Selasa, 01 Februari 2011

RANCANGAN MATERI PENGAJARAN KATEKISASI


RANCANGAN MATERI PENGAJARAN KATEKISASI
ARIE/MAT.KAT/Seri – PENGANTAR/2011

PENGANTAR
KE DALAM PENGGUNAAN MATERI KATEKISASI

Sepanjang pengetahuan penulis, sampai saat ini Gereja hanya memiliki Materi Katekisasi untuk Pegangan Pengajar Katekisasi. Gereja menyusun dan menerbitkan Buku Katekisasi I – II untuk pegangan pengajar. Buku itu diterbitkan sejak tahun 1992. Kemudian buku-buku tersebut dibagikan kepada peserta bina katekisasi oleh Majelis Jemaat. Kemungkinan besar bertujuan memudahkan peserta bina katekisasi mencerna isinya. Hal ini sungguh-sungguh meniptakan masalah, jika peserta bina tidak mengikuti jam pelajaran katekisasi, maka akan menimbulkan salah tafsir dan salah persepsi. Seharusnya buku-buku itu tidak diperuntukkan kepada peserta bina katekisasi.  

Sejalan perubahan dan perkembangan masyarakat sekarang ini, maka Gereja perlu merevisi silabus dan kurikulum materi katekisasinya. Oleh karena itu, penulis berusaha menuliskan materi-materi ini sesuai Pemahaman Iman GPIB dan kebutuhan Gereja saat ini. Tulisan ini bertujuan semata-mata untuk memperkaya Pengajar katekisasi. 

Memang benar, Majelis Sinode memiliki wewenang untuk menetapkan silabus – kurikulum dan materi katekisasi. Akan tetapi bukan berarti, menutup kemungkinan bagi setiap Pejabat Gereja  (Pendeta) untuk menuliskan uraian-uraiannya sesuai silabus kurikulum. Sebaiknya, Majelis Sinode menerbitkan silabus – kurikulum katekisasi, sedangkan pengolahan materinya diserahkan kepada tiap-tiap Pejabat Gereja (Pendeta) untuk menuliskan isi pelajarannya. Usulan ini bertujuan mendorong kreatifitas menulis tiap Pejabat Gereja sesuai konteks jemaatnya. 

Uraian materi katekisasi yang dituliskan ini memperhatikan Ketetapan Persidangan Sinode 2011 tentang Pemahaman Iman GPIB. Silabus – kurikulumnya pun dirunut sesuai penjelasna-penjelasan yang terdapat dalam Buku Penjelasan Pemahaman Iman GPIB 2007 (Buku berwarna merah-maron).
Salam sejahtera,

Penulis

Pendeta Arie A. R. Ihalauw

RANCANGAN PENGEJARAN KATEISASI

ARIE/MAT.KAT/Seri – 01/2011

- I -
POKOK UTAMA

AJARKANLAH KEPADA MEREKA

TUJUAN UTAMA

Memperlengkapi  Warga Gereja untuk melaksanakan dan menyelenggarakan Misi Kristus

Efesus 4 : 12 - 16

POKOK BAHASAN

FUNGSI GEREJA SELAKU PENGAJAR

TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM

Sekalipun proses belajar mengajar bersifat alamiah, akan tetapi Gereja menyelenggarakannya berdasarkan perintah Allah yang tertulis dalam Alkitab.

Ul. 6 : 6–9

SUB POKOK BAHASAN

MENGENAL KATEKISASI DALAM GEREJA

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS

Gereja adalah orang-orang yang dipanggil Allah keluar dari kegelapan masuk ke dalam persekutuan serta menjadi satu KELUARGA ALLAH. Pemahaman iman ini wajib diwariskan kepada setiap generasi terus menerus untuk membentuk dan membangun karakter MANUSIA BARU (Efs. 4:23; Kol.3:10; bd. Yeh. 36 : 25-27) yang berdayaguna dan berhasilbina. Mendukung pemahaman itu, maka dirumuskan  Tujuan Pembelajaran Khusus sebagai berikut :

1.   Agar Peserta Bina Katekisasi mengetahui dan mengerti manakah kehendak Allah sesuai kesaksian Alkitab : apa yang baik dan yang berkenan kepada-Nya.

2.   Agar Peserta Bina Katekisasi memahami dan menghayati tugas dan tanggungjawab fungsional sebagai anggota dalam persekutuan KELUARGA ALLAH.

3.   Agar Peserta Bina Katekisasi memiliki dan melaksanakan kehendak Allah.

Mat. 28 : 19–20; Efs. 4 : 20–24.

-----oooo000oooo-----



MENGENAL KATEKISASI DALAM GEREJA

A.   PENDAHULUAN

TUHAN Allah selaku Pencipta alam semesta menyuruh manusia melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut : 

1.   Beranakcuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi (Kej. 1 : 28).
2.   TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (Kej. 2:15)
Untuk melaksanakan tugas-tugas yang disuruh Allah, maka manusia mengadakan pengajaran, pendidikan, pembinaan dan pelatihan. Keempat hal itu merupakan karya budaya manusia. Ia sudah dijalankan sejak zaman manusia hadir di permukaan bumi, dengan maksud :

           i.    Tentang Pengajaran 

Pengajaran diadakan untuk mewariskan pengetahuan akademis (kecerdasan intelektual dan emosional) yang berbasis pada pengenalan akan Allah (bd. Amsal 1 : 7).

         ii.    Tentang Pendidikan

Pendidikan diadakan untuk menanamkan nilai-nilai etis-moral.

        iii.    Tentang Pembinaan

Pembinaan diadakan untuk membangun serta  membentuk karakter dan perilaku ibadah semua orang percaya, agar berfungsi mengerjakan ibadah kepada Allah dalam kehidupan KELUARGA ALLAH serta pelayanan kemasyarakatan. 

        iv.    Tentang Pelatihan

Pelatihan diadakan untuk membantu semua orang percaya, agar mampu memberdayakan berbagai karunia yang diberikan oleh Allah, sehingga membawa kesejahteraan ke dalam kehidupan pribadi, keluarga, Gereja / Jemaat dan masyarakat. 

Dengan demikian katekisasi menjadi sarana penting sepanjang sejarah pertumbuhan dan perkembangan Gereja / Jemaat selaku KELUARGA ALLAH.

B.   KATEKISASI MENURUT KESAKSIAN ALKITAB

B.1. Mengapa Gereja wajib menyelenggarakan katekisasi ?

       Pertanyaan ini perlu dikemukakan dan harus dijawab, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang disebabkan oleh pentafsiran yang berbeda di kalangan Gereja-Gereja. 

Menurut kesaksian Alkitab, pemahaman dan pengakuan iman kepada TUHAN, Allah Mahaesa, harus diajarkan kepada tiap generasi orang percaya. Tugas ini telah dilakukan sejak zaman Musa, Pemimpin Israel {Ul. 6 : 4 – 9 -> “Dengarlah, hai orang Israel, TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa ! (bd. Yes. 45 : 5a, 6c, 14f, 18c, 21ef, dll). Kasihilah TUHAN, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenal kekuatanmu (Yesus menggantikan kata kekuatan menjadi akalbudi -> Mat. 22:37). Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu…” (Yesus menyuruh murid-murid, kata-Nya : “Ajarkanlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” -> Mat. 18:20a)}

Berangkat dari pemahaman yang telah dijelaskan di atas, maka Gereja sebagai representasi institusional dari persekutuan orang-orang percaya menyelenggarakan katekisasi.

B.2. Apakah tujuan Gereja melaksanakan katekisasi ?

       Sepanjang perjalanan (pertumbuhan dan perkembangan) sejarah Gereja sampai sekarang ini, muncul berbagai kritikan (kecaman) terhadap ajaran dan imannya. Kritikan (kecaman) itu telah membuat banyak orang percaya meninggalkan dan beralih agama (murtad).  Oleh karena itu, berdasarkan kesaksian Alkitab (Ul. 6:4-9; Mat. 28:19-20), Gereja memutuskan untuk menjalankan pengajaran kepada semua anggotanya. Tujuannya adalah :

a). Mempersiapkan dan memperlengkapi warganya dengan segala pengetahuan intelektual dan spiritual untuk siap-pakai serta untuk berperan serta (perfungsi, berpartisipasi aktif, proaktif) melaksanakan pekerjaan Allah sebagaimana tampak dalam karya Yesus-Kristus (Efs. 4:12). 

b).  Membentuk dan membangun kepribadian dan karakter manusia pembangun yang memiliki visi Yesus-Kristus serta siap sedia melaksanakan pembangunan Gereja (pisik maupun non-pisik) selaku KELUARGA ALLAH melalui pekerjaan pelayanan (Efs. 4 : 12b).

c).  Memelihara dan merawat pertumbuhan iman warganya, supaya berkembang dan berbuah (proses pendemasaan / kematangan pribadi). Diharapkan melalui katekisasi ini seuruh anggota Gereja dapat memiliki pemahaman iman yang sama menuju “tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Efs. 4 : 13).

d).  Menguatkan pemahaman iman, sehingga seluruh anggota tidak akan mudah terombang ambingkan oleh ajaran-ajaran sesat tetapi berpegang kepada kebenaran Allah, saling mengasihi, serta terpengaruh semangat duniawi,  lalu meninggalkan pengakuan iman kepada Allah di dalam nama Yesus-Kristus (bd. Efs. 4 : 14).

e).  Memberdayakan karunia-karunia yang dianugerahkan Roh Allah kepada warganya (bd. Efs. 4 : 16).

f).   Menyelenggarakan kehidupan persekutuan melalui karya pelayanan – kesaksian secara tertib dan teratur (I Kor. 14 : 40), supaya membawa damai-sejahtera (I Kor. 14 : 33 -> Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera; bd. Yoh. 14 : 27 -> YESUS-KRISTUS, SUMBER DAMAI SEJAHTERA). 

C.   KATEKISASI, PENEGUHAN SIDI JEMAAT DAN SAKRAMEN

Acapkali muncul pertanyaan : 1). apakah alasan alkitabiah yang dipakai hingga Gereja mewajibkan warganya mengikuti katekisasi, setelah itu diteguh-sidikan barulah mengikuti pelayanan sakramen Perjamuan Tuhan ? 2). Bukankah baptisan kudus yang diperintahkan Yesus-Kristus menjadi alasan kuat bagi orang Kristen untuk mengikuti Ibadah Sakramen Perjamuan Tuhan ? 

Ke – 2 pertanyaan di atas perlu dijawab, agar tidak menimbulkan kesalah pahaman tentang ajaran Gereja. 

1).  Apakah alasan alkitabiah yang dipakai hingga Gereja mewajibkan warganya mengikuti katekisasi, setelah itu diteguh-sidikan barulah mengikuti pelayanan sakramen Perjamuan Tuhan ? 
   
      Pertanyaan ini akan dijawab dengan menjelaskan pemahaman Gereja berdasarkan dan tentang kesaksian Alkitab.

a. Pesan Yesus-Kristus (Mat. 28:19 – 20a).

“Karena itu pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku, dan batislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Rohkudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu…” 

·         Suruhan Yesus-Kristus ditujukan kepada murid-murid untuk memberitakan dan mengajarkan “segala sesuatu” yang telah dilihat dan didengar mereka, agar si pendengar menerima dan melakukannya.

·         Murid-murid melakukan tugas pemberitaan dan pengajaran secara baik-benar, sehingga banyak orang menjadi percaya (bd. Yoh. 17 : 20; bd. Rom. 10 : 13 - 15).

·         Orang – orang yang percaya itu berkumpul menjadi satu persekutuan yang diebut Jemaat, seperti : Jemaat Efesus (Why. 2 : 1 – 7), Jemaat di Smirna (Why. 2 : 8 – 11), Jemaat di Pergamus (Why. 2 : 12 – 17), Jemaat di Tiatira (Why. 2 : 18 – 29), Jemaat di Sardis (Why. 3 : 1 – 6), Jemaat di Filadelfia (Why. 3 : 7 – 13, Jemaat di Laodikia (Why. 3 : 14 – 22), dan lain-lain (Lihat Surat-Surat Paulus dan Kisah Rasul – Rasul).

·         Dalam perkembangan di kemudian hari, sesudah masa rasul-rasul, Jemaat–Jemaat Lokal itu mengorganisasikan dirinya dan menyelenggarakan penggembalaan (pemerintahan) atas warganya sesuai konteks sosio-budaya setempat. Didorong oleh kondisi lingkuannya maka pemimpin-pemimpin jemaat menyesuaikan ajaran rasul-rasul. Kondisi ini pula yang memaksa jemaat menyusun aturan-aturan setempat tentang penyelenggaraan persekutuan yang melayani dan bersaksi.

·         Apa yang terjadi dalam sejarah pertumbuhan jemaat-jemaat dahulu, masih juga berlangsung sampai sekarang ini. Tiap-tiap jemaat menentukan sendiri pemahaman imannya untuk dipakai menjadi landasan pengajaran dan bagi peraturan setempat sesuai kesaksian Alkitab. 

b. Status dan fungsi katekisasi dalam Gereja GPIB

    Katekisasi merupakan sarana belajar – mengajar dalam Gereja. Katekisasi merupakan bentuk (model, pola) pengajaran yang diselenggarakan Gereja. Status dan fungsi katekisasi diletakkan pada tugas pokok Gereja berdamping pelayanan, kesaksian dan persekutuan. Seluruh bentuk aktifitas pengajaran, pendidikan, pembinaan dan pelatihan merupakan bahagian yang tak dapat dipisahkan dari pemahaman tentang katekisasi Gereja dalam arti yang luas. 

Katekisasi yang dimaksudkan tidak terbatas pada proses belajar-mengajar untuk mempersiapkan para sidi jemaat. Ia menjadi program yang diadakan dan diperuntukan sejak usia dini sampai hari tua. Ditujukan kepada anak-anak sekolah minggu, persekutuan teruna, gerekan pemudan, persiapan pra-nikah, ibadah-ibadah Gerja, dan lain-lain. Oleh karena itu, Gereja menyusun kurikulum pengajaran terpadu dan menyeluruh untuk meningkatkan kualitas warganya. 

2). Bukankah baptisan kudus yang diperintahkan Yesus-Kristus menjadi alasan kuat bagi orang Kristen untuk mengikuti Ibadah Sakramen Perjamuan Tuhan ?

     Masalah tersebut akan dimengerti, jika dihubungankan dengan rumusan pernyataan danpertanyaan yang diajukan kepada orangtua yang membaptiskan anak/anak-anaknya :

a). Makna Baptisan Kudus.

Menurut rumusan Gereja dalam penjelasan tentang makna Baptisan Kudus,           dikatakan bahwa : “Orang yang dibaptiskan mengambil bahagian dalam persekutuan tubuh Kristus”. Itu berarti anak/anak-anak yang dibaptiskan menjadi anggota Gereja sebagai KELUARGA ALLAH = Tubuh Kristus melalui pembaptisan. 

b). Tugas Fungsional Orangtua selaku Pembimbing (paedagogos)

Selanjutnya, setelah penjelasan makna Baptisan Kudus, pelayan firman mengajukan pertanyaan kepada orangtua dan saksi : apakah saudara berjanji menjadi orangtua beriman dan teladan serta membimbing anak / anak – anakmu dalam pengajaran Gereja sampai mereka mengakui Yesus-Kristus selaku Tuhan dan Juruselamatnya ?. Pertanyaan ini mengandung pemahaman mengenai fungsi orangtua selaku pengajar dalam keluarga Kristen : membimbing anak-anak (paedagogein) kepada pengenalan akan Allah dan akan Yesus-Kristus selaku Tuhan dan Juruselamat. Tugas fungsional orangtua dapat juga dikatakan : tugas Gereja selaku KELUARGA ALLAH yang dilakukan dalam rumahtangga (Jemaat Keluarga)

c). Hubungan dengan Tugas Fungsional Gereja

     Perupaan eksistensi Gereja, sebagai perhimpunan orang-orang percaya, bukan saja bersifat individual tetapi juga institusinal / organisasi. Menurut Pemahaman Iman GPIB, orang-orang percaya diwakili oleh para Pejabat Gereja (Presbiter, yakni : PENDETA, PENATUA dan DIAKEN yang disebut : Majelis Jemaat). Mereka dipilih oleh Tuhan (Yoh. 15:16 -> “Akulah yang memilih dan menetapkan kamu…”) untuk menyelenggarakan tugas-tugas yang direncanakan Allah dan yang telah digenapi oleh Yesus-Kristus (Yoh. 17:18 -> “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku mengutus mereka …”; 15:16b -> “… supaya kamu pergi dan menghasilkan buah”). 

     Dalam Ibadah dengan memakai Tata Ibadah yang telah ditetapkan Gereja dilaksanakan pentahbisan / pengurapan Pendeta dan peneguhan Penatua – Diaken, warga Gereja mengakui kepemimpinan para pejabatnya.  Pentahbisan dan Peneguhan pun mengandung makna dari tujuan pengutusan, di mana para pejabat menyelenggarakan organisasi (persekutuan) serta memfungsikan pelayanan-kesaksian. Oleh karena itu, para presbiter perlu merancangkan kegiatan pengajaran  untuk memperlengkapi orang-orang kudus (warga jemaat, red) bagi pekerjaan pelayanan dan bagi pembangunan tubuh Kristus” (Efs. 4:12).  Di sinilah diletakkan fungsi bentuk katekisasi Gereja untuk memenuhi tugas pengajaran. 

d). Katekisasi -> Sidi dan Partisipasi ke dalam Perayaan Sakramen Perjamuan Tuhan.

     Meskipun seluruh Gereja mengakui Yesus-Kristus selaku Tuhan dan Pemimpin serta Alkitab sebagai landasan bergereja; akan tetapi masing-masing Gereja perlu saling mengakui dan menghormati tradisi yang diwariskan pendirinya. 

     Gereja GPIB adalah bahagian yang tidak terpisahkan dari persekutuan Gereja-Gereja Reformasi yang mewarisi tradisi calvinisme. Demi menjaga menyelenggarakan pekerjaannya (pemberitaan dan pengajaran serta pelayanan dan kesaksian dalam persekutuan), GPIB mengadakan dan menetapkan aturan-aturan (perangkat TATA GEREJA dan TATA IBADAH) yang bersumber dari kesaksian Alkitab. Hal ini dimaksudkan agar ada ketertiban penatalayanan / penatalolaan karya ibadahnya. 

     Salah satu ketentuan tertulis tentang peribadahan, terkait penyelenggaraan Ibadah Sakramen Perjamuan Tuhan, adalah : 

·         Menetapkan kewajiban bagi seluruh anggota jemaat yang telah dibaptiskan untuk mengikuti program katekisasi – sidi sebagai persyaratan mutlak untuk ikut mengambil bagian ke dalam perayaan Sakramen Perjamuan Tuhan.

·         Dengan demikian setiap warga Gereja yang dewasa (telah diteguh-sidikan) lebih mengetahui dan mengerti status dan fungsi, hak dan kewajibannya selaku misionaris (warga jemaat yang menjalankan misi Kristus). Pengenalan akan hal itu diharapkan dapat membuka kesadaran tiap anggota untuk proaktif dan berperan serta dalam mengerjakan pekerjaan Gereja dengan sopan dan teratur (I Kor. 14 : 40) dan untuk membawa damai sejahtera Allah (I Kor. 14 : 33). 

e). GPIB menghormati dan menghargai Akta Sakramen Baptisan

·         Sesuai Pemahaman Imannya, GPIB mengakui sifat keesaan Gereja Kristus di dunia. GPIB pun ikut merumuskan dan mendukung pernyataan PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) yang termaktub dalam 5 Dokumen Keesaan. Salah satu sikap yang mencerminkan dukungan GPIB adalah menerima setiap orang Kristen dari berbagai Gereja, jika yang bersangkutan ingin / menyatakan diri menjadi warga GIB. 


·         Akan tetapi bertolak dari Pemahaman Iman dan Ajarannya, GPIB mewajibkan / mengharuskan tiap orang yang telah dibaptiskan untuk mengikuti program katekisasi. Dengan cara demikian GPIB meluaskan warga yang telah diteguh-sidikan untuk mengambil bahagian dalam pekerjaan Gereja.

·         Dalam ketetapan Persidangan Sinodenya XVI GPIB, terkait PERANGKAT TEOLOGI, memutuskan pelaksanaan Ibadah Baptisan Orang Dewasa dilaksanakan sekaligus bersama-sama dengan Ibadah Peneguhan Sidi. Baptisan Orang Dewasa tidak dapat dilaksanakan berdiri sendiri dan terlepas dari Peneguhan Sidi Warga Gereja. 

Dengan demikian Gereja, berdasarkan Pemahaman Iman dan Ajarannya, tidak lagi melayani Baptisan Kudus bagi orang dewasa yang akan menikah. Siapapun yang akan menikah wajib harus telah diteguhkan terlebih dahulu. Ibadah Peneguhan Sidi pasangan yang akan menikah dilayani terpisah dari Ibadah Pemberkatan Perkawinan Kristen menurut Tata Ibadah yang telah ditetapkan GPIB (simaklah persyaratan Pemberkatan Perkawinan Kristen menurut aturan GPIB, termasuk juga KATEKISASI PRA-NIKAH yang harus diikuti oleh pasangan yang akan menikah). 

D.  METODE PEMBELAJARAN

1. Setelah memahami materi katekisasi ini, pengajar katekisasi memberikan kesempatan kepada peserta bina untuk mengajukan pertanyaan.

2.  Pengajar Katekisasi dapat pula mengajukan beberapa pertanyaan untuk didiskusikan secara berkelompok.

Medan, Senin – 31 Januari 2011

Salam dan Doaku,

Penulis

Pdt. Arie A. R. Ihalauw

1 komentar:

  1. TERIMA KASIH PAK PENDETA UTK POSTINGANNYA INI..SANGAT MEMBANTU... SSELAMAT MELAYANI...TYM,...SHALOM

    BalasHapus