Kamis, 17 Februari 2011

3. Rancangan Pengajaran Minggu 20 Pebruari 2011 - by Arie


ARIE/RAPE-03/II-11
 HARI MINGGU, 20 pebruari 2011

I. POKOK UTAMA

PEMBERITAAN INJIL

TUJUAN UTAMA
TUHAN, Allah kita, menyuruh mmberitakan Injil dan menajarkan firman Allah kepada semua orang
II. POKOK BAHASAN
SIKAP KRISTEN
MENGHADAPI PENOLAKAN

TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM
Mempersiapkan Warga Gereja menghadapi sikap penolakan dan perlawanan masyarakat

III. SUB-POKOK BAHASAN

DISKRIMINASI
DALAM BIDANG KEAGAMAN

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS

Diskriminasi dapat melanda pada seluruh aspek kehidupan masyarakat, juga terhadap keyakinan seseorang. Pandangan diskriminatif pun dapat muncul dalam berbagai bentuk : perbuatan dan perkataan, mulai dari kata-kata ancaman, pembunuhan karakter sampai pembantaian.
Penolakan dan perlawanan merupakan sikap klasik dari tindakan diskriminasi. Dikatakan sikap klasik, karena pola ini sudah terjadi setua usia manusia di bumi.
Masalahnya : bagaimanakah membangun motivasi dan memperkuat mental-spiritual umat untuk menghadapi sikap penolakan dan perlawanan masyarakat, khsusnya beragama lain ? Memikirkan masalah ini, Gereja menjadwalkan perikop bacaan MARKUS 6  1 – 6 sebagai contoh kasus yang diajarkan pada Hari Minggu, 20 Pebruari 2011 mendatang. Tujuannya :

1.    Tiap warga jemaat sebagai anggota mengetahui dan mengerti, situasi-kondisi masyarakat, di mana orang Kristen diutus oleh Allah.

2.    Tiap warga jemaat dapat dikuatkan, diteguhkan dan dikokohkan motivasi dan mental sipiritualnya, jikalau mereka menghadapi sikap penolakan yang menimbulkan gerakan perlawanan terhadap kekristenan.

3.    Tiap warga jemaat berpartisipasi dan berperan serta untuk memberitakan kabar baik, meskipun dibenci dan ditolak oleh penganut agama tertentu dalam masyarakat

4.    Warga jemaat menjalankan kehidupan pribadi dan keluarga serta kegiatan pekerjaan sesuai dengan kesaksian Alkitab yang berintikan firman Allah, sehingga semua orang yang melihatnya memuliakan Allah dan diselamatkan.

 BACAAN UNTUK MATERI URAIAN

INJIL MARKUS 6 : 1 – 6


1. Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. 2. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata : “Dari mana diperoleh-Nyasemuanya itu ? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya ? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya ? 3. Bukankah Ia ini anak tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon ? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama-sama dengan kita ?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. 4. Yesus berkata kepada mereka : “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” 5. Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menymbuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas meraka. 6a. ia merasa heran atas ketidak-percayaan mereka.
                                              
MEDAN – SUMATERA UTARA

Senin, 17 Pebruari 2011

disusun oleh

PDT. ARIE A. R. IHALAUW

-----oooo000oooo-----
  URAIAN MATERI
 
A.    PENDAHULUAN

Sikap penolakan maupun perlawanan senantiasa dihadapi oleh siapapun, jika ia berbicara dan bertindak bertentangan dengan tradisi yang berakar kuat dalam masyarakat, juga bila ia melakukan pembaharuan terhadap lingkungannya. Pada masa sekarang ini, orang nyang mengatakan kebenaran akan diancam dan dibunuh dengan memakai alasan : DEMI MEMBELA AGAMA ALLAH ! Padahal sejak manusia mengenal Allah, Dia belum pernah berbicara sepatah katapun. Ia masih membisu sampai sekarang ini

Sikap penolakan dan perlawanan merupakan sebuah reaksi wajar dari anggota masyarakat. Akan tetapi sikap tersebut, jika ia berubah menjadi tindakan kekerasan, maka hal itu melanggar hak-hak azasi dan hukum. Keadaan seperti ini tidak hanya ditemukan dalam kehidupan masyarakat umum saja, tetapi sering  juga timbul dalam Gereja Kristus. 

B.    KONTEKS MASYARAKAT ISRAEL MASA YESUS

B.1. Konteks Sosial

a.  Israel menjadi sebuah provinsi di bawah kekuasaan Roma. Di sana telah terjadi akulturasi (percampuran) budaya Barat (Graeco-Romano) dan Timur (Israel). Secara keseluruhan wilayah Israel diperintahi seorang Gubernur mewakili kaisar. Untuk memecahkan konsentrasi masa serta pemmberontakan rakyat (simak sejarah gerakan sosial ketika PERANG MAKABE), maka Roma membagi Israel menjadi beberapa wilayah pemerintahan lokal. Di setiap wilayah ditempatkan penguasa di sana. Tujuannya untuk memecah belah kekuatan  masyarakat (politik divide et impera), agar memuluskan jalannya pemerintahan. Akibatnya pola kehidupan masyarakat Israel menjadi terkotak-kotak. 

b.  Menjelang kehadiran Yesus, Agama Israel semakin berkembang. Setiap teolog mengemukakan pandangannya terhadap perubahan dan perkembangan masyarakat Israel. Beberapa aliran kepercayaan muncul secara signifikan. Perkembangan keagamaan pun terbagi-bagi sejalan perbedaan pandangan teologi (karena pentafsiran) masing-masing aliran terhadap Kitab Suci Agama Israel. 

Saya mencatat beberapa aliran saja, seperti : Kelompok Essen, kelompok Saduki, kelompok Parisi, dan kelompok Ahli Kitab. Semua kelompok mengakui Kitab Suci Agama Israel : TA-NA-CH (TAurat NAvi’im CHetubim); akan tetapi mereka memiliki tradisi lisan atau tertulis lain yang dipegang sebagai sumber kedua untuk, menyusun ajaran keagamaan menurut penafsiran masing-masing. 

c.  Hubungan internasional berkembang pesat. Banyak suku-bangsa dari Afrika, Asia dan Eropah datang dan menetap di sana. Mereka bertujuan mengembangkan perniagaan. Bersamaan  dengan tujuan itu, mereka juga membawa masuk tradisi leluhurnya. 

d.  Sekularisme berkembang subur, sebab penguasa Bait Allah tidak dapat mengontrol kehidupan masyarakat lagi, karena kekuasaan politik dikendalikan oleh raja-raja di setiap wilayah yang menjadi boneka Roma. 

B.2. Kondisi Keagamaan

a.  Abad I sb.M alim ulama Israel mengadakan Sidang Agama (semacam Sidang Sinode atau Konsili) di Kota Yamnia. Seluruh alim ulama dari berbagai aliran dalam agama Israel berkumpul di sana. Persidangan itu penting untuk diperhatikan oleh orang Kristen, sebab dari sanalah lahir kanon APL (Alkitab Perjanjian Lama). Persidangan itu menetapkan kanon atas tulisan-tulisan suci yang dipakai menjadi sumber dan pengukur yang benar bagi ajaran maupun pandangan seseorang terhadap keagamaan Israel. 

     Sebagaimana diketahui, jauh sebelum Sidang Yamnia, alim ulama Israel mengalami kesulitan mengendalikan perkembangan dan perubahan ajaran keagamaan, karena munculnya berbagai penafsiran. Sebab di samping TA-NA-CH masih ada TALMUD yang dituliskan sejak masa pembuangan di Babilonia (semacam Hadits), dan kitab-kitab ataupun tulisan-tulisan lain.  

