Senin, 04 Maret 2013

Pengajaran Alkitab Memasuki MINGGU PRA PASKAH V - Kejadian 22 : 1 - 19 tentang ALLAH MENGUJI ABRAHAM




RITUS PERSEMBAHAN

MANUSIA sebagai KORBAN

Allah berfirman kepada : "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."

KEJADIAN 2 : 2

oleh
Arie. A. R. Ihalauw

A. PENDAHULUAN

A.1. Latarbelakang Cerita tentang “Korban Manusia”

Gagasan tentang pengorbanan-manusia maupun binatang telah bertumbuh lama dalam sejarah keagamaan, meski teknis dan waktu penyelenggaraannya berbeda sesuai tradisi budaya-agama-suku. Ada berbagai motivasi dan alasan-alasan rasional di balik pelaksanaannya. Maksud dan tujuan persembahan korban itu adalah :  

1.  Menyenangkan dewa-dewi, supaya mereka tidak menumpahkan murkanya atas kehidupan manusia dan alam semesta.

2.  Memohonkan bantuan para dewa, agar mereka memberikan kemenangan dalam peperangan. Dalam legenda Yunani Kuno, Iphigeneia dikorbankan oleh Agamemnon, ayahnya, agar ia meraih kemenangan dalam Perang Troya.

3.  Memperoleh tempat yang layak sesudah peristiwa kematian (biologis). Hal ini banyak ditemukan dalam manuskrip mitos di Mesir dan Babilonia, di mana para budak bersedia dikorban bagi kehidupan rajanya di kemudian hari.

4.  Ada pula mitos tentang pengorbanan-manusia dalam dunia pedukunan, supaya si dukun mendapatkan kekuatan kuasa dari sesembahannya.

Kita dapat menemukan banyak cerita tentang praktik ritual perngorbanan manusia dalam berbagai mitos dan legenda dari masyarakat tradisional. Malahan tidak sedikit pula yang menceritakan tentang pengorbanan-manusia demi tujuan-tujuan politis.

A.2.  Tradisi Korban Manusia dalam Sejarah Agama Israel Kuno.
         
        Cerita tentang pengorbanan-manusia dalam Alkitab ditemukan pada kesaksian penulis Kitab Kejadian tentang Abraham mempersembahkan Ishak, anaknya, kepada Allah (Kej. 22 : 1 – 19). Setelah Ishak lahir (Kej. 21 : 1 – 7) Allah meminta Abraham untuk mempersembahkan anaknya di Bukit Moria (Kej. 22:2 => "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu"). Dalam permohonan itu masih terasa nuansa kebiasaan pengorbanan-manusia sebagaimana dilakukan oleh penganut budaya-agama-suku sekitarnya. Namun penulis Kitab Kejadian cukup piawai. Ia memakai tradisi itu untuk mewariskan keunikan ajaran Agama Israel Kuno tentang makna pengorbanan-manusia.

        Hal ini terbaca pada pertanyaan Ishak : "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu ?" (Kej. 22:7), lalu Abraham menjawab : "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku" (Kej. 22:8). Jawaban Abraham mengungkapkan keteguhan keyakinan imannya : Allah akan menyediakan anak domba. Pada saat itu, Abraham tidak mengetahui apakah jawaban itu sungguh-sungguh terbukti ataukah tidak. Hatinya percaya kepada Allah. Ia tidak memikirkan apakah perbuatannya itu dipengaruhi ritual korban budaya-agama-suku ataukah tidak. Ia setia menjalankan perintah Tuhan Allahnya. Namun, kita yang sekarang mengkaji ritual pengorbanan-manusia berpendapat, bahwa perbuatan Abraham memperlihatkan adanya kebiasaan itu dalam dunia keagamaan pada masa Abraham.

        Kemungkinan besar, seluruh budaya-agama-suku wilayah Timur Tengah Kuno memiliki sistem kultus ritual persembahan korban, termasuk pengorbanan-manusia kepada ilah-ilahnya (bd. Im. 18:29). Akan tetapi ada kesulitan, jika mengatakan bahwa ritual korban-manusia terdapat dalam tradisi Agama Israel Kuno. Menurut pendapat saya, narasi ini merupakan penolakan Agama Israel Kuno terhadap gagasan tersebut. Dan jikalaupun terdapat ayat yang menunjukkan persembahan anak-anak sulung (Kel. 22:29), maka hal itu tidak diartikan seperti yang dilakukan  dalam ritual penduduk suku-suku Kanaan.

A.3.  Makna dari Narasi dalam Tradisi Abraham (Kej. 22 : 1 – 19 )

a. Berdasarkan tradisi Abraham dalam narasi Kejadian 22 : 1 – 19, kita menemukan ritual persembahan korban sesuai budaya-agama-suku yang mempengaruhi gagasan teologi Agama Israel Kuno.

b. Jenis korban yang dimaksudkan adalah : hasil panen (Kej. 4:3), hewan (Kej. 4:4) dan manusia. Rupanya 2 (dua) jenis korban yang pertama disebut berkaitan erat dengan mata pencaharian masyarakat : pertanian dan peternakan. Masyarakat pertanian mempersembahkan hasil panen; sedangkan masyarakat peternakan, hewan.

Kaum Abraham adalah masyarakat semi-nomaden (berpindah tempat), dikarenakan penghidupannya tergantung pada peternakan. Mereka amat tergantung dari lahan penggembalaan. Tidaklah mengherankan, jika suku Abraham selalu berpindah tempat untuk mencari padang rumput bagi makanan ternaknya. Jadi jelaslah suku Abraham mengikuti model ritual korban hewan.

c.  Tuntutan Allah kepada Abraham untuk mengorbankan Ishak, anaknya merupakan sebuah kekecualian. Mengapa dikatakan demikian ? Saya berpendapat demikian :

Pertama, pada masa itu penulis Kitab Kejadian sedang menggumuli perilaku sosial religius umat, ketika mereka telah menduduki tanah Kanaan. Israel berjumpa dengan budaya-agama-suku, lalu mereka mengikuti kebiasaan ritual ibadah suku-suku tersebut : penyembahan kepada dewa-dewi.

Kedua, Di samping hewan dan hasil panen dikorbankan kepada para dewi, suku-suku itupun mempersembahkan anak sulung laki-laki. Praktik keagamaan ini bertentangan dengan Hukum Taurat (Kel. 20:13; bd. Ul. 5:17 => “Jangan membunuh”).

Ketiga, penulis Kitab Kejadian memakai narasi tentang Ishak selaku korban bakaran untuk menegaskan, bahwa jauh sebelum Musa memerintahkan : “Jangan membunuh,” Allah telah memberi sebuah contoh melalui kisah Abraham – Ishak. Hukum Taurat hanyalah bentuk penegasan verbal dari contoh konkrit terkait ritual ibadah sejati / ibadah yang benar menurut kehendak TUHAN, Allah Israel.   

Keempat, umat harus melaksanakan ibadah sesuai petunjuk yang diberikan Allah, bukan meniru model ibadah yang dijumpai dalam dunia keagamaan sekitarnya. Melalui cara demikian,  masyarakat akan mengenal keistimewaan / keunikan yang terkandung di dalam  Ibadah Umat Allah. Hal itu pulalah yang membedakan umat Israel dari bangsa-bangsa sekitarnya.

d. Sekalipun Ibadah Umat Israel berkiblat pada sistem persembahan korban; akan tetapi ritual itu bukanlah tujuan peribadahan. Penulis Kitab Kejadian sengaja memakai narasi dalam tradisi Abraham untuk menunjuk pada pusat ibadah sesungguhnya, yakni : Allah yang berfirman atau Allah yang memanggil. Itulah alasan kuat bagi penulis Kejadian untuk menuliskan : “Allah (Ia) berfirman kepada Abraham” (Kej. 22:1; bd. ay. 15 => “Demikianlah firman TUHAN”).

Penulis Kitab Kejadian pasti menandaskan, bahwa allah tidak memanggil Abraham untuk menjalankan ritual persembahan korban, melainkan untuk “mendengarkan firmanKu” (Kej. 22:18). Kata kerja bhs. Ibrani “mendengarkan”  bersifat aktif dan dinamis. Bukan saja “mendengarkan” tetapi “melakukan apa yang didengarkan” dari Tuhan. Sesuatu yang didengar membentuk pengetahuan dan motivasi, sehingga si pendengar bersikap menanggapi keadaan sekitarnya. Ketika Abraham mendengarkan firman (perintah) TUHAN, ia tidak ragu melaksanakannya, karena ia percaya akan janji Allah (bd. Kej. 12:1-3). Itulah sebabnya penulis Kitab Kejadian menyimpulkan : “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Kej. 15:6).

e.  Apakah Allah mencobai Abraham ? Penulis mengawali ceritanya dengan sebuah catatan : “Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham” (Kej. 22:1; Ibr. נִסָּ֖ה – bc. nis.sah; Ing. to test, tested). Jika salah menterjemahkan, kita akan menyimpulkan Allah mencobai Abraham (meskipun secara harfiah terjemahan itu benar). Akan tetapi makna harfiah itu akan membawa kita ke dalam kesulitan untuk memahami tulisan Yakobus : Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata : "Pencobaan ini datang dari Allah !" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun (Yak. 1:13).

f.  Bagaimanakah menuntaskan kasus bahasa ini ? Marilah menelusuri keadaan Abraham sebelum Kejadian 22 ini. Pasal 22 : 1 menuliskan : "Setelah semuanya itu..." Apakah yang dimaksudkan oleh penulis ?

1)     Kejadian 12.

Ayat 1 – 8 penulis menceritakan bagaimana Abraham menjawab panggilan Allah. Lelaki itu segera meninggalkan kaumnya. Ia memperlihatkan ketaatan kepada kehendak Allah.

2)     Kejadian 15.

Ayat 1 – 4, 8 mengisahkan ketakutan Abraham, karena  ia tidak memiliki ahli waris. Di dalam ayat-ayat tersebut, terasa nuansa keraguan Abraham terhadap janji Allah (Kej. 12 : 2). Cerita ini bernuansa pencobaan. Abraham dihantui oleh pikirannya sendiri. Ia bingung.

Ayat 5 Allah mengulangi kembali perjanjian yang diberikanNya, bahwa ahli waris yang sah akan lahir dari Abraham (bd. ay.18 – 21).

Ay. 6  kepercayaan Abraham diteguhkan.  

3)     Kejadian 17.

Ay. 17 – 18 memperlihatkan sikap kemenduaan Abraham antara anak yang dijanjikan dan Ishmael, anak Hagar, gundiknya. Keraguan itu dikarenakan Abraham melihat kondisi biologis isterinya, Sara, yang sudah menua (bd. Kej. 18 : 9b – 13; 21 : 2).

Ay. 19 – 21 Allah memberikan kepastian, bahwa Ishmael akan diberkati, tetapi anak perjanjian itu adalah Ishak (padahal Ishak belum lahir).

4)     Kejadian 21

Ayat 1 – 7 Sarah melahirkan anak. Keraguan Abraham terhapus oleh karya penyelamatan Allah.

5)     Kesimpulan

Pertama, narasi di atas mengungkapkan, bahwa “pencobaan” (Ing. temptetion) bukan berasal dari Allah, tetapi lahir dari keraguan manusia akan keberadaannya sendiri. Abraham mengetahui persis, bahwa secara biologis Sarah, isterinya, telah tua, sudah menopose, dan tidak mungkin melahirkan. Inilah alasan kuat untuk menyatakan, bahwa pencobaan itu merupakan sebuah keadaan, di mana keinginan atau harapan manusia tidak terpenuhi. Hal itulah yang dimaksudkan oleh Yakobus (Yak. 1 : 13).

Kedua, Narasi Kejadian 22 : 1 dst tak dapat diartikan sama dengan pencobaan tetapi pengujian / ujian (Ing. to test).

Ketiga, Allah menguji kepercayaan Abraham (bukan mencoba Abraham). Mengapa Allah menguji iman Abraham ? Karena Ia tahu persis, bahwa hambaNya itu telah melewati peembinaan mental spiritual dengan memuaskan. Abraham telah mengalami berbagai peristiwa yang menegangkan dan membahayakan. Dalam berbagai keadaan itu ia menyaksikan bagaimana TUHAN bekerja menyelamatkan kehidupannya. Oleh karena itu, Abraham percaya kepada Allah yang berfirman / berjanji.

Keempat, Belajar dari pengalaman sebelumnya Abraham semakin menyadari, bahwa di balik ujian yang diberikan Allah, so pasti, ada kebahagiaan. Oleh karena itu, ia menjawab pertanyaan Ishak, anaknya : “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagiNya” (Kej. 22:8). Dan, nama tempat itu disebur Mor-Yah (Ibr. יִרְאֶ֑ה יְהוָ֣ה bc. Yeh.wah yir.’eh), artinya : “Allah menyediakan” atau “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan” (Ibr. היֵרָאֶֽ היְהוָ֖ בְּהַ֥ר bc. be.har Yeh.wah ye.ra.’eh => Kej. 22:14).

B. KERANGKA CERITA

B.1.  Pemeran Utama : Allah yang berfirman atau Allah yang berjanji.

B.2.  Pemeran Pembantu : Abraham dan Ishak, anak tunggalnya.

B.3.  Alur cerita : Abraham mempersembahkan Ishak berdasarkan suruhan Allah di atas Bukit Mo-ria, tetapi akhirnya Allah sendiri yang menyediakan anak domba sebagai korban persembahan.

C.  INTI BERITA DALAM CERITA

C.1.  Penyimakan atas narasi di atas mengungkapkan, bahwa “pencobaan” (Ing. temptetion) bukan berasal dari Allah, tetapi lahir dari keraguan manusia akan keberadaannya sendiri. Abraham mengetahui persis, bahwa secara biologis Sarah, isterinya, telah tua, sudah menopose, dan tidak mungkin melahirkan. Inilah alasan kuat untuk menyatakan, bahwa pencobaan itu merupakan sebuah keadaan, di mana keinginan atau harapan manusia tidak terpenuhi. Hal itulah yang dimaksudkan oleh Yakobus (Yak. 1 : 13).

Narasi Kejadian 22 : 1 dst tak dapat diartikan sama dengan pencobaan tetapi pengujian / ujian (Ing. to test). Allah menguji kepercayaan Abraham (bukan mencoba Abraham). Mengapa Allah menguji iman Abraham ? Karena Ia tahu persis, bahwa hambaNya itu telah melewati peembinaan mental spiritual dengan memuaskan. Abraham telah mengalami berbagai peristiwa yang menegangkan dan membahayakan. Dalam berbagai keadaan itu ia menyaksikan bagaimana TUHAN bekerja menyelamatkan kehidupannya. Pengalaman berjalan bersama Allah teleh membuat Abraham sangat percaya kepada Allah yang berfirman / berjanji.

C.2.  Berita di balik cerita persembahan Ishak ini mengajarkan, bagaimana sikap yang lahir dari iman Abraham kepada Allah, yakni : setia mengasihi Allah dan taat memberlakukan perintahNya. Abraham mempersembahkan sesuatu yang indah dan yang terbaik dari harta kesayangannya. Abraham belajar dari pengalaman sebelumnya, bahwa di balik ujian yang diberikan Allah, so pasti, ada kebahagiaan. Ia sungguh-sungguh percaya akan janji Allah. Oleh karena itu, ia menjawab pertanyaan Ishak, anaknya : “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagiNya” (Kej. 22:8).

C.6. Allah bagi Abraham adalah TUHAN yang nyata, yang setia, yang menolong, yang melepaskannya dari berbagai kesulitan. Abraham tidak menyusun teori tentang subtansi / hakekat Allah, tetapi ia menceritakan berbagai perbuatan besar dari Allah yang diimaninya.

SELAMAT MEMASUKI MINGGU PRAPASKAH V

Medan – Sumatera Utara
Selasa, 05 Maret 2013

Salam dan Doa dari
PENULIS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar