Senin, 23 Januari 2012

MENCARI PIKIRAN ALLAH Seri I

REFLEKSI ATAS KESAKSIAN ALKITAB
TENTANG PENYELAMATAN MAKHLUK CIPTAAN ALLAH

MENGUSAHAKAN DAN MEMELIHARA
PERSAHABATAN DENGAN AIR

USAHA MENCARI HIKMAT DALAM FENOMENA ALAM UNTUK
MEMBANGUN KEMBALI LANGIT YANG BARU DAN BUMI YANG BARU

DITULIS DI
MEDAN – SUMATERA UTARA
HARI SENIN – 23 JANUARI 2012

OLEH
ARIE A. R. IHALAUW

PENGANTAR. Marilah kita mencari hikmat yang akan menambah penghayatan akan makna HIDUP (kehidupan) pemberian Allah. Ada banyak tanda-tanda alam membantu kita untuk mengetahui – menghayati dan menikmati – mensyukuri kehidupan yang sedang dan akan dijalani ke masa depan.

A. BELAJAR DARI AIR.

PERUPAAN AIR. Awalnya air itu tidak kelihatan. Tak tampak jelas. Ia tersembunyi dalam rahim bumi. Air memiliki ENERGI KEHIDUPAN (KEKUATAN KREATIF YANG MENCIPTA DAN MENGHIDUPKAN). Ia muncul dalam berbagai rasa : asin, tawar, manis, dan pahit. Perupaan air dapat disebut : Laut, danau, sungai dan sumur serta berbagai warna. Hanya ada dua warna dasar : putih dan hitam.

KEKUATAN DAN PERUBAHAN AIR. KEKUATAN AIR bersifat tetap. Nilainya pun sama, tidak tergantung dari jumlahnya (kuantitas) apakah setetes ataupun segelas. Kekuatan air tidak pernah berubah; akan tetapi kebutuhan manusialah yang tidak terpuaskan. Itulah yang menyebabkan manusia tak pernah terpuaskan. PERUBAHAN AIR, ia berubah karena lingkungan. Di lingkungan sehat, air akan sehat. Di lingkungan kotor, ia akan buruk.

MAKNA AIR BAGI MANUSIA. Bumi terbentuk dari air, sama seperti eksistensi manusia. Bumi dan manusia membutuhkan (mengkomsumsi) air bersih. Bumi dan manusia mengandung 60 – 70 persen air. Jika kebutuhan itu tidak tercukupi, maka fungsi bumi dan manusia akan hangus (aus, tidak berfungsi ataupun mati). Air adalah sahabat bumi dan manusia, tetapi sekaligus dapat menjadi ancaman mematikan. Sifat destruktif (penghancur, perusak) ini sangat tergantung pada sikap manusia memperlakukan air sebagai SAHABAT seperjalanan menuju masa depan.

PERSAHABATAN DENGAN AIR. Ketika manusia disuruh MENGUSAHAKAN (to cultivate) dan MEMELIHARA (to conserve) alam semesta, Allah bertujuan, agar manusia memperlakukan alam semesta sebagai SAHABAT SEPERJALANAN. Manusia wajib membangun dan memelihara HUBUNGAN BAIK DAN BENAR dengan alam semesta, sebab keduanya adalah CIPTAAN ALLAH yang memiliki NILAI SAMA YANG SALING MELENGKAPI meskipun FUNGSI BERBEDA. Tidak boleh saling merusak, tetapi SALING MENCINTAI dan MENGHIDUPKAN.

AIR ADALAH RACHMAT ALLAH. Budaya-agama-suku memahami air sebagai rachmat kebaikan dari Allah. Penganutnya yakin benar, bahwa HUJAN YANG TURUN dari langit adalah buatan tangan Allah. Mereka mengesampingkan AIR TANAH. Menurut penganut budaya-agama-suku, kemarau adalah kutukan Allah atas kejahatan manusia di bumi. Oleh karena itu, jika musim kemarau berlangsung cukup lama, lalu bumi kekeringan sehingga sawah-ladang tidak dapat diairi, maka mereka akan melakukan RITUAL-RITUAL KESELAMATAN, supaya Allah mencurahkan HUJAN dari langit.

B. REFLEKSI MEMBANGUN PERSAHABATAN

TUHAN YESUS KRISTUS. Ketika Tuhan Yesus Kristus berbicara bersama seorang perempuan Samaria di halaman sumur  Yakub, Dia berkata : “Jikalau engkau tahu tentang KARUNIA ALLAH dan siapakah Dia yang berkata kepadamu : Berilah Aku minum ! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu AIR HIDUP..,” (YOH. 4 : 10 – 15). Tuhan Yesus Kristus mengandaikan diri-Nya sebagai AIR. Sama seperti manusia (perempuan Samaria) membutuhkan AIR untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, demikianlah ia membutuhkan KESELAMATAN. Menurut Tuhan Yesus Kristus, air yang ditimba dari sumur Yakub itu hanya mencukupi kebutuhan sesaat saja. Padahal kebutuhan manusia jauh melebihi hanya sekedar air, yakni : HIDUP KEKAL. Dan, HIDUP KEKAL itu tidak dapat dipuaskan oleh KEBUTUHAN MATERIAL (simak dan bandingkan teori kebutuhan menurut Abraham Maslow). Kebutuhan material bersifat sementara dan tidak pernah memuauaskan keinginan manusia.

Dalam ucapan Tuhan Yesus Kristus tersirat (terkandung) beberapa makna :

1. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN PENCIPTA. Allah menciptakan tiap-tiap unsur alam menurut fungsi dan perannya. Masing-masing fungsi unsur itu saling berhubungan dan saling bergantung. MANUSIA adalah ciptaan Allah. AIR juga adalah ciptaan Allah. Ia dikaruniakan oleh Allah kepada manusia. Untuk itu manusia diberikan kepercayaan  oleh Allah untuk menatalola air untuk mengokohkan fungsi kehidupannya.  Oleh karena itu, jika manusia ingin menikmati kesejahteraan, ia wajib memelihara HUBUNGAN BAIK–BENAR dengan Allah. Dalam hubungan baik – benar itu Allah memberikan HIKMAT (sebagaimana tertulis dalam Alkitab), agar ia memperoleh pengetahuan untuk menatalola alam semesta untuk membangun kehidupan masa depannya. Manusia tidak akan pernah mengerti tugasnya, jika ia kurang mengenal Allah dan melakukan pekerjaan-Nya (bd. YOH. 9 : 4).

2.  AIR ADALAH SESAMA CIPTAAN. Manusia berpikiran eklusif dan sempit. Berpikir bahwa sesama terkait manusia saja adalah pikiran yang ceroboh. Arti SESAMA cukup luas. SESAMA bisa berarti SESAMA MANUSIA dan SESAMA CIPTAAN. Oleh karena itu, selayaknya kita menafsirkan ulang dan merumuskan kembali TUGAS FUNGSIONAL manusia dalam alam ciptaan Allah, yakni : membangun dan memelihara keber-SAMA-an dan keber-SESAMA-an. Makna Keber-SAMA-an, selayaknya, diperlihatkan dalam sikap dan pandangan MENGAKUI KESAMAAN DERAJAT DAN STATUS tiap ciptaan dalam alam semesta, termasuk AIR. Sementara makna keber-SESAMA-an menunjuk pada HUBUNGAN FUNGSIONAL antar tiap makhluk ciptaan Allah. Dengan demikian, manusia wajib memelihara KESEIMBANGAN (keadaan harmonis) FUNGSI KEHIDUPAN melalui PENATALOLAAN dan PENGOLAHAN alam yang baik dan benar, karena alam adalah SUMBER DAYA PEMBERIAN (karunia) Allah. Dengan kata lain, AIR (sumber daya alam) bukan saja pemuas keutuhan, tetapi juga  SAHABAT yang menemani manusia berjalan menuju masa depan. Berbahagialah tiap orang yang menjalankan kehidupannya sesuai kehendak Penciptanya.

AIR SEBAGAI ANCAMAN BAGI MANUSIA. Nabi Amos yang bekerja dalam Abad VII – VI sb. Masehi mengatakan : BIARLAH KEADILAN BERGULUNG GULUNG SEPERTI AIR, DAN KEBENARAN SEPERTI SUNGAI YANG SELALU MENGALIR (AMOS 5 : 24). Kalimat tersebut adalah KATA-KATA (PEPATAH) HIKMAT dalam budaya Israel. Pepatah itu dapat dipakai untuk menasihati siapapun dalam berbagai maksud dan tujuan. Dalam kasus Israel, Amos menggunakan pepatah tersebut dengan tujuan : menasihati Israel agar mereka mengubah perilakuannya yang tidak adil dan tidak benar kepada orang-orang lemah (yang tidak memiliki kekuatan ekonomi maupun kekuasaan politik). Sama seperti Allah telah berbuat ADIL dan BENAR dengan memberikan kepada Israel : tanah perjanjian yang berlimpah AIR madu dan AIR susunya; demikianlah Israel wajib berbuat ADIL dan BENAR ke atas orang-orang lemah. Sebaliknya, jika Israel tidak bertindak ADIL dan BENAR, maka sama seperti Allah menghukum manusia dengan AIRBAH, demikianlah Dia akan menghukum umat-Nya. RACHMAT Allah : AIR, dapat membuat kehidupan seseorang menjadi lebih baik, tetapi bila ia salah mengurusnya akan merusakkan diri sendiri.

PENGGUNAAN HIKMAT TENTANG AIR. Saya bermaksud memakan pepatah Israel yang disampaikan Nabi Amos itu dapat dipakai untuk menasihati dan mengingatkan siapapun dalam rumusan terkait PEMANFAATAN AIR.

1.  BERILAH KEADILAN YANG BENAR KEPADA AIR SEBAGAI MAKHLUK CIPTAAN. Sepanjang kehidupan berlangsung di bumi, manusia belum / kurang memperhatikan pemberdataan AIR secara bertanggungjawab. Manusia mengekpoitasi AIR (sumber-sumbernya) tanpa memperhatikan ekosistem, di mana AIR itu mengolah kehidupannya sendiri. Masih kurang aturan-aturan hukum yang mengatur pemanfaatan dan pemberdayaan AIR (tanah) dan sumbernya. Akibatnya dapat membahayakan kehidupan alam semesta, khususnya manusia, di masa depan. AIR yang menjadi SAHABAT yang menghidupkan bisa berubah menjadi MUSUH yang mematikan.

2.  FILSAFAT AIR. Walaupun suatu waktu air sehat akan sulit diperoleh, namun kenangan akan manfaatnya akan selalu diingat manusia. Air, oleh nabi Amos, dipakai melambangkan KEADILAN dan KEBENARAN Allah. Ia adalah RACHMAT yang diberikan oleh Allah. Jika manusia memberdayakannya untuk mamenuhi kebutuhan dan kepentingan semua orang, maka akan mendatangkan KEADILAN SOSIAL (kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi). Sebaliknya, jika manusia serakah memakainya untuk memenuhi kepentingan pribadi maupun kelompoknya, maka KEADILAN dan KEBENARAN Allah akan berubah menjadi HUKUM YANG MEMATIKAN penggunanya. Waspadalah !

     Hidup manusia, selayaknya, seperti air yang mengalir tiada hentinya. Sama seperti AIR menjadi RACHMAT untuk membahagiakan siapapun, demikianlah manusia yang memberdayakan potensi pemberian Allah dalam dirinya. Tujuan pemberdayaan diri itu, agar kehadiran (pemberdayaan diri) berpotensi membangun lingkungan hidup sekitarnya. Orang yang berpikir dan bertindak demikian, ia akan selalu dikenang selama-lamanya, meskipun sudah meninggal dunia.

AKHIR’ULKALAM. Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat bagi pengembangan diri tiap orang dalam hubungan vertical maupun horizontal : bersama dan untuk sesama.

Salam sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar