Selasa, 17 Mei 2011

Rancangan Pengajaran KEBAKTIAN RUMAHTANGGA Hari Rabu, 25 Mei 2011


RANCANGAN PENGAJARAN DALAM

KEBAKTIAN RUMAHTANGGA

HARI RABU, 25 MEI 2011

SOLI DEO GLORIA
   KEMULIAAN HANYA BAGI ALLAH

TUJUAN PENGAJARAN

1.  Agar Warga Gereja mengetahui dan mengerti akan panggilan Allah anugerah penyelamatan dan pembebasan dari dosa dan penderitaan.

2.  Agar Warga Gereja memahami dan menghayati tujuan yang terkandung dalam panggilan hidup untuk memuliakan nama Allah.

3.  Agar Warga Gereja memperlihatkan karakter dan perilaku yang sepadan dengan tujuan Allah bagi masa depannya.

MEDAN – SUMATERA UTARA

WAISAK, 17 Mei 2011

Salam dan Doaku

PDT. ARIE A. R. IHALAUW


  1 

PENDAHULUAN

Sejak dahulu kala ketika seseorang merayakan hari ulang tahunnya, kerabat dan handai taulan melagukan nyanyian ini :

Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia.

Sepintas kedengarannya biasa saja. Bertujuan menyanjung orang yang berulang tahun. Akan tetapi jika kata-kata dalam kalimat itu direnungkan, maka muncullah pertanyaan : apakah bertambahnya usia seseorang sama artinya semakin mulia ? Dapatkah kita memuliakan seseorang yang masih hidup ? Apakah makna kata mulia dapat dikenakan dengan manusia yang sehari-hari melakukan perbuatan berdosa dan kejahatan ? Jika kita latah menyanyikan lagu itu tanpa penghayatan, kita tidak berdosa. Tetapi jikalau sungguh-sungguh mengerti kesaksian Alkitab : “Barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan”. Lagu tersebut dinyanyikan semua orang tanpa iman, tetapi bagaimanakah orang beriman dapat menyaksikan kemuliaan Allah dalam nyanyian ? Mungkin kita dapat merumuskan kembali kata-kata dalam lagu tersebut :

Panjang umurnya, sehat tubuhnya, kuat imannya di dalam Tuhan, muliakan Tuhan, Tuhan berkati

Dalam rumusan baru di atas terkandung makna :

a)   Doa bagi Yang Berulang Tahun. Kiranya panjang umur, bertambah pula kesehatan yang baik, serta pertumbuhan iman semakin kuat, karena pengalaman sepanjang perjalanan hidup bersama TUHAN Allah.

b)   Tujuan Perayaan Hari Ulang Tahun. Kemuliaan hanya bagi Allah. Setiap orang yang dikaruniakan pertambahan usia wajib memuliakan Allah. Itulah tujuan hidup orang beriman (kristen). Bukan hanya karena panjang usia, barulah ia memuliakan Allah; akan tetapi ia wajib memuji Allah setiap hari, karena Allah telah memberikan nafas ke dalam hidungnya serta bekerja membebaskan dari sengsara.

c)    Pengharapan Kristen. Hidup manusia tergantung pada Allah. Uzia, Raja Yehuda, selalu mencari TUHAN, dan Allah membuat segala usahanya berhasil (2 Taw. 26:5). Nabi Amos mengatakan : “Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup !” (Amos 5 : 4,6). Sebab TUHAN adalah Allah yang menciptakan nasib malang dan Ia menjadikan nasib mujur (Yes. 45:7). Jika orang beriman selalu mencari TUHAN, maka Dia akan memperoleh berkat-Nya. Apalah artinya kemeriahan Ibadah Pengucapan Syukur karena Ulang Tahun, jikalau hal itu tidak mendatangkan kemuliaan bagi Allah; tetapi tiba-tiba berubah menjadi pesta perkabungan. Ibadah Pengucapan Syukur itu bertujuan merayakan kebaikan dan berkat Allah yang dilimpahkanNya dengan tidak terbatas ke dalam kehidupan siapapun yang berkenan bagiNya. Ibadah yang dilakukan demi kemuliaan Allah akan membawa berkat bagi orang yang mengucap syukur. Bukankah ada tertulis : “Allah memberkati orang-orang yang memuliakan namaNya ?”

Apakah makna hidup ini, jikalau TUHAN tidak memberikan keselamatan serta tidak memberkati segala usaha yang kita kerjakan ? Bukankah segala sesuatu akan menjadi sia-sia ? Buatlah pesta syukur yang tertuju bagi kemuliaan Allah !

  2 

PENJELASAN DAN PENERAPAN

2.A. NASKAH BACAAN

EPESUS 3 : 20 – 21

14. Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, 15. yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. 16. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 17. sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 18. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19. dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 20. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 21. bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

2.B. PENJELASAN – PENJELASAN

1.         CATATAN EXEGETIS.

Jikalau bacaan ini dipotong dan dipilahkan, kita tidak akan dapat menafsirkannya secara baik dan benar, karena Epesus 3 : 20 – 21 berada dalam kesatuan perikopak, yakni : Epesus 3 : 1 – 21. Selanjutnya Epesus 3 : 1 – 21 berada dalam kesatuan gagasan teologi Paulus dalam Surat kepada Jemaat di Epesus (pasal 1 : 1 – 6 : 24). Memotong ayat-ayat dari kesatuan perikopal bisa mengakibatkan penyalah gunaan makna untuk maksud dan tujuan pengajar (kaum teolog). Dan, perbuatan seperti itu melangkahi kewibawaan Alkitab. Hal ini diingatkan kembali, agar setiap pengajar (kaum teolog) mengerti dan memahami bagaimana menggunakan bacaan-bacaan alkitabiah (menurut kapita selecta maupun kapita continua) secara baik dan benar (bd. 2 Pet. 1 : 20 – 21 -> “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah”). Dengan metode / cara demikian seorang pengajar (kaum teolog) memberikan informasi yang akurat tentang gagasan teologi dari si penulis kitab-kitab dalam Alkitab kepada, sehingga warga Gereja dibantu untuk mengetahui dan mengerti serta menghayati dan melakukannya secara baik – benar.

2. PENJELASAN TERKAIT EPESUS 3 : 14 – 21.

Berhubungan dengan penjelasan 2.B.1. di atas, maka saya menyoroti Epesus 3 : 14 – 21 sebagai kesatuan perikopal dalam upaya mengkaji gagasan teologi Paulus menurut suratnya kepada Jemaat di Epesus.

2.1.  Itulah sebabnya …” Kata ini (Yun. pan gar topan gar to) menunjuk pada kasus sebab akibat (kasus kausatif) dalam struktur kalimat. Artinya, kalimat-kalimat yang dituliskan di belakang itulah sebabnya merupakan kelanjutan dari kalimat-kalimat sebelumnya. Dengan kata lain, Epesus 3 : 14 – 21 melanjutkan gagasan teologi Paulus yang tertulis dlam Epesus 3 : 1 – 13. Kedua perikop itu menguraikan satu gagasan yang saling kait mengait.

        … aku sujud kepada Bapa” (ay. 14b). Apakah alasan Paulus menulis : “… aku sujud kepada Bapa” ? Inilah alasannya :

a). Panggilan dan pengutusan yang dipercayakan oleh Kristus-Yesus, sehingga ia menjadi rasul bangsa-bangsa non-israeli (Eps. 3 : 1 – 9).

b). Panggilan dan pengutusan warga Gereja / Jemaat untuk memberitakan Injil (Eps. 3 : 10 – 11).

c). Kondisi yang akan dihadapi dan buah dari pekerjaan pemberitaan Injil (Eps. 3 : 12 – 13).

2.2.  Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih” (ay. 16 – 17)

        Epesus 3 : 14 – 21 merupakan doa Paulus kepada Allah untuk memohon Roh-Nya bekerja di dalam pekerjaan yang dilakukan oleh warga jemaat Epesus. Apakah isi doa Paulus ?

a). “…menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu

Paulus berdoa, agar Allah berdiam di dalam bathin (menguasai aspek psikologis dan intelektual) oleh karya Roh-Nya. Roh Allah itu bekerja menguatkan dan meneguhkan keyakinan warga jemaat akan Injil yang telah diberitakan (simaklah pengertian Paulus dalam Roma 10 : 17 -> “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”) dan telah diajarkan dalam proses belajar mengajar selama ia tinggal di Epesus (simaklah Eps. 4 : 20 – 24 -> “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”). Rohkudus itu selalu bekerja, bukan saja meneguhkan dan menguatkan, tetapi juga membaharui pikiran dan roh setiap orang beriman di Epesus serta menjadaikan mereka manusia baru menurut kehendak Allah.

b). “…sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu

Istilah “di dalam hatimu” (Yun. en taiz kardian umonen tais kardian humon). Secara hurufiah Paulus tidak mengatakan “di dalam hati engkau” tetapi “di dalam hati kamu”. Jelaslah, bahwa ia bertujuan menasihati (menggembalakan) seluruh warga jemaat di Epesus sebagai kesatuan yang utuh dari persekutuan orang beriman yang memiliki latar belakang beragam (meskipun tersirat di dalamnya nasihat kepada tiap-tiap anggota secara pribadi), agar mereka memperoleh pengertian dan pengenalan akan Kristus selaku Tuhan dan Juruselamat serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Inilah pola penulisan Paulus.

c). “…kamu berakar serta berdasar di dalam kasih

     Rasul menggunakan ilustrasi tumbuhan dan bangunan untuk menjelaskan pertumbuhan iman dan kasih. Sama seperti pohon yang berakar dalam tanah dan dasar bangunan yang dibangun juga di dalam tanah tidak kelihatan, demikian pun iman dan kasih itu tidak pernah kelihatan, jikalau tidak bertumbuh dan tidak tampak bangunannya (ilustrasi tentang iman – kasih yang tampak dalam perilaku ibadah). Simaklah tulisannya ini : “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota -- menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (Eps. 2 : 19 – 21;  4 : 12 – 16). Jadi menurut Paulus, pertumbuhan iman itu hanya tampak melalui dan dalam perilaku ibadah, yakni : saling mengasihi. Bagaikan dua sisi dari satu mata uang yang bernilai sama.

2.3.  Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah (ay. 18-19).

a). kamu bersama-sama” ->

lihat penjelasan 2.b di atas.

b). segala orang kudus”.

Paulus memakai terminologi untuk menunjuk pada persekutuan orang-orang beriman yang telah dibenarkan dan dikuduskan oleh Allah. Bukan Santo dan Santa yang ditetapkan oleh institusi Gereja untuk dipuji dan disembah. Pembenaran dan pengudusan itu didasarkan Paulus atas karya Allah di salib (“Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,…” (Eps. 2 : 115 – 19).

c). “… memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu …”

1. “… lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus ” menunjuk pada makna kasih Allah yang tidak terbatas.

2.  “… mengenal kasih itu …” Kata “mengenal” bukan hanya sekedar “mengetahui”; kata itu menunjuk pada pengalaman orang beriman sepanjang perjalanan bersama Kristus-Yesus. Sepanjang perjalanan itu mereka memperoleh dan menikmati kebaikan Allah oleh iman kepada Kristus. Mereka dijamin dan dipuaskan oleh Allah. Dan, oleh karena, penghayatan itu maka imannya bertumbuh oleh Dia kepada Allah. Segala sesuatu dialami dan dinikmati rang beriman dalam persekutuan bersama Allah oleh Kristus-Yesus. Inilah yang dimaksudkan dengan “pengenalan akan kasih Allah”. Jadi pengenalan akan kasih Allah bukan sesuatu yang teoritis ilmiah, melainkan ia merupakan pengalaman empiris-pragmatis orang beriman. Bukan rumusan teologi tetapi lebih jauh dari itu : pengenalan akan kasih bertumbuh sepanjang pengalaman berjalan bersama Allah.

f).  Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah

     Kepenuhan Allah atau “kepenuhan Kristus” adalah bahasa Paulus yang menunjuk pada Kristus-Yesus. Kata Paulus : “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.” {Kol. 2:9-10; bd. “Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia (Yun. plhroma thz qeothtoz - pleoroma tes Theostetos), yang memenuhi semua dan segala sesuatu”; “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,. (Yun. plhromatoz tou Cristou qeothtoz - pleoromatos tos Xristou) – Eps.4:13; “Karena dari kepenuhan-Nya (Yun. plhromatoz autou  - pleoromatos autou)  kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” – Yoh. 1:16}. Beberapa penulis Perjanjian Baru (Paulus dan Yohanes) memakai istilah “plhroma” (bc. pleroma) dipengaruhi pengetahuan mereka tentang gagasan teologi Agama Israel mengenai Mesiah (ke-Mesiah-an). Kepenuhan ke-Allah-an yang dimaksudkan Agama Israel selalu terkait pada subtansi (hakekat) Allah sendiri.
     Menurut nubuat para nabi, Mesiah adalah Allah sendiri. Ia akan datang untuk menggenapi janjiNya kepada Israel yang diberitakan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama (bd. Yes. 11: 6 -> “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang : Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” dan ayat-ayat lain dalam APL).

Mesiah dalam Bahasa Yunani : Kristus (kristoz). Gereja memahami kehadiran Yesus (Dia Yang Menyelamatkan) yang diberitakan APL adalah Mesiah ( = Kristus : Dia Yang Diurapi). Dia sehakekat (subtansi) dengan Allah. Dia adalah Allah sendiri. Itulah yang dimaksudkan Paulus dalam istilah : “rahasia Kristus” (Eps. 3:4 -> “Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus”; Kol. 2:2 -> “…mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan”), karena pengenalan akan Kristus. Secara antropologis Rasul Petrus menyatakan tradisi Jemaat Kristen Abad I tentang Kristus : “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis.2:14).

Selanjutnya penjelasan tentang rahasia Allah, yaitu : Kristus dan kepenuhan ke-Allah-an (keilahian) Kristus akan dijelaskan tersendiri.    

2.4.    Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin (ay. 20 – 21).

a). Dialah yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita

     Paulus ingin meyakinkan Jemaat di Epesus, bahwa Allah bekerja melakukan penyelamatan bukan berdasarkan doa orang kristen saja. Warga Jemaat tidak dapat membatasi pekerjaan Allah. Dan pekerjaan-Nya juga tidak terbatas pada permohonan doa umat. Kalimat “jauh lebih banyak dari pada yang kita pikirkan” mengingatkan orang beriman, bahwa rencana keselamatan kita pikirkan tidak persis sama dengan yang dipikirkan oleh Allah (bd.Yes. 55 : 9 – 10 -> “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu”). Apa yang dipikirkan Allah jauh melebihi yang dipikirkan manusia. Di sini juga terletak rahasia Allah, ketika Dia merealisasikan rencana-Nya menghadirkan diri dalam rupa manusia. Manusia tidak menerima, malahan menolak-Nya (Yoh. 1:14).

b). “… kuasa yang bekerja di dalam kita …”

Kita juga tidak mengetahui dan mengerti segala sesuatu yang direncanakan oleh Allah. Malahan kita pun tidak dapat menguak rahasia kehidupan yang terkandung di dalam panggilan dan pengutusan Allah. Kita tidak dapat menjawab : apakah tujuan TUHAN memanggil dan mengutus orang beriman. Kita hanya mengetahui dan mengertinya, setelah membaca ucapan-ucapan Kristus-Yesus menurut kesaksian Alkitab.

Dan bertolak dari kesaksian Alkitab pula, kita mengetahui bahwa kuasa dan karunia-karunia diberikan oleh Allah kepada orang beriman, sehingga walaupun mengenal ketidak mampuannya, namun ia mampu melakukan hal-hal yang sulit dikerjakan (Plp. 2 : 13 – 14 -> “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,…”). Laksanakanlah pekerjaan itu karena Kristus-Yesus, yang oleh Dia, kita memuliakan Allah.

c). Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus”.

     Tujuan ibadah yang tampak dalam seluruh aktifitas pelayanan-kesaksian (baik yang diprogramkan maupun yang tidak diprogram) semata-mata bagi kemuliaan Allah (Soli Deo Gloria).

d). “… turun-temurun sampai selama-lamanya …”

     Turun-temurun” artinya seluruh pekerjaan pelayanan-kesaksian wajib dilakukan oleh generasi ke generasi warga Gereja. Artinya, pekerjaan Allah yang dilakukan oleh Gereja tidak tergantung pada satu generasi saja; melainkan perlu diwariskan ke generasi berikutnya. Jadi sepanjang TUHAN Allah memperkenankan Gereja ada di atas bumi, sepanjang waktu itulah Gereja wajib melaksanakan misi Allah dalam programnya. Ingath ! Tanpa pekerjaan Gereja pun Allah dapat menyatakan kemuliaan-Nya. Sebab pasti ada kemungkinan besar, ibadah Gereja atau orang beriman tidak membawa kemuliaan bagi Allah. Jadi jika Gereja atau orang beriman tidak memberi diri dipimpin oleh Roh Allah, ia tidak mungkin mengajak banyak orang memuliakan Allah, melainkan ia mencari kemuliaan dan kehormatannya sendiri.

     Sampai selama-lamanya”. Kata keadaan ini bukan saja menunjuk pada masa kini menuju masa depan tetapi juga masa lampau. Kemuliaan Allah itu sudah ada sebelum langit dan bumi diciptakan, dan sekarang ada, serta akan datang bersama kedatangan Kristus-Yesus kelak.

     Kemuliaan Allah tidak hadir karena ibadah Gereja. Kemuliaan Allah hadir karena pekerjaan Rohkudus, yang menyatakan kepada Gereja, bahwa kemuliaan itu ada di dalam Anak Tunggal Allah : Kristus-Yesus (Yoh. 1:14, 18 -> “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya”). Gereja dipanggil dan diutus untuk melayankan kemuliaan Allah kepada dan bersama semua orang, sejak dahulu sampai akhir zaman.

2.C. PENERAPAN

a). “Berakar dan bertumbuh di dalam kasih”

b). Ibadah Gereja secara ritual maupun pelayanan kemasyarakat dilakukan berdasarkan pengetahuan dan pengenalan akan Allah yang telah menyatakan diri-Nya di dalam Kristus-Yesus.

c). Orientasi/tujuan Ibadah Gereja adalah membuat banyak orang  memuliakan Allah.

Selamat menyusun pengajaran !

MEDAN – SUMATERA UTARA

Waisak, 17 Mei 2011

Penyusun

PDT. ARIE A. R. IHALAUW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar