Rabu, 29 Januari 2014

ARAHAN KMJ UNTUK PENYUSUNAN PROGRAM KERJA GPIB Jemaat PETRA Bogor Tahun 2014 - 2015

GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA BAGIAN BARAT
G P I B
Majelis Jemaat GPIB PETRA di Bogor

ARAHAN
PENYUSUNAN AKTIVITAS
PROGRAM KERJA DAN ANGGARAN
TAHUN 2014 – 2015
GPIB Jemaat PETRA - Bogor

Mempersiapkan
Komisi Kerja untuk Memasuki Lokakarya
PROGRAM KERJA & ANGGARAN 2014 – 2015

Thema 2014 – 2015

KEMITRAAN UMAT
YANG MEMBAWA DAMAI SEJAHTERA
ROMA 10 : 14 – 15


Kamis - 30 Januari 2014

Majelis Jemaat
GPIB PETRA di Bogor


disusun oleh

PENDETA ARIE A. R. IHALAUW

- 1

PENGANTAR

Setelah Majelis Jemaat GPIB PETRA di Bogor menetapkan dan memutuskan pengadaan Kelompok Kerja (Pok-Ja) Penyusunan Program Kerja dan Anggaran Jemaat PETRA di Bogor, maka semua jajaran memikirkan, merencanakan dan menjabarkan hal-hal yang berkaitan dengan PROGRAM 2014 – 2015. Oleh karena itu, makalah yang disusun ini merupakan arahan bagi semua pihak yang terlibat.

Mudah-mudahan kita semua berpartisipasi penuh ke dalam proses penyusunan program ini. Semoga Tuhan Yesus, Kepala Gereja, merachmati kita oleh kebajikanNya, sehingga kita dikuatkan untuk melakukan kehendak Allah.

Bogor – Jawa Barat
Kamis, 30 Januari 2014

- 2

PENDAHULUAN

Beberapa catatan perlu disampaikan kepada Pok-Ja (Kelompok Kerja) tentang perubahan Teks Alkitab yang menjadi Thema Alkitabiah KUPPG tahun 2014 – 2015 mendatang. Sebagaimana tertulis dalam Buku PKUPPG yang dikeluarkan MS-GPIB, Thema KUPPG tahun 2014 – 2015 mendatang berbunyi :

1.   Perubahan Naskah Alkitabiah

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

ROMA 8 : 28

menjadi

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia ? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya ? Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus ? Seperti ada tertulis : "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik !"

ROMA 10 : 14 – 15

- 3

Perubahan teks alkitabiah tidak menggantikan Tema KUPPG 2014 – 2015 => KEMITRAAN UMAT YANG MEMBAWA DAMAI-SEJAHTERA KE DALAM DUNIA. Hal itu merupakan perbaikan editing naskah, sebab teks alkitabiah tersusun demikian.

2.   Pemaknaan Teks Alkitabiah

Surat Roma 10 : 14–15 sebaiknya dibaca dari ayat 9–15, agar kita mendapat gambaran utuh terkait gagasan teologi menurut Rasul Paulus. Menurut pandangan saya, perikop dimana kedua ayat tersebut ditemukan diawali oleh 2 (dua) ayat utama : Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan dan lagi Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan (ay. 9, 13).

Dari perikop bacaan tersebut kita menyimpulkan gagasan Paulus tentang PEMBERITAAN INJIL. Marilah kita mengkajinya : Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia ? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya ? Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus ? Seperti ada tertulis : "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik !"

- 4

a.     Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia ?
b.    Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya ?
c.     Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus ?

Kalimat-kalimat itu diawali kata tanya : ‘bagaimana.’ Kata tanya tersebut menunjuk pada praktik pelaksanaan tugas orang Kristen (Gereja / Jemaat) yang  dipesankan Tuhan Yesus Kristus, Kepala Gereja (band. Mrk. 16:15 => Ia berkata kepada mereka :  "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk;” Mat. 28 : 19 – 20 => Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman;" Kis. 1 : 8 => Jawab Yesus : “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi").

Ada nuansa kemitraan yang tersirat dalam Roma 10:14–15 terkait penyelenggaraan dan pelaksanaan pesan pekabaran / pemberitaan Injil, yaitu : a). Pengelolaan fungsi sistem organisasi Pekabaran Injil; dan b). Orang percaya selaku penyelenggara sistem organisasi (Gereja / Jemaat). Keduanya saling mengait untuk mencapai VISI Pekabaran / Pemberitaan Injil, yakni : ‘agar semua orang menerima keselamatan anugerah Allah dalam iman kepada Yesus Kristus’ (Rom. 10 : 9).

- 5

Dengan demikian, menurut pandangan saya (jika dibaca memakai kacamata penatalayanan / manajemen), ayat 14 – 15 mengandung gagasan KEMITRAAN ANTAR SESAMA SEIMAN YANG MEMBERDA-YAKAN SISTEM ORGANISASI (Gereja / Jemaat), SUPAYA DAMAI SEJAHTERA DAN KESELAMATAN KARYA ALLAH DINIKMATI ‘SEGALA MAKHLUK.

3.   Mengapa memakai istilah SELURUH CIPTAAN ?

Istilah ini diambil dari pesan Yesus Kristus menurut Penulis Injil Markus : “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada ‘segala makhluk’” (Mrk, 16 : 15 => Yun. “te ktisei”). Kata ‘segala makhluk’ sangat luas maknanya. Ia meliputi seluruh ciptaan Allah yang bergerak maupun tidak bergerak, juga alam sebagai lingkungan hidup bagi tempat tinggal manusia serta ciptaan lainnya. Jadi, jika kita berbicara tentang Injil sebagai Kabar Sukacita atau Kabar Baik, maka pelaksanaan pemberitaan / pekabaran Injil tidak hanya bertujuan penyelamatan manusia, melainkan ‘segala makhluk’ juga.

Gagasan tematis yang dikemukakan di atas (KEMITRAAN ANTAR SESAMA SEIMAN YANG MEMBERDAYAKAN SISTEM ORGANISASI (Gereja / Jemaat), SUPAYA DAMAI-SEJAHTERA DAN KESELAMATAN KARYA ALLAH DINIKMATI SEGALA MAKHLUK’) saya pikirkan secara luas dan mendalam. Mengapa ? Oleh karena selama ini gagasan tematis itu hanya dikaji terpaut keselamatan hidup manusia, tertuju pada manusia. Sementara itu manusia adalah salah satu mata rantai (mikro) dari tatanan kehidupan alam semesta (makro ).  Gereja  perlu didorong untuk memikirkan hubungan yang luas (manusia dan alam),  karena  keselamatan  manusia,  sekurang – kurangnya,
- 6

dipengaruhi oleh kondisi alam semesta (simbiosis mutualis). dipengaruhi oleh kondisi alam semesta (simbiosis mutualis). Dengan demikian, keselamatan dapat diartikan : terciptanya keharmonisan hubungan antara manusia dan segala mahkluk dalam alam ciptaan Allah. Hal itupun terhubung pada pembangunan lingkungan hidup (ekosistem) sesuai kehendak Allah (“Membangun Eden” => Kej. 2:15).

4.   Pembangunan Masyarakat

Berbicara tentang pembangunan masyarakat, berarti kita menyentuh persoalan fungsi – sistem institusi, dimana manusia hidup berkelompok serta memainkan peran sosialnya. Kita tidak akan mengatakan, bahwa pembangunan kepribadian dan karakter manusia dilakukan mendahului pembangunan masyarakat,  agaknya tidak demikian. Yang pasti kedua proses itu saling berhubungan dan berjalan bersama. Pembangunan masyarakat yang tidak mengikut sertakan manusia, sulit akan mencapai hasil yang ditargetkan. Oleh karena, manusialah pelaku pembangunan, tanpa mengenal strata (kelas) dalam masyarakat.

a.   Pemberitaan Injil dan Penyelamatan Seluruh Makhluk

Sepanjang sejarah pertumbuhan dan perkembangannya, Gereja secara institusional mengajarkan, pemberitaan / pekabaran Injil bertujuan merealisasikan pesan Tuhan Yesus (Mat. 28:18-20). Mungkin kita bisa mengajukan pertanyaan : Apakah pemberitaan Injil sama artinya dengan usaha mengkristenkan (kristenisasi) ataukah memberdayakan manusia agar ia semakin berkualitas sehingga ia berhasil guna bagi kehidupan ‘seluruh makhluk’ ciptaan Allah ? Gereja perlu membangun / mencerahkan wawasan warga, bahwa melalui pemberitaan Injil  Gereja memanusiakan manusia sesuai ‘citra’ (gambar dan rupa) Allah.

b.  Ketegangan kreatif antara MENJADI KRISTEN atau MENJADI MURID KRISTUS.

Bukan tidak mungkin, ketika masing-masing orang kristen mengartikan Matius 28 : 18 – 20 (“Jadikanlah sekalian bangsa muridKu”), muncul ketegangan : apakah pekabaran Injil yang dimaksudkan bertujuan membuat seseorang beralih agama / keyakinan ataukah ia berada dalam lingkungan agamanya, namun melakukan kehendak Kristus (mengubah karakter dan kepribadian seturut teladan Yesus Kristus). Kita tidak harus mempertentangkan kedua tujuan tersebut. Tugas kita hanyalah memberitakan Injil, sedangkan ‘menjadi Kristen’ merupakan keputusan hati nurani seseorang di bawah bimbingan Rohkristus.

Ketegangan yang diuraikan di atas akan sangat signifikan, ketika kita membahas Roma 10:14–15 : “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia ? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya ? Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus ? Seperti ada tertulis : "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik !"

Jelas sekali pikiran Paulus : “Buah pengutusan para pekabar Injil itu adalah “setiap orang menjadi percaya dan mengakui keilahian Yesus” (bd. Rom. 10:9, 13). Berarti ada indikator kuanitatif yang menunjuk pada peralihan agama / keyakinan.

STRATEGI PERTAMA

Gereja --- khususnya GPIB Jemaat PETRA Bogor --- perlu merencanakan pengembangan kualitas sumber daya manusia melalui Pembinaan Warga Jemaat (PWJ), sebab mereka akan menjalankan misi Gereja / Jemaat di lingkungan hidupnya (tempat tinggal, tempat belajar, tempat kerja, dll). Dengan demikian kita melibatkan seluruh Warga Jemaat GPIB PETRA Bogor untuk ikut berperan serta seluas-luasnya dalam menjalankan Misi Kristus melalui pekerjaan Gereja/Jemaat.

STRATEGI KEDUA

· Refungsionalisasi dan Revitalisasi Bidang Program Pembinaan dan Pemberdayaan Sumber Daya Insani (PPSDI)

Mengkaji dan menguji Sistem Pembinaan GPIB dan Silabus Kurikulum yang memenuhi persyaratan :

1.    Konteks Masyarakat Kota Madya dan Kabupaten Bogor.
2. Silabus-Kurikulum Pembinaan yang tepat sasaran dan tepat guna (sesuai kebutuhan Warga Jemaat dalam konteks sosial yang dihadapi).

·      Remodifikasi Silabus dan Kurikulum PPSDI terkait :

1.  Pembinaan Warga Jemaat melalui Kursus Alkitab,
2. Pengembangan Silabus – Kurikulum Pembinaan Pres-biter dan BP Pelayanan Kategorial sesuai kompetensi dalam konteks masyarakat yang sedang bergerak.
3.   Pembinaan Tenaga Kerja (Karyawan Kantor Majelis Jemaat)

STRATEGI KETIGA


·      Pergilah ... (Mrk. 16:15; bd. Rom. 10:9 – 15)

Allah memanggil umatNya menjadi satu keluarga bersama Dia selaku Bapa; sekaligus diutus keluar memberitakan pekerjaan yang besar (I Pet. 2:9). Bukan berarti umat Allah (Gereja) tinggal dalam persekutuan tertutup namun bersifat terbuka. Kita bukanlah umat Allah (Israel), sama seperti Abraham; akan tetapi Allah menjadikan kita selaku anak-anakNya (sama seperti Abraham, Orang Haran itu). Kita diutus pergi --- keluar dari gereja yang tertutup --- ke dalam dunia untuk melaksanakan ibadah perjanjian, supaya seluruh ciptaan diselamatkan (bd. Yes. 42 : 6 dst).

·      Gereja memantulkan Terang Kristus (Mat. 5:13 dst)

Gereja adalah Keluarga Allah. Ia harus mendengar dan melakukan perkataan Yesus : “Kamulah terang dunia...” Ia selalu harus berada dalam hubungan yang baik benar dengan Yesus. Jika tidak demikian, ia sulit menjadi terang, dan tak mungkin pula berbuah (bd. Yoh. 15:1-6; 5:17; 9:4). Untuk menyatakan ‘terang ilahi’ Gereja perlu membenahi (revitalisasi dan refungsionalisasi) diri; jika tidak berbuat demikian, perlahan-lahan ia akan mengalami kematian total. 





.....




1 komentar: