Jumat, 13 Juli 2012

Rancangan PEMBERITAAN / PENGAJARAN FIRMAN dalam Ibadah Minggu, 15 Juli 2012


RANCANGAN
PEMBERITAAN FIRMAN MINGGU
15 JULI 2012

INTEGRITAS KEPEMIMPINAN
HAKIM – HAKIM 7 : 1 – 14

oleh

ARIE A. R. IHALAUW
Putera Sang Fajar

I
PENDAHULUAN

Akhir-akhir ini Indonesia dihadapkan pada masalah kepemimpinan. Hal itu dikarenakan perubahan dan perkembangan sosial cukup pesat. Berbagai masalah mendesak ‘orang-orang yang menghendaki jabatan pemimpin’ (bd. I Tim. 3:1a) untuk mencitrakan diri sejalan tuntutan masyarakat. Oleh karena itu, tidaklah salah jika dikatakan, bahwa kepemimpinan itu bertujuan menjawab seruan manusia di dalam penderitaan. Secara fenomenal dapat disimpulkan demikian. Untuk maksud dan tujuan tersebut, maka kepemimpinan itu dapat direkayasa oleh organisasi maupun individual, agar sekurang – kurangnya ia memenuhi kebutuhan standar banyak orang yang dipimpin.

KEPEMIMPINAN DAN KEBUTUHAN UMUM.

a). Ada banyak model kepemimpinan. Banyak pakar kepemimpinan telah mengemukakan konsep kepemimpinan menurut disiplin ilmu. Saya hanya mendeskripsikannya secara acak.  Kepemimpinan dikelompokkan ke dalam 2 (dua) jenis : kepemimpinan karismatik dan kepemimpinan yang direkayasa. Kepemimpinan karismatik sangat terhubung pada kemampuan individual; sementara kepemimpinan yang direkayasa merupakan keharusan yang dibutuhkan organisasi dari seorang calon pemimpin. Kepemimpinan yang direkayasa ini lahir dari tuntutan masyarakat yang tampak pada norma tertulis. Biasanya kepemimpinan seperti ini merupakan pengungkapan dari pemahaman jatidiri organisasi. Ia dipikirkan, direncanakan dan dirumuskan untuk ditaati dan dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu, seseorang yang mencalonkan diri menjadi pemimpin banyak orang memerlukan pengetahuan lengkap tentang sistem yang akan dimasukinya serta model kepemimpinan yang dikehendaki organisasi tersebut. Meskipun diakui juga bahwa bakat lahiriah turut mempengaruhi kepemimpinan seseorang; tetapi calon pemimpin pun membutuhkan pengetahuan yang cukup tentang hal itu serta pengalaman pribadi.

b).  Ada banyak faktor pembentuk citra kepemimpinan, salah satunya : kebutuhan orang banyak dalam organisasi (sistem). Faktor ini terkait konteks sosial-budayanya.

Marilah kita belajar menyimak kepemimpinan Gideon menurut cerita penulis Kitab Hakim-Hakim.

II
PERIKOP BACAAN DAN PENJELASAN

A.   NASKAH PERIKOP BACAAN

 
7:1 Adapun Yerubaal--itulah Gideon--bangun pagi-pagi dengan segala rakyat yang bersama-sama dengan dia, lalu mereka berkemah dekat mata air Harod; perkemahan orang Midian itu ada di sebelah utaranya, dekat bukit More, di lembah. 7:2 Berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: "Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku. 7:3 Maka sekarang, serukanlah kepada rakyat itu, demikian: Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang, enyah dari pegunungan Gilead." Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggallah sepuluh ribu orang. 7:4 Tetapi TUHAN berfirman kepada Gideon: "Masih terlalu banyak rakyat; suruhlah mereka turun minum air, maka Aku akan menyaring mereka bagimu di sana. Siapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, tetapi barangsiapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang tidak akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang tidak akan pergi." 7:5 Lalu Gideon menyuruh rakyat itu turun minum air, dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang berlutut untuk minum." 7:6 Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air.7:7Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: "Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya."7:8Dari rakyat itu mereka mengambil bekal dan sangkakala; demikianlah seluruh orang Israel disuruhnya pergi, masing-masing ke kemahnya, tetapi ketiga ratus orang itu ditahannya. Adapun perkemahan orang Midian ada di bawahnya, di lembah. 7:9 Pada malam itu berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Bangunlah, turunlah menyerbu perkemahan itu, sebab telah Kuserahkan itu ke dalam tanganmu. 7:10 Tetapi jika engkau takut untuk turun menyerbu, turunlah bersama dengan Pura, bujangmu, ke perkemahan itu; 7:11 maka kaudengarlah apa yang mereka katakan; kemudian engkau akan mendapat keberanian untuk turun menyerbu perkemahan itu." Lalu turunlah ia bersama dengan Pura, bujangnya itu, sampai kepada penjagaan terdepan laskar di perkemahan itu. 7:12 Adapun orang Midian dan orang Amalek dan semua orang dari sebelah timur itu bergelimpangan di lembah itu, seperti belalang banyaknya, dan unta mereka tidak terhitung, seperti pasir di tepi laut banyaknya. 7:13 Ketika Gideon sampai ke situ, kebetulan ada seorang menceritakan mimpinya kepada temannya, katanya: "Aku bermimpi: tampak sekeping roti jelai terguling masuk ke perkemahan orang Midian; setelah sampai ke kemah ini, dilanggarnyalah kemah ini, sehingga roboh, dan dibongkar-bangkirkannya, demikianlah kemah ini habis runtuh." 7:14 Lalu temannya menjawab: "Ini tidak lain dari pedang Gideon bin Yoas, orang Israel itu; Allah telah menyerahkan orang Midian dan seluruh perkemahan ini ke dalam tangannya."

B.   PENJELASAN UMUM

1.   Penggunaan Istilah

a).   HAKIM – HAKIM bukanlah sama maknanya dalam kosa kata Bahasa Indonesia. Kata Ibrani tersebut mempunyai banyak peng-arti-an, seperti : pemimpin, hakim, panglima perang, pemuka formal masyarakat dalam suku-suku Israel. Jadi tugas dan tanggungjawab seorang hakim bukan saja mengurusi kasus-kasus sengketa hukum dalam masyarakat Israel.

b).  SOPHET. Seseorang yang bertugas di bidang hukum, oleh orang Israel disebut : sophet. Ia berperan menentukan keadilan dalam kasus sengketa hukum.

Dengan demikian Israel mempunyai berbagai kata untuk mengkategorikan tugas pemimpin, seperti : Imam, Hakim, Raja, Kepala Suku, dan lain-lain. Mereka yang menduduki jabatan itu disebut pemimpin formal sesuai status hukum masing-masing. Mereka ini memiliki otoritas hukum ketatanegaraan Israel.

2.   Kondisi Israel sesudah Pendudukan tanah suku-suku Kanaan.

Kita harus ingat, bahwa tanah Kanaan itu bukan milik Israel. Jauh sebelum Abraham datang dari Ur di Iraq (Kasdim), di sana sudah berdiam suku-suku pribumi. Masalahnya muncul karena Israel menyatakan, bahwa wilayah Kanaan adalah ‘tanah perjanjian’ yang diberikan Allah kepada leluhurnya : Abraham, Ishaq dan Yakub (Israel).

Sejak penaklukan dan pembagian tanah Kanaan oleh Yoshua, Israel menghadapi sikap permusuhan dari penduduk pribumi. Keadaan itu telah dialami sejak masa kepemimpinan Yoshua bin Nun. Setelah ditinggalkan Yoshua, masing-masing suku Israel dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut Hakim. Sudah ada beberapa pemimpin, seperti : Otniel (Hak. 3:7-11), Ehud (Hak. 3 : 12 – 30), Samgar (Hak. 3:31), dan Debora (Hak. 4 – 5), sebelum Gideon menjadi pemimpin Israel.

3.   Kebutuhan Umat / rakyat

Meskipun menurut pemahaman agamis, jabatan itu pemberian Allah, namun selayaknya kita menyoroti pengadaan sosok pejabat / pemimpin dari sudut pandang sosial . Artinya, kita mengakui jabatan adalah karunia ilahi, tetapi sosok manusia yang akan menduduki jabatan itu dipilih oleh umat / rakyat (bd. Kel. 18:13-24) serta keinginan seseorang untuk menjadi pejabat (I Tim. 3:1a). Dan, menurut kesaksian Alkitab, TUHAN menyetujui pendapat ini (bd. I Sam. 8:7a -> “TUHAN berfirman kepada Samuel : "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu,…”).

Jabatan dan Akulturasi Budaya. Eksistensi Israel sebagai bangsa merdeka masih dalam “proses menjadi.” Dikatakan demikian, karena sejak dari masa leluhurnya Israel adalah kaum semi-nomaden (pengembara yang berpindah-pindah tempat) menurut mata pencahariannya (peternakan). Sistem masyarakat semi-nomaden berbeda dari suku-suku Kanaan yang sudah menetap lama. Suku-suku Kanaan telah memiliki sistem kehidupan masyarakat yang mapan.

Sistem Ajaran Agama Israel. Israel yang keluar dari Mesir adalah kaum semi-nomaden. So pasti, ia akan menghadapi ancaman alam dan lingkungan sosialnya, juga permasalahan terkait ikatan kekerabatan/kekeluargaan.  Permasalahan ikatan kekerabatan itu mencuat ke permukaan, karena di dalam kelompok kaum budak (Ibrani) itu terdapat banyak orang yang berasal dari beragam latarbelakang sosial. Bukan murni keturunan Abraham, Ishaq dan Yakub. Keragaman latarbelakang sosialpun dapat memicu deintegrasi. Oleh karena itu, menyadari akan bahaya tersebut Musa, selanjutnya Yosua, mengikatkan Israel kepada warisan kepercayaan tentang perjanjian yang diikatkan oleh Allah kepada leluhurnya (bd. Yos. 24). Ada 2 (dua) faktor yang menjadi pilar pembangunan kesatuan umat, yakni : pemahaman / pengakuan iman Israel (Ul. 6:4-5) dan hukum Allah (Kel. 20:1–17; bd. Ul. 5: 1–22). Salah satu klausul hukum Taurat adalah sunat (Kej. 17:9-14; bd. Kel. 12:43-49). Orang asing (bukan keturunan Yakub) diberikan status kewarganegaraan Israel, jikalau ia telah disunat.

Kesimpulan. Masalah semakin kompleks ketika Israel menduduki Kanaan. Bukan saja masalah keamanan territorial, tetapi juga perjumpaan iman Israel dan budaya-agama-suku Kanaan. Bangsa ini mulai belajar membangun sistem masyarakat (keumatan), misalnya : kasus Samuel contra Umat Israel mengenai pengadaan jabatan raja (I Sam. 8). Umat Israel mengadaptasi sistem pemerintahannya seperti yang dilihat dari suku-suku sekitarnya. Sementara, sejak masa Abraham, Israel memahami dan mengakui : TUHAN adalah Allah dan Israel umatNya. Pandangan inilah yang mendasari konsep kepemilikan dan pemerintahan Allah atas Israel, disebut juga : Teokrasi. Desakan Israel meminta raja dimengerti Samuel sebagai sikap sinkritis yang mengancam subtansi keyakinan iman umat. Dan, sikap demikian akan mengancam integritas bangsa. Dengan demikian perang yang dimaksudkan bukan saja untuk menjaga kedaulatan Israel atas tanah perjanjian, melainkan juga melawan akulturasi yang membahayakan keyakinan iman umat.  

4.   Latarbelakang Gideon.

a).   Sikap Sinkritis Keluarga Gideon.

Sejarah Gideon dan keluarganya (tradisi Gideon) diceritakan  dari Hakim–Hakim 6:1 – 9:57. Masa lalu Gideon diceritakan penulis dalam Hak. 6:1–40. Sebelum Gideon dipilih TUHAN menjadi pemimpin umat, ia menganut Agama Yahwis yang diajarkan Musa, tetapi bersamaan dengan itu keluarganya masih menyembah Baal (6:10, 23-32).

b).  Sikap Gideon bin Yoas bin Abiezer terhadap panggilan Allah.

Allah ingin memakai Gideon bin Yoas dari keturunan Manasye sebagai juruselamat atas umatNya; akan tetapi ia berkeberatan karena sukunya, Manasye, kecil jumlahnya di antara suku-suku Israel (6:14-16). TUHAN menguatkan hati Gideon bin Yoas melalui mujizat yang dilakukanNya (6:19-24, 36-40).

c).   Penyertaan Allah atas Gideon bin Yoas

Keyakinan iman Israel, selaku suku semi-nomaden, digemakan ulang oleh penulis kitab ini, tulisnya : Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.” (6:16; bd. 6:8-10, 12,36). Pernyataan Gideon bin Yoas menggemakan pengakuan, bahwa ia bukan juruselamat tetapi TUHAN, Allah Israel. Gideon hanya mediator / perantara saja.

5.   Kondisi sosial Israel ketika Gideon bin Yoas dipilih Allah.

Penulis Kitab Hakim-Hakim menceritakan tentang penyerangan suku Midian (6:14; 7:1-3). Gangguan keamanan territorial itu telah berlangsung selama tujuh tahun, setelah kematian Debora (6:1-6). Penyerangan dan pendudukan Midian telah menimbulkan penderitaan (6:6), lalu mereka berseru meminta pertolongan TUHAN (6:7).

6.   Kesimpulan

Melalui Penjelasan Umum ini kita memperoleh gambaran menyeluruh mengenai :

a.   Latarbelakang orang pilihan TUHAN untuk melakukan pekerjaanNya. Sama seperti tokoh-tokoh Alkitab lainnya, Gideon adalah seorang berdosa. Ia hidup di tengah keluarga yang menyembah berhala (simak juga pengakuan nabi Yesaya dalam cerita tentang panggilannya – Yes. 6:5).

b.  Gideon menyadari akan kelemahan dan keterbatasannya; oleh karena itu, ia menampik panggilan dan pilihan Allah (gejala ini hampir terdapat dalam semua tradisi para nabi). Dengan demikian setiap pemimpin umat insyaf, bahwa hanya TUHANlah yang menyelamatkan, sedangkan pemimpin adalah pelaksana. Allah yang memanggil dan memilih, Dia juga akan menyertai utusanNya. Tradisi iman ini sudah ada sejak Abraham sampai Gereja masa kini. Jadi seorang utusan yang memimpin pekerjaan Allah, seharusnya, percaya akan penyertaan dan pemeliharaan TUHAN atas kehidupannya. Ia tidak boleh mengandalkan kekuatan intelektual dan pisik, melainkan menaruh harapan penuh kepada Allah yang bekerja melalui karyanya. Sejauh ia setia mengasihi dan taat memberlakukan kehendakNya, maka Allah akan membuat segala usahanya berhasil (bd. II Taw. 26:5).

c.   Allah memanggil dan memilih siapapun menurut kehendakNya untuk melakukan penyelamatan/pembebasan umat dari penderitaan. Latarbelakang konteks sosial itu dituliskan jelas oleh penulis (6:6-7). Jadi di setiap kesempatan di mana penderitaan akan menghancurkan kehidupan ciptaan, TUHAN bertindak menyelamatkan / membebaskan dengan mengutus orang pilihanNya. Ciri cerita ini selalu mengulang dalam penulisan Alkitab tentang sejarah keselamatan (simaklah latarbelakang Exodus I dari Mesir, Exodus II dari Babel dan karya Yesus Kristus).

 C.  PENJELASAN KHUSUS (Perikop Bacaan)

Perikop bacaan ini menyoroti beberapa hal yang akan diberitakan dalam Ibadah Jemaat, antara lain :

a).   Ujian Allah atas Gideon dan konsep kepemimpinannya

Gideon maju membawa 32.000 laskar (7:3c) dari suku Naftali, Asyer dan Manasye (7:23) untuk berperang melawan suku Midian dan Amalek, yang berjumlah 15.000 (8:10). Akan tetapi TUHAN tidak menginginkan jumlah sebanyak itu, sebab jika kemenangan itu tercapai, maka Gideon dan laskarnya akan menjadi sombong (7:2-3).

b).  Penyaringan Laskar Perang.

Allah memerintahkan Gideon melakukan 2 (dua) kali penyeringan : pertama, tiap laskas membuat pilihan ikut ataukan mundur. Dari jumlah 32.000 ternyata 22.000 mengundurkan diri (7:3c). Kedua, ke – 10.000 yang sisa itu disuruh minum air layaknya seperti seeokor anjing (7:4-6). Akhirnya bersama 300 orang Gideon maju berperang.

c).  Penyertaan Allah

Cerita ini menggambarkan kekuatiran Gideon menghadapi jumlah besar tentara Midian dan Amalek. Akan tetapi ia tidak dapat membantah keputusan Allah. Mengapa ? Oleh karena ia telah melihat nyata-nyata mujizat yang dibuat Allah (6:17-23, 36-40).  Mujizat itu dikuatkan oleh pernyataan Allah kepadanya : “Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu…” (7:7b; bd. 7:14b, 15b).

d).  Strategi Perang (perencanaan)

      Kekuatan iman yang didasarkan janji Allah (7:7b) membuka akalbudi Gideon. Janji Allah itu diwujudkan melalui penyusunan strategi perang yang baik : mengumpulkan bekal (7:8) serta mengatur siasat perang (7:16-25). Di sini kita mengerti betapa pentingnya iman dan pengetahuan diperlukan untuk menyusun strategi.

e).  Bekerja bersama Allah akan mencapai keberhasilan.

