Jumat, 30 September 2011

RENE DESCARTES CONTRA PAULUS ?

PELAJARAN XIII
KESAKSIAN ALKITAB

APAKAH DESCARTES contra PAULUS ( ? )

Sebuah kajian terhadap Kesaksian Alkitab tentang
IMAN DAN ILMU PENGETAHUAN

ditulis oleh
PENDETA ARIE A. R. IHALAUW

Kemungkinan besar, anda akan berkata dalam hati : “Aneh-aneh saja Pdt. Arie Ihalauw ini. Ngga ada kerjaan lain, kecuali mengkritik terus menerus !” Apapun pikiran maupun pandangan anda, tidak akan mengubah prinsip saya untuk menyatakan kebenaran Allah yang menjadi inti kesaksian Alkitab. Hal ini saya kerjakan karena cinta-kasih kepada Allah serta keinginan kuat untuk meluruskan pandangan orang kristen yang semakin dipengaruhi dan digoyang-goyangkan oleh paham-paham dan dongeng-dongeng dunia ini.

PENGARUH RENAICANSE ATAS KEPERCAYAAN KRISTEN. Pada abad pertengahan (Abad XV) terjadi perubahan besar dalam kehidupan kekristenan, ketika ilmuwan mulai melancarkan serangan agresif terhadap kekristenan. Begitulah catatan sejarah dunia. Akan tetapi catatan itu bertujuan menjelaskan bagaimana usaha para ilmuwan untuk melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaan Paus di Roma, sebab selama waktu itu kebenaran yang disajikan Ilmu Pengetahuan tidak berkembang, jikalau Paus tidak menyetujuinya (simaklah keputusan Papal terhadap Copernicus dan Galilei Galileo tentang Solar-sistem).

RENE` DESCARTES atau disebut juga RENATUS CARTEESIUS (31 March 1596 – 11 February 1650). Ia dipandang sebagai Bapak Filosofi Modern; salah seorang filsuf dari Perancis sangat dikenal dengan ucapannya : COQNITO ERGO SUM (Aku berpikir karena itu aku ada). Sesungguhnya, slogan itu mewakili hati nurani tokoh kristen intelektual yang ingin menyatakan keunggulan akalbudi dan temuannya (tentang riwayat hidup dan karya tulis Rene` Descartes, bacalah seluruh tulisan sejarah dan filsafat yang berhubungan dengan dirinya).

PAULUS, seorang rasul Kristus yang berasal dari Tarsus. Ia dibimbing oleh Guru Besar Teologi aliran Parisi : GAMALIEL. Setelah bertobat ia menuliskan pandangannya tentang bagaimana seorang kristen mengungkapkan pemahaman tentang kehidupan alam semesta dan karya Allah. Dengan mengutip tulisan Pemazmur (116:10) Paulus berkata : “AKU PERCAYA, SEBAB ITU AKU BERKATA-KATA.

APAKAH PENDAPAT PAULUS DAN DESCARTES BERTENTANGAN ? Pada satu sisi, kita patut mengatakan “ya”; oleh karena apa yang dinalarkan akabudi (ratio) jauh berbeda dengan apa yang dihayati oleh seorang beriman. Perbedaan itu tampak jelas ketika orang kristen membahas masalah FIRMAN ALLAH, yakni  YESUS KRISTUS, menjadi MANUSIA (Yoh. 1:14). Akalbudi tidak dapat menalarkannya sampai tuntas dan memuaskan. Namun dalam keyakinan iman, seorang bodoh dapat menjabarkannya dalam bahasa sehari-hari dan akan menikmati kepuasan tersendiri.

Di sisi lain, orang kristen patut berhati-hati memisahkan dan memilahkan FUNGSI iman dan akalbudi. Kadang-kadang banyak pengajar / pengkhotbah / guru agama / pendeta membuat kekeliruan, karena memisahkan FUNGSI keduanya. Saya tidak sependapat dengan pemahaman ulama Kristen saat ini. Menurut saya, kita perlu melihat kesaksian Alkitab lainnya, agar kita bisa mengembangkan kedua potensi yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Dan, saya menemukannya dalam kesaksian penulis Ulangan (6:5) yang berbunyi : “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap KEKUATANMU.” Penulis Ulangan menuliskan suruhan Allah tersebut dalam konteks sosial, di mana Israel sedang berhadapan dengan bangsa-bangsa lain. Pada waktu itu, orang Israel wajib memelihara kesehatan pisiknya, supaya mereka mampu berperang dan mengalahkan musuh. Jadi IMAN, dalam pengartian Israel pada masa pra-Kristus terkait dengan masalah tubuh-jasmaniah serta kekuatan material. Orang Israel diharuskan memelihara dan mendukung setiap kegiatan pertahanan-keamanan dengan seluruh kekuatan tubuh jasmaniah / harta milik pemberian TUHAN, agar mampu memenangkan perang.

Pada masa kerja-Nya,  Yesus Kristus mereinterpretasikan dan mereformulasikan suruhan tersebut, sehingga berbunyi : “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap AKALBUDIMU.” (Mat. 22:37). Apakah alasan Yesus merumuskan suruhan Allah berbeda dari pada yang dituliskan penulis Kitab Ulangan ? Bisa saja kita mengatakan, karena Dia adalah Allah, maka Dia berkuasa mengubah segala sesuatu menurut kehendak-Nya. Apabila menggunakan alasan tersebut, kita akan dihadapkan pada pertanyaan : apakah Allah Bapa dan Allah Anak (Yesus Kristus) itu berbeda, sehingga Ia dapat mengucapkan ucapan yang berbeda ? Bukankah tidak mungkin Allah Yang Mahaesa berbeda dalam ucapan dan tindakan-Nya. Lalu, mengapa Yesus mengubah kata KEKUATAN menjadi AKALBUDI ?  Marilah kita menyimak baik-baik konteks sosial selama masa kerja Yesus.

Sejak Abad II sb Masehi sampai masa kerja Yesus, bangsa Israel telah 2 (dua) kali dijajah oleh bangsa asing. Pertama-tama wilayah Israel ditaklukkan oleh Alexander Agung (Alexander The Great) dari Kekaisaran Yunani, sesudah itu dilanjutkan oleh kekaisaran Romawi. Sepanjang perang yang berlangsung sejak Abad II sb. Masehi sampai menjelang masa kerja Yesus, orang Israel tidak pernah menang, meskipun mereka telah menggunakan KEKUATAN penuh (simaklah Perang Makabe). Membaca konteks itu, Yesus menafsirkan dan merumuskan kembali istilah KEKUATAN dalam pesan Kitab Ulangan. Ia mengubahnya dengan menggunakan istilah AKALBUDI, artinya : Yesus, sebagai seorang manusia, menyadari bahwa kekuatan militer Romawi jauh lebih berkualitas dari pada kekuatan militer Israel (bandingkan kekuatan militer Indonesia ketika berjuang melawan penjajah Belanda). Melalui perubahan istilah AKALBUDI menggantikan KEKUATAN pisik/material, Yesus bermaksud mengajak umat Israel melawan penindasan militer dengan KEKUATAN SOSIAL / KEKUATAN RAKYAT. Perlawanan tanpa senjata. Perlawanan dalam bentuk ketenangan : damai sejahtera. Saya menyebutnya : berperang dalam suasana damai.  Ringkasnya, sekalipun harus ada perang, namun tidak merusakkan suasana damai sejahtera. Perang harus dikalahkan dengan senjata : DAMAI-SEJAHTERA. Kekerasan harus diakhiri oleh KEKUATAN DAMAI SEJAHTERA. Itulah sebabnya Yesus berkata : “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini. Jikalau kerajaan-Ku dari dunia ini, maka para pengikut-Ku akan mengangkat senjata dan membela Aku.

Melalui cara itu Yesus menekankan keunggulan AKALBUDI dari pada KEKUATAN PISIK/MATERI. Orang yang AKALBUDInya dipenuhi HIKMAT Allah akan mampu menyusun STRATEGI-TAKTIS untuk dapat memecahkan masalah dan mampu menerobos lalu berperang menaklukkan lawan. Dengan demikian KONTEKS SOSIAL masa Yesus memungkinkan Dia melakukan penjabaran ulang atas Firman Allah yang dituliskan dalam Kitab Ulangan.

APAKAH ITU BERARTI IMAN DAN AKALBUDI DAPAT HIDUP BERDAMPINGAN SECARA DAMAI ? Jelas HARUS ! AKALBUDI adalah kemampuan yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Tidaklah mungkin orang lain dapat mengetahui dan mengerti IMAN KRISTEN, jika orang kristen tidak memberdayakan AKALBUDInya untuk mempertanggungjawabkan (bhs. teologi : apologia) pengharapan imannya dalam bahasa yang komunikatif. Dengan demikian orang kristen tidak perlu bersikap antipati terhadap kemajuan yang muncul akibat perkembangan AKALBUDI (Pengetahuan Ilmiah). Tetapi sebaliknya juga, seorang kristen dilarang mengkultuskan AKALBUDI sebagai ilahnya.

APAKAH YESUS MENYETUJUI PENDAPAT PAULUS ATAUKAH DESCARTES ? Jika kita tidak menghormati dan tidak menghargai AKALBUDI yang melahirkan pikiran cemerlang, niscaya kita telah menghina Allah. Sebab Allah adalah PRIBADI YANG BERAKALBUDI (bd. Yes. 55:8-9). Yesus mengayomi kedua pendapat itu. Yesus ingin mengatakan, bahwa pendapat Descartes adalah baik dan benar, jika di dasarkan atas pendapat Paulus. Artinya, orang kristen yang berpengetahuan wajib memakai AKALBUDI untuk menjelaskan pengenalan akan Allah (IMAN) melalui bahasa yang dapat dipahami semua orang. Jikalau pada akhirnya, pengetahuan akalbudi itu tidak dapat lagi menguraikan sebuah realitan (fenomena sosial), maka orang kristen wajib berkata : “Biarlah Engkau, ya Allah, yang sanggup melakukan segala sesuatu melebihi apa yang kami pikirkan akan meyakinkan segala sesuatu yang telah diberitakan, supaya mereka percaya kepada kebenaran-Mu yang tampak pada pekerjaan Yesus Kristus”.Oleh karena itu, gunakanlah KEKUATAN PISIK / MATERIAL DAN AKALBUDI untuk mendatangkan kebaikan dan damai sejahtera kepada semua orang dalam keutuhan dengan lingkungan hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar