menunjukkan langsung pada peristiwa eskatologi (Dan.12:13b => “Tetapi engkau, pergilah sampai tiba akhir zaman, dan engkau akan beristirahat, dan akan bangkit untuk mendapat bagianmu pada kesudahan zaman;” bd. Dan. 8:17; 11:35, 40; 12:4,9, di mana ada tambahan artikel ‘et qes’). 

Beberapa pakar biblika berpendapat, bahwa eskatologi Agama Israel sejajar dengan gagasan yang sama dalam budaya-agama-suku sekitarnya : Mesir dan Babilonia. Pandangan itu didasarkan atas hubungan historis antara Israel dan Mesir serta Babilonia. Kemudian hari gagasan tersebut dikembangkan, pada masa pra propetik => nabi-nabi => post propetik (sesudah nabi-nabi). Salah satu contoh : Kitab Daniel. Dalam kitab ini kita dapat membaca pengaruh konsep eskatologi dari Agama Persia, sebagai sebuah kemungkinan saja.

Perlu diperhatikan, kita sulit mengkategorikan beberapa nubuatan tentang eskatologi. Hal ini terpaut pada nubuatan nabi-nabi pra-eksilis tentang penghancuran Yerusalem dan pembuangan umat Israel. Walaupun kurang ada kriteria tentang ‘waktu’, di mana nubuatan itu diucapkan; akan tetapi secara umum kita dapat menyimpulkan masalah pewaktuannya terkait masa kerja sang nabi.

C. Be’-aharit ha-yamim dalam Kitab Nabi – Nabi Perjanjian Lama

Demi menngenal pemunculan gagasan eskatologis berkembang dalam Teologi Agama Israel Kuno, maka kita perlu mengelompokkan pewaktuan, agar memudahkan penelitian. Ada beberapa masa, yakni : periode pre propetik (masa sebelum nabi-nabi muncul), nubuatan tentang eskatologi dalam nabi-nabi pra-eksilis dan nabi-nabi pos-eksilis. 

C.1. Periode Pra-eksilis

Abraham bersama, keturunan-nya yang kemudian menyebut diri bene Yisrael (Bani Israel), menyembah TUHAN selaku ‘Allah yang hidup’. Bagi mereka TUHAN, Dialah Allah yang berperan aktif dalam sejarah umatNya. Mereka sadar akan fakta, bahwa Allah telah membuatnya menjadi ‘umat pilihan.’ Dia, TUHAN Allah Israel, bukan saja yang dikhususkan dan mengkhususkan diri dalam ikatan dengan umat pilihanNya; tetapi juga dengan alam semsta (universalisme Allah). Dia memerintahi umat manusia. Israel menyembahNya sebagai Allah Mahaadil yang menjamin kehidupan dan menghukum semua orang menurut kebaikan dan keburukan etis-moral. 

Berdasarkan ikatan perjanjianNya Allah mengikatkan Diri kepada umat pilihan; sekaligus setia pada janjiNya [Simak konsep teologi Agama Israel Kuno terkait ‘emeth’ atau ‘emunah’ (kesetiaan) dan ‘chesed’ (kemurahan, kasih karunia)]. Hal itu ditunjukkan pada saat Israel mengalami kesengsaraan, Dia mengutus ‘juruselamat’, seperti Musa dan Yoshua, termasuk hakim-hakim, dan secara khusus Raja Daud sebagai ‘orang yang ditunjuk’ (Massi’ah, Raja Yang Diurapi TUHAN) yang menerima perjanjian kekal (II Sam. 7 : 11 – 16). 

Hubungan Allah <-> Israel dilanjutkan terus sampai ke masa depan, yang dituliskan dalam kitab-kitab, dan yang disebut ‘tulisan’ para nabi (dibedakan dari Eliah dan Elisa). Di situlah dasar pengharapan umat pilihan akan masa depan yang akan datang. Dengan demikian kita mengetahui, bahwa subtansi pemberitaan Israel tentang eskatologi terletak pada pemahaman iman mereka tentang umat yang dipilih oleh Allah. Di dalamnya Israel percaya, bahwa melalui mereka Allah membangun kekuatan pemerintahannya atas umat manusia dan alam semesta.

C.2. Konsep Eskatologi Israel dalam Periode Nabi-Nabi Pra-eksilis

Di antara nabi-nabi Israel yang meninggalkan nubuatan tertulis adalah Nabi Amos dan Nabi Hosea. Nubuatan mereka diucapkan sebelum keruntuhan Kerajaan Israel Utara (thn. 722 sb. Masehi).