Beberapa contoh yang saya kemukakan di bawah ini, bertujuan menginformasikan dan mengkonfirmasikan perbedaan di kalangan pemuka Agama Israel tentang beberapa pokok pemahaman teologinya :

1.  Tentang Mesiah : fungsi dan perannya

     Ajaran ini sudah dinubuatkan jauh sebelum masa keruntuhan Kerajaan Israel Utara dan Yehuda. Akan tetapi gagasan mesianik itu semakin dipelajari, kemudian sangat menonjol pada masa pembuangan Babilonia dan sesudahnya (Abad V – IV sb. Masehi). Gagasan mesianik itu muncul sejalan dengan sejarah sosial Israel Utara dan Yehuda. Para pemuka agama mencari sosok pemimpin seperti Raja Daud dan Raja Salomo. Kedua raja tersebut merupakan sosok pemimpin sosio-religius yang sangat kuat. Mereka berhasil membangun Kerajaan Israel Raya dengan menaklukkan raja-raja sekitarnya. Mereka sangat ditakuti dan dihormati dunia internasional pada waktu itu. 

     Setelah keduanya wafat Kerajaan Israel Raya semakin merosot. Pertahanan keamanan pun melemah. Kerajaan Israel Raya terpecah menjadi dua wilayah geopolitic : Israel – Utara di bawah pemerintahan Raja Yerobeam dan Israel Selatan (Yehuda) diperintahi Rehabeam, anak Salomo. Sejak saat terpecahnya kerajaan itu, muncul gangguan keamanan, perang saudara antara raja Israel Utara melawan Raja di Yerusalem, serta penghidupan rakyat semakin sengsara sampai akhirnya kedua kerajaan itu runtuh.  

     Demi membangun semangat kebangsaan-lah para pemuka agama menggagaskan teologi pengharapan : Allah akan melantik seorang raja yang diurapi di Zion. Dia berasal dari Dinasti Daud. Dia akan membebaskan Israel dari penindasan bangsa-bangsa. Gagasan teologi pengharapan yang berpusat pada tokoh Mesiah sangat menonjol dalam masa pembuangan di Babilonia (simak Teologi Kitab Yesaya 40 – 66, Kitab Nabi Yeheskiel dan beberapa kitab nabi sezamannya). Saat itu figur (sosok) Mesiah dihubungkan dengan kekuasaan politik. Akan tetapi nubuat-nubuat mesianik itu, sekalipun cukup menonjol, namun tidak terwujud. Sejak Israel kembali ke tanahnya (dipimpin oleh Ezra dan Nehemia) mereka masih terancam. Malahan dalam Abad III – II sb. Masehi, seluruh wilayah Israel ditaklukan oleh Raja Alexander Agung dari Yunani (juga Kaisar Mongol, Kubilai Khan pernah menaklukan Israel). 

Dalam perkembangan kemudian gagasan teologi pengharapan yang berpusat pada pemunculan Mesiah, Raja Yang Diurapi TUHAN di Zion, mengalami perkembangan baru. Salah satu kelompok keagamaan, kaum Essen, mengembangkan gagasan itu ke arah politik dan keagamaan sesuai fungsinya. Menurut kelompok  Essen, memang benar, TUHAN akan mengirimkan Mesiah kepada umat Israel; akan tetapi tugasnya dilakukan sesuai fungsi dan peran di bidang keagamaan dan politik (pemerintahan sipil). Namun perlu diingat, kelompok ini tidak menegaskan apakah ada 2 (dua) sosok Mesiah berbeda yang memerintahi Israel – Yehuda secara bersamaan. Mereka hanya menekankan perbedaan fungsi dan peran Mesiah

2.  Tentang Kebangkitan

     Topik teologi kebangkitan pun baru dikembangkan pada masa nabi-nabi pra-eksilis (sebelum pembuangan) sampai pos-eksilis. Topik ini tidak berhubungan dengan kebangkitan orang mati, tetapi kebangkitan Kerajaan Israel (simak Yeheskiel 37), sebuah peristiwa yang bernuansa politik, di mana umat Allah akan dikumpulkan dan dipulangkan kembali untuk membangun tembok dan Bait Allah Yerusalem. Inilah sebuah gagasan kebangkitan yang bernuansa politik. Bangkitnya Kerajaan Israel Raya yang dipimpin oleh Raja Mesiah yang diurapi Allah di Zion.

     Di kemudian hari kelompok Parisi memakai tradisi ini dan mengembangkannya ke arah makna spiritual : kebangkitan orang mati

Contoh-contoh tersebut terus dikembagkan sampai ke dalam masa kerja Yesus. Dengan demikian, saya berkesimpulan, bukan tidak mungkin Yesus mengetahui dan menguasai tradisi keagamaan (teologi) Israel secara baik dan benar (saya tidak ingin menyoal apakah Yesus terdidik dalam hal-hal tersebut. Yang pasti, Yesus menguasai tradisi Agama Israel. Jika kita mengatakan : “Tidak benar !”, maka mustahilah Yesus mampu mngajukan argumentasi teologi melawan kelompok Parisi dan kelompok Saduki serta para Ahli Kitab / Taurat setelah perayaan Paskah di Bait Allah (simak Lukas 2 : 41 – 52. Dalam kasus ini saya tidak menghubungkan pengetahuan Yesus, sebagai Allah). Saya mencoba menyorotinya dari aspek kemanusiaan Yesus. Dengan kata lain, saya mengagumi kepiawaian-Nya dan menyebut Dia : pelajar otodidak, dengan mengingat Dia adalah anak seorang tukang kayu -> Mrk.6:3 “Bukankah Ia ini anak tukang kayu”; bd. Mat.13:55 --- Tidak sama seperti Paulus yang dididik di Sekolah Tinggi Teologi kelompok Parisi). 

Saya juga tidak dapat memastikan, apakah Yesus adalah seorang anggota kelompok Essen ataukah bukan. Hal seperti itu masih merupakan dugaan para teolog – akademis saja, oleh karena sampai hari ini belum ada bukti-bukti otentik terkait dugaan itu

C.  PEMAHAMAN ATAS PERIKOP BACAAN

Setelah saya menguraikan latarbelakang di atas, marilah kita mengkaji perikop bacaan (Markus 6 : 1 – 6a), agar kita memperoleh inti-berita (kerugma) yang baik untuk membangun pengajaran Kristen.

1.  Kesejajaran Cerita dalam Injil-Injil Sinoptis (Markus 6 : 1 – 41; Matius 13 : 54 – 58; Lukas 4 : 16 - 30)








MARKUS 6 : 1 – 41


MATIUS 13 : 54 – 58

LUKAS 4 : 16 – 30



1. Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
53 Setelah Yesus selesai mence-riterakan perumpamaan – perumpamaan itu, Iapun pergi dari situ.
16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari – hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca Alkitab.



2. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar tak-jub ketika mendengar Dia dan mereka berkata : “Dari mana diperoleh-Nya semua-nya itu ? Hikmat apa pula-kah yang diberikan kepada-Nya ? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimana-kah dapat diadakan tangan-Nya ?
54 Setibanya di tempat asal-Nya. Yesus mengajar orang orang itu di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata : “Dari mana diperoleh-Nya hik – mat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-muji-zat itu ?
17 Kepada-Nya diberikan kitab Nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis :



3. Bukankah Ia ini anak tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon ? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama-sama dengan kita ?” Lalu mereka kecewa dan meno-lak Dia.
55. Bukankah ia ini anak tukang kayu ? Bukankah ibu-Nya bernama Maria, dan sauda-ra-saudara-Nya : Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas ?
18 Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah meng-urapi Aku untuk menyam – paikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku



4. Yesus berkata kepada mere-ka : “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.”
56. Dan bukankah saudara-sau-dara-Nya perempuan se – muanya ada bersama kita ?
19 untuk memberitakan pem-bebasan kepada orang-orang tawanan, dan peng-lihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, un-tuk memberitakan tahun rachmat Tuhan telah datang



5. Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit de-ngan meletakkan tangan-Nya atas meraka.
57. Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka : ”Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya”
20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kemba-li kepada pejabat, lalu du-duk; dan semua mata orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.



6. Ia merasa heran atas ke-tidakpercayaan mereka.
58. Dan karena ketidakpercaya-an mereka, tidak banyak tanda mujizat diadakannya di situ.
21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya : “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengar-nya”





22. dan semua orang itu mem-benarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata-Nya yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka : “Bu-kankah Ia ini anak Yusuf ?”





23 Maka berkatalah Ia kpada mereka : “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini ke-pada-Ku : Hai tabib, sem-buhkanlah dirimu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum.”





24. Dan kata-Nya lagi : “Aku berkata kepadamu, sesung-guhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.





25. Dan Aku berkata kepadamu dan kata-Ku ini benar : Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel, ketika langit tertutup sela-ma tiga tahun dan enam bu-lan dan ketika bahaya kela-paran yang hebat menimpa seluruh megeri.





26. Tetapi Elia bukan diutus un-tuk salah seorang dari anta-ra mereka, melainkan kepa-da seorang perempuan jan-da di Sarfat, di tanah Sidon.





27. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun di antara mereka yang ditahir-kan, selain pada Naaman orang Siria itu.





28. Mendengar itu sangat ma – rahlah semua yang di ru – mah ibadat itu.





29. Mereka bangun lalu meng – halau Yesus keluar kota dan membawa Dia ke tebing gu-nung, tempat kota itu terle-tak. Untuk melemparkan Dia dari tebing itu.





30. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.




Simaklah dengan teliti serta bandingkanlah ketiga cerita tersebut di atas,   agar anda dapat merekonstruksi cerita secara utuh.



Cerita Markus mirip dengan yang dituliskan Matius, berbeda dari cerita Lukas. So pasti, penulisan cerita tentang peristiwara itu perlu disoroti menurut cara pandang (gagasan teologi) tiap penulisnya.

     Jika saya merekonstruksikan cerita ketiga penulis Injil Sinoptis itu, maka susunannya sebagai berikut :

a). Peristiwa ini berlangsung di Nazaret, kota di mana Yesus dibesarkan (Lukas).

b). Sudah menjadi kebiasan Yesus untuk menghadiri ibadah pada tiap Hari Sabat (Markus – Matius – Lukas). Lukas menambahkan Ia mengajar menurut kebiasan-Nya pada hari Sabat (Luk. 4:16-> Ada 2 (dua) kemungkinan : pertama, kegiatan itu sudah biasa dilakukan Yesus, sejak Ia tinggal bersama orangtuanya di Nazareth; kedua, kegiatan itu dilakukan jika Ia ada di Nazareth bertepatan dengan waktu doa di Hari Sabat). Sementara Markus hanya mengatakan : pada hari Sabat. Matius tidak menyebutkan nama hari. 

c). Markus dan Matius tidak menceritakan isi pengajaran Yesus, tetapi Lukas menuliskannya (Luk.4: 17 – 21 -> Istilah Alkitab dalam ayat 16b tidak sama seperti yang dikenal orang Kristen. Alkitab yang dimaksudkan adalah TA – NA – CH, Kitab Suci Agama Israel; bandingkan II Pet. 1 : 20 -> “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri”). Nubuat-nubuat itu hanya dapat ditafsirkan oleh alim ulama. Jadi, jika Yesus melakukan hal itu, maka Ia menempatkan diri-Nya sejajar atau melebihi alim ulama Israel. 

d). Hal yang disebutkan dalam butir c) menjadi alasan : mengapa orang banyak di rumah Ibadah menjadi heran (Luk. 4:22) dan takjub (Mrk. 6:2; Mat. 13:34) melihat kepiawaian dan mendengar ucapan Yesus. Oleh karena mereka mengetahui, Yesus adalah anak Yusuf (Luk. 4:22), seorang tukang kayu (Mat. 13:55; Mrk. 6:3). Menurut pandangan kebanyakan orang Israel, sebagai anak tukang kayu, Yesus mengalami kesulitan biaya untuk sekolah (di Beth-Midrash ataupun Beth-Sepher). Jadi, sesungguhnya, dari manakah Yesus memiliki hikmat (digunakan oleh Markus -> 4:2; Matius memakai dua istilah : hikmat dan kuasa -> Mat. 13:54; dan Lukas memakai frasa : kata-kata yang indah -> 4:22). Itulah yang menyebabkan pendengar-Nya heran dan takjub.

e). Reaksi orang sekampungnya terhadap Yesus. Mereka kecewa dan menolak Dia (Mrk. 6 : 3; Mat. 13 : 57; Lukas menuliskan sikap orang sekampungnya hendak membunuh Yesus -> 4:29). Mengapa orang sekampung-Nya menjadi kecewa ? Karena Yesus tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana (Mrk. 6:5; Matius dan Lukas tidak menuliskan apapun). Celakanya Markus melanjutkan catatannya dengan menyatakan : “… kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya.” Jelaslah ada kontroversi dalam tulisan Markus (simak 6:5). Di satu pihak Markus menceritakan, bahwa Yesus tidak mengadakan satu mujizatpun, tetapi di lain pihak ia menyatakan Yesus menyembuhkan beberapa orang sakit. Jadi, apakah yang dimaksudkan dengan mujizat oleh Markus. 

     Mungkin kita dapat membandingkannya dengan tulisan Lukas, ketika ia menuliskan reaksi Yesus terhadap pikiran  orang sekampung-Nya setelah selesai mengajar : “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepadaku : Hai Tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum” (yang dimaksudkan adalah peristiwa penyembuhan orang yang kerasukkan setan -> Luk. 4 : 31 – 37;  penyembuhan Mertua Petrus -> Luk. 4:38-41 Mrk. 1:29-34; Mat. 8:14-17, dan banyak lagi yang lain). Orang sekampung-Nya berpikir tidak jauh berbeda dari masyarakat Israel umumnya, yang menuduh Yesus gila, atau sekurang-kurangnya mengalami gangguan kejiwaan, atau melakukan semuanya dengan kekuatan kuasa Beelzebul (Mat. 12:22-37 -> Orang Parisi berkata : “Ia mengusir setan dengan Beelzebul, penghulu setan”; bd. Mrk. 3:20-30; Luk. 11:14-23). 

     Menurut pendapat saya, Yesus adalah seorang manusia yang memiliki kepekaan yang tinggi (perasaan yang peka) terhadap lingkungan-Nya. Mengapa ? Marilah kita menyimak secara mendalam kesaksian penulis Injil Sinoptis tentang Dia : “Yesus mengetahui pikiran mereka” (Luk. 11:17; Mat. 12:25). Oleh karena itu, Lukas menulis : “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku” (Luk. 4:23). Dia sanggup membaca pikiran pendengar-Nya.

CATATAN APLIKATIF
a. Kepekaan hati dan ketajaman berpikir analis Yesus terhadap lingkungan cukup tinggi. Ia sanggup membaca situasi yang sedang dihadapi-Nya, sementara melakukan aktifitas mengajar. Kepekaan hati dan ketajaman berpikir seorang Yesus telah menunjukkan, bahwa Dia seorang arsitek dan instruktur pendidikan yang luar biasa dan otodidak. Ia tidak belajar psikologi, tetapi dari tindakan-Nya kita dapat melihat sosok seorang psikolog  yang piawai pada masa-Nya. Ia sanggup membaca airmuka, menaksir isi hati serta menangkap gerak perubahan di wajah pendengar. Ia mengetahui isi pikiran orang. Bukan hanya karena Dia adalah Allah, tetapi lebih dari itu : Yesus adalah seorang manusia yang hatinya peka dan tajam pikiran-Nya. Sangat manusiawi. Dia seorang genius !
Oleh karena itu, para teolog yang berkecimpung dalam dunia akademis maupun dalam pelayanan praktis perlu memiliki kepekaan hati dan ketajaman berpikir seperti Yesus. Kepiawaian itu hanya dapat dimiliki, jika para teolog memohonkan hikmat Allah serta belajar secara autodidak untuk mengembangkan kemampuannya. Jika tidak berbuat demikian, para teolog agan biasa-biasa saja, dan mengikuti selera orang banyak.
b.  Yesus adalah manusia biasa yang sukses mengerjakan pekerjaan Allah. Ia seorang otodidak yang belajar mengenal sifat dan sikap orang melalui pengalaman dalam peristiwa-peristiwa perjumpaan. Kepekaan hati dan ketajaman berpikir menjadi kekuatan untuk menganalisa reaksi orang banyak terhadap pekerjaan-Nya. Dan, kita dapat membaca banyak cerita penulis Injil Sinoptis tentang bagaimana Yesus menghindari bentrokan pisik, dan atau tidak menjawab secara langsung pertanyaan yang diajukan pendengar-Nya (simak saja percakapan Yesus dengan Pilatus pada peristiwa pengadilan terakhir).
     Belajar dari sikap Yesus, orang Kristen di Indonesia perlu memiliki kepekaan hati dan ketajaman berpikir analis, agar dapat membaca perubahan dan perkembangan konteks, sehingga tujuan misionalnya bisa tercapai. Dan, sekurang-kurangnya, dapat melepaskan diri dari sikap penolakan yang memicu perlawanan dengan kekerasan oleh pihak penganut agama tertentu di Indonesia.
2. Beberapa inti-berita (kerugma) yang perlu diberhatikan

2.1. Manusia-Yesus yang memiliki kemampuan analis

       Melalui penyimakan terhadap perikop bacaan ini, saya menganjurkan pengajar menjelaskan kepada warga jemaat tentang kemampuan analis yang dimiliki oleh manusia-Yesus. Kemampuan seperti ini patut dimiliki semua orang Kristen (simaklah catatan apikatif butir b di atas). Oleh karena itu, orang Kristen tidak boleh berhenti belajar  secara akademis maupun otodidak. Kemampuan itu akan berkembang sejalan dengan pengembangan akalbudi dan kepekaan hati. Hal inilah yang akan membangun pandangan dan sikap antisipasi menghadapi penolakan dan perlawanan dengan kekerasan terhadap kekristenan. 

2.2.  Pembinaan Warga Gereja amat penting untuk membangun cara berpikir yang berfungsi pada perilaku ibadah

       Belajar dari manusia-Yesus yang otodidak, Gereja wajib membina warganya dalam segala hal. Sebaliknya, warga gereja pun “memaksa diri” untuk belajar terus menerus, tanpa mengenal kata berhenti. Tidak seorangpun dilahirkan untuk suatu kebodohan. Kebodohan itu sangat ditentukan oleh sifat dan sikap malas. Tidak mau membina diri dan tidak mau mengikuti pembinaan. Sikap seperti ini HARUS dibinasakan dari warga Gereja. Jika tidak demikian, maka ia akan mati konyol, gagal mencapai cita-cita, terutama tidak mampu mengembangkan pekerjaan Allah di tengah masyarakat yang sedang berubah. 

       Bukan saja karena Yesus adalah Anak-Allah, maka Ia mengetahui pikiran orang lain; tetapi sebagai anak-manusia Ia belajar dan mengasah kemampuan intelektual, emosional dan spiritual secara terus menerus sehingga mampu menghadapi sikap penolakan dan perlawanan dengan kekerasan yang dilakukan pihak yang tidak senang. Oleh karena itu, jika warga gereja / orang Kristen tidak mengikuti teladan Yesus, ia akan mati konyol. Dalam hal inilah Gereja ditugaskan Allah untuk mencerdaskan umat-Nya. Dan umat wajib taat mengikuti pembinaan gerejawi, supaya mampu berkarya seperti Yesus. 

2.3. Penolakan dan perlawanan terhadap Yesus adalah sebuah kebiasaan dalam masyarakat. Bukan saja Yesus yang mengalami, tetapi sejarah juga mencatat bahwa orang Kristen dalam Gereja pun menerima perlakuan yang sama (bd. I Pet. 4:1 -> Oleh karena Kristus telah mnderita penderitaan badani, maka kamu juga harus mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian). Jadi keadaan seperti itu biasa saja. Yang luar biasa adalah orang Kristen / warga Gereja cerdas tetapi mati konyol, karena tidak memiliki menganalisa (mengantisipasi) keadaan dan karena kebodohan.
       Yesus adalah tokoh pembaharu (masyarakat dan agama) yang memiliki intelektualitas tinggi. Memiliki pandangan yang jauh ke depan. Mampu menganalisa keadaan yang dihadapi-Nya.  Bertindak sesuai keyakinan-Nya. Ia menghadapi dan mengatasi sikap penolakan dan perlawanan kaum sebangsa, sekampung dan serumah dengan cara-Nya sendiri. Acapkali cara yang dipakai tidak sesuai pikiran para murid-Nya, Yesus tetap melakukannya. 

2.4. Pepatah nabi tidak dihormati di kampungnya sendiri bukan hal baru pada masa Yesus, dan juga bukan hal baru sekarang. Pepatah tersebut merupakan sinisme kepada orang Israel, bukan tertuju ke orang Nazareth saja. 

       Tidak semua orang sekampung membenci Yesus. Bisa saja pandangan Yesus keliru (sebagai seorang warga masyarakat biasa yang dibesarkan di Kota Nazareth), sebab ada juga orang sekampung yang mengikuti-Nya secara sembunyi-sembunyi, karena mereka takut menghadapi ancaman alim ulama Israel. Jadi pepatah itu tidak boleh digeneralisasikan, serta sikap penolakan dan perlawanan perlu dibaca menyeluruh; kemungkinan besar orang Nazareth terprovokasi oleh alim ulama yang membenci Dia, tetapi ada pula yang membela-Nya.

         APLIKASI KE DALAM PENGAJARAN

       Pepatah ini, sebaiknya, tidak dipakai lagi dalam Gereja. Sebab kita akan menghadapi berberapa sikap manusia yang dikategorikan : tidak menerima vs tidak menolak. Tidak menerima adalah sikap negatif dan tidak menolak merupakan sikap positif

·      Sikap tidak menerima (negatif) bisa diketahui dan bisa tidak diketahui. Sangat tergantung pada karakter manusia.
·      Sikap tidak menolak (positif) juga bisa dikenal dan bisa tidak dikenal.
Kedua sikap itu tergantung dari : 

1.   Karakter pribadi,
2.   Kebutuhan yang terjawab (terpenuhi),
3.   Pengaruh lingkungan masyarakat.

       Sikap demikian dapat menghancurkan kebersamaan persekutuan jemaat sebagai keluarga Allah. 

       Sebaliknya Gereja / Jemaat perlu mengembangkan karakter manusia pembangun yang baik-benar. Dengan demikian tujuan misinya dapat tecapai, tanpa mengalami persoalan-persoalan yang berarti.

SELAMAT MENYUSUN PENGAJARAN

MEDAN – Sumatera Utara

Hari Jumat – 18 Pebruari 2010

Salam dan Doa

PDT. ARIE A. R. IHALAUW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar