Senin, 07 Februari 2011

Rancangan Pengajaran Hari Rabu, 09 Pebruari 2011 - BERITAKANLAH KABAR BAIK - Arie Ihalauw


RANCANGAN PENGAJARAN
HARI RABU, 09 PEBRUARI 2011


I. POKOK UTAMA
KARYA ALLAH

TUJUAN UTAMA
TUHAN, Allah kita,  ada serta senantiasa bekerja sesuai rencana dan  maksudnya, sebelum  alam semesta dan isinya diciptakan sampai segala sesuatu diakhiri-Nya.-
II. POKOK BAHASAN
KESELAMATAN
BAGI ORANG TERTINDAS


TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM
TUHAN, Allah kita, bekerja menyelamatkan dengan tujuan, agar orang percaya pergi memberitakan pekerjaan pembebasan yang dilakukan-Nya

III. SUB-POKOK BAHASAN

BERITAKANLAH KABAR BAIK

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS

Pengajaran ini dijadwalkan untuk diajarkan dalam pertemuan ibadah Jemaat sebagai KELUARGA ALLAH, agar

1.   Tiap warga jemaat sebagai anggota mengetahui dan mengerti, bahwa dengan kuasa-Nya yang dahsyat,TUHAN Allah telah menyelamatkan anggota KELUARGA ALLAH.

2.   Tiap warga jemaat menghayati akan kuasa Allah serta percaya, bahwa Dia mengadakan mujizat menurut kehendak dan waktu yang ditentukan-Nya.

3.   Tiap warga jemaat berpartisipasi dan berperan serta untuk memberitakan kabar baik.

4.   Warga jemaat menjalankan kehidupan pribadi dan keluarga serta kegiatan pekerjaan sesuai dengan kesaksian Alkitab yang berintikan firman Allah, sehingga semua orang yang melihatnya memuliakan Allah dan diselamatkan.

 BACAAN UNTUK MATERI URAIAN

KITAB RAJA – RAJA  7 : 4 – 9
                                       
MEDAN – SUMATERA UTARA

Senin, 07 Pebruari 2011

disusun oleh

PDT. ARIE A. R. IHALAUW

-----oooo000oooo-----

URAIAN MATERI

A.  PENDAHULUAN

Sepanjang perkembangan sejarah perang / peperangan sejak dahulu kala, tidak pernah ada kebaikan yang dapat dinikmati siapapun yang berperang. Pasti akan muncul kesusahan bagi yang menang maupun yang kalah. Perang menjadi jalan akhir yang ditempuh, ketika diplomasi politik tak bisa menciptakan jalan keluar. Perang juga merupakan pagelaran kekuatan militer yang lahir dari ambisi dan sikap arogan penguasa

A.1. Pengepungan Aram atas Samaria, Ibukota Kerajaan Israel-Utara. Cerita II Raja 7 : 4 – 9 yang menjadi materi pengajaran Hari Rabu, 09 Pebruari 2011 berlatar – belakangkan perang antara  Aram vs Israel (2 Rj. 6 : 8 -> Raja negeri Aram sedang berperang melawan Israel). Keadaan ini selalu muncul, karena alasan-alasan politik. Aram (Siria) adalah salah satu kekuasaan yang disegani di Timur Tengah. Penguasanya berpengaruh adata kehidupan po-ek-sos-bud (politik, ekonomi, sosial dan budaya) dalam wilayah-wilayah Kanaan. Sejak Israel menduduki wilayah Kanaan, kerajaan ini tidak lagi mengembangkan ekspansi militernya. Aram (Siria) melihat Israel sebagai penghambat ambisi politik dan militernya. Israel menjadi musuh Aram (Siria) sejak dahulu sampai sekarang ini.

Pada saat Ben-Hadad, Raja Aram mengepung Samaria, ibukota Kerajaan Israel (2 Rj. 6 : 24), Elisa menjadi nabi di sana. Akibatnya Israel bermasalah. Kehidupan sosial-ekonomi menjadi lumpuh. Pengepungan itu merupakan blokade ekonomi, sehingga pengadaan kebutuhan makanan semakin sulit. Tindakan tersebut akan memperlemah semangat,  supaya menimbulkan kekacauan politik dalam negeri Israel serta menguntungkan Ben-Hadad.  Kelaparan yang dimaksudkan dalam II Rj. 6 – 7 tidak berhubungan dengan bencana alam, melainkan dikarenakan perang di antara Aram – Israel. 

A.2. Pandangan Agama Israel tentang Penyakit Kusta. Cerita yang dijadikan perikop bacaan Hari Rabu, 09 Pebruari 2011, dimulai dengan percakapan di antara 4 (empat) orang kusta. Penderita kusta selalu diisolir dari kehidupan masyarakat, sebab, menurut keyakinan Israel, penyatkit itu adalah kutukan TUHAN ke atas manusia berdosa (Im. 13, ay. 5 -> : “… orang itu harus dinyatakan najis”; ay. 46 -> “selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis, ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya”). Hal itu sudah menjadi kebiasaan Israel. Dengan demikian kita perlu memahami, bahwa pengaturan kesehatan juga diundangkan dalam hukum agama. Sekarang ini muncul pandangan, bahwa secara medis kusta tidak membahayakan kehidupan sosial. Akan tetapi dahulu kala penyakit kusta merupakan ancaman bagi kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, penderitanya harus diasingkan (disanitasi). 

A.3. Karya Pemeliharaan Allah. Perang juga peperangan selalu membawa masalah kemanusiaan dan menghancurkan peradaban. Keadaan orang kusta yang menderita kelaparan di luar wilayah hunian diangkat penulis Kitab Raja – Raja sebagai pelajaran yang lahir dari pengalaman iman, agar membangun pengharapan iman kepada TUHAN

B.  URAIAN PERIKOP 2 RAJA 7 : 4 - 9

Saya mengajak pembaca menyimak prikop bacaan ini. Ada 4 (empat) pokok penting yang dituliskan dalam bacaan ini :

a. SEJARAH SOSIAL. 

b. MANUSIA. 

c. PERJUMPAAN DENGAN ALLAH YANG BEKERJA

d. TUGAS PEMBERITAAN


Kita akan menyimaknya satu demi satu, agar kita memahami makna teologis dalam peristiwa sosial seperti itu. 

Ad.a. SEJARAH SOSIAL
 
So pasti, semua penulis tulisan-tulisan dalam Alkita berangkat dari realitas sejarah sosial. Tindakan yang dilakukan keempat orang kusta, dalam ruang waktu dan tempat, menunjukkan hubungan langsung dengan peristiwa sosial yang terjadi pada kronologis sejarah Israel : penyerangan dan pengepungan Ben-Hadad, Raja Aram atas Samaria, ibukota Kerajaan Israel – Utara. Pengepungan itu berdampak luas atas kehidupan sosial masyarakat yang berada di dalam maupun di luar tembok Kota Samaria. 

Ad.b. MANUSIA DAN USAHANYA.

§  So pasti, setiap orang akan memikirkan tindakan konkrit untuk tetap mempertahankan hidup (survive) menghadapi masalah ekonomi. Pemikiran seperti itu juga terdapat dalam benak penderita kusta (Memikirkan PERENCANAAN STRATEGI – 2 Rj. 7 : 4b –> Jadi sekarang, marilah kita menyeberang ke perkemahan tentara Aram). Mereka bukan hanya berpikir merencanakan, tetapi sekaligus bertindak menyelamatkan diri dari ancaman. Hal ini naluriah.

§  Pelaksanaan strategi perlu disertai pertimbangan terkait situasi yang akan dihadapi jika meleset (Memikirkan PERTIMBANGAN KONDISI I – 2 Rj. 7 : 3 -> “Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati ?”;  PERTIMBANGAN KONDISI II – 2 Rj. 7 : 4a -> “Jika kita berkata : ‘Baiklah kita masuk ke kota, padahal dalam kota ada kelaparan, kita akan mati di sana’”; PERTIMBANGAN KONDISI III – 2 Rj. 7 : 4c –> “Jika mereka membiarkan kita hidup, kita akan hidup; jika mereka mematikan kita, kita akan mati”).

§  Ke – 3 pertimbangan itu tiba pada kesimpulan, bahwa apapun yang akan mereka lakukan, pasti mati (entahkah masuk ke dalam kota --- di sana pun terjadi kelaparan, --- atau pun menyusup ke perkemahan tentara Aram). Ke – 4 penderita kusta itu didesak oleh 2 (dua) kondisi : mati atau hidup. Mereka harus memilih di antara keduanya. Dan, mereka bertekad memilih untuk tetap bertahan hidup (survive), sebab tidak ada pilihan lain yang harus dijalani (tindakan ke – 4 penderita kusta -> 2 Rj. 5 -> “Lalu pada pada waktu senja bangkitlah mereka masuk ke dalam tempat perkemahan orang Aram itu”).

§  Demi mempertahankan hiduplah ke – 4 orang kusta memikirkan strategi  yang akan ditempun serta kondisi yang akan dihadapi. Memilih dan menjalankan rencana apapun, pasti mati. Akan tetapi sebelum mati konyol, mereka berusaha melakukan yang terbaik demi memperoleh pembebasan dari masalah.

Ad.c.  PERJUMPAAN DENGAN ALLAH YANG BEKERJA

§  Semua usaha / pekerjaan dapat dilakukan siapapun untuk melepaskan diri dari kesulitan, tetapi TUHAN Allah sajalah yang menggagalkan atau membuatnya berhasil (bd. Yes. 45:7 -> “Akulah yang menjadikan nasib malang dan menciptakan nasib mujur”; Maz. 127 : 2 -> Ia memberikan roti kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur). Ke – 4 penderita kusta itu, didorong keinginan untuk mempertahankan kehidupan,  meskipun sedang menghadapi kesusahan, tetap melaksanakan strategi yang telah dipikirkan dan direncanakan matang.

§  Rasa putus menghadapi masalah tidak membuat ke – 4 penderita kusta menghentikan usahanya. Justru sebaliknya menjadi dorongan kuat untuk menyusup ke dalam perkemahan tentara Aram (2 Rj. 7 : 5 -> “Lalu pada pada waktu senja bangkitlah mereka masuk ke dalam tempat perkemahan orang Aram itu”).

§  Allah selalu bekerja mendahului tindakan manusia. Hal ini perlu diperhatikan secara baik-benar. Sebelum ke – 4 penderita kusta itu masuk ke perkemahan, mujizat terjadi : tentara Aram menjadi takut dan melarikan diri, karena mereka mendengar derap pasukan berkuda sedang menuju bumi perkemahan mereka (bd. ay. 6 – 7). Penulis Kitab Raja – Raja menyatakan : “TUHAN telah membuat” (ay.6) atau, dengan kata lain : TUHAN telah bekerja !

TUHAN telah membuat … ! Kalimat pernyataan ini selalu muncul mendahului setiap tindakan manusia. Cobalah ingat kembali ucapan Abraham kepada Ishak, ketika ia akan mengorbankan anaknya itu :

Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawa api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah ishak kepada Abraham, ayahnya : “Bapa”, sahut Abraham : “Ya, anakku !”. Bertanyalah Ishak : “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran ?”. Sahut Abraham : “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku”. Lalu kedua orang itu berjalan bersama-sama.
Kalimat aktif seperti : TUHAN telah menyediakan; TUHAN telah membuat; TUHAN telah melakukan; TUHAN membuat berhasil, dan lain-lain bermakna teologi serta menunjuk pada aktivitas Allah dalam sejarah dan kehidupan ciptaan-Nya.  Melalui kalimat aktif itu para nabi menubuatkan dan para penulis mencatatkan, bahwa Allah masih terus bekerja untuk menyelamatkan dan membebaskan umat-Nya sampai hari ini dalam peristiwa-peristiwa sejarah. Oleh karena itu, umat tidak perlu merasa kuatir lalu menjadi takut. 

§  Hasil dari pekerjaan TUHAN itu disebut mujizat. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah dengan kekuatan kuasa-Nya yang dahsyat disebut manusia : “tanda ajaib” atau “mujizat”, sesuatu yang tidak mustahil (mungkin) dilakukan dan dipikirkan manusia menjadi mustahil (mungkin) bagi Allah. Apa yang didengar dan dilihat ke – 4 orang kusta adalah keajaiban / mujizat, di mana Allah memamerkan kuasa-Nya.

§  Memberitakan kebaikan TUHAN. Ke–4 orang penderita kusta menikmati kebaikan Allah sepuas-puasnya. Akan tetapi hal itu tidak membuat hatinya tenang. Ke-4 orang itu resah (7 : 9 -> “Tidak patut kita lakukan ini. Hari ini ialah Hari Kabar Baik, tetapi kita ini tinggal diam saja. Apabila kita menanti sampai terang pagi, maka hukuman akan menimpa kita. Jadi sekarang mari kita pergi menghadap untuk memberitahukan hal itu ke istana raja”).

Ad.d. Tugas Pemberitaan Kabar Baik.

Dalam 7 : 9 diceritakan bahwa ke – 