Alur cerita tentang kemenangan perang melawan orang Midian dan Amalek mengungkapkan pandangan teologi Israel tentang manusia yang bekerja bersama Allah. Kemenangan (keberhasilan) ditentukan oleh pemahaman iman tentang anugerah Allah serta hasil usaha Gideon (penyusunan strategi-taktis berperang).

d).  Integritas Gideon sebagai Pemimpin Umat.

Dari riwayat Gideon, kita dapat memetik pelajaran tentang apakah yang dimaksudkan  integritas seorang pemimpin. Ada beberapa faktor pembangun integritas pemimpin umat Allah :

1.   Keyakinan Iman.

a.   Memegang teguh prinsip-prinsip kerja yang digariskan oleh persekutuan.

b.  Kepercayaan kepada kekuatan Allah. Pandangan ini bertumbuh dari pemahaman iman, bahwa TUHAN yang memanggil dan mengutus seseorang untuk mengerjakan pembebasan / penyelamatan umat dari penderitaan.

b.  Keyakinan akan panggilan dan pilihan Allah itu menumbuhkan rasa percaya diri (self-confidence) serta rasa tanggungjawab (self of responsibility) atas pelaksanaan pekerjaan yang dipercayakan oleh Allah.

2.   Sikap Konsistensi

a.   Sikap konsistensi yang sejajar antara ucapan dan tindakan. Hal ini mencerminkan pemahaman sang pemimpin tentang sikap setia dan disiplin menjalankan tugasnya.

b.  Kerelaan menerima risiko / konsekwensi dari kebijakan yang diputuskan, jika bertentangan dengan hasil yang direncanakan, situasi yang dihadapi dan penolakan konteks.

3.   Pengetahuan dan Hikmat / Kebijaksanaan.

a.   Pengetahuan. Seorang pemimpin wajib memiliki pengetahuan yang membantunya untuk menyusun Visi (tujuan) dan Misi (strategi) untuk menggerakkan (mobilisasi) umat untuk masa depan yang dicita-citakan.

b.  Hikmat / Kebijaksanaan. Seorang pemimpin haruslah berhikmat, supaya ia dapat membijaki keputusan-keputusan, yang mungkin tidak dapat dijalankan seperti yang dipikirkannya. 

 III
PEMBERITAAN DALAM KONTEKS SOSIAL YANG DIHADAPI WARGA JEMAAT.

Hikayat Gideon mengisahkan panggilan dan pengutusan ‘mantan pendosa’ (penyembah Baal) oleh TUHAN, Allah Israel. Ada beberapa butir pelajaran yang dapat ditarik dari hikayat ini :

1.    TUHAN Allah berdaulat penuh untuk memanggil, memilih dan mengutus siapapun yang berkenan di hatiNya.

2.    Orang pilihanNya itu wajib menjalankan rencana kerjaNya, yakni : bekerja untuk membebaskan / menyelamatkan umat dari penderitaan.

3.    Ia selalu patuh mengasihi Allah dengan cara melaksanakan firmanNya. Ia belajar terus menerus dari cara Allah memimpin hidupnya, supaya karena pengalaman itu ia dimampukan membawa umat keluar dari berbagai kesusahan. Hidup mengandalkan Allah (bd. Yer. 17:7; II Taw. 26:5).

4.    Pengetahuan yang dimiliknya perlu dikembangkan untuk melayani Allah dan umatNya.

5.    Ia patut merendahkan hati di hadapan Allah (I Pet. 5:6, 10) dengan membiarkan RohNya menguasai dirinya untuk menjalankan maksud dan tujuan ilahi.

6.    Kemenangan adalah anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia. Tetapi manusia yang beriman bukan saja hidup dari mujizat Allah, melainkan bekerja untuk meningkatkan kualitas hidup bersama. Inilah mujizat dalam kehidupan nyata.

 IV
AKHIRUL’KALAM

        Semoga catatan-catatan ini bermanfaat untuk membantu para pemberita firman yang akan bertugas di Hari Minggu, 15 Juli 2012.

Salam dan doa

PUTERA SANG FAJAR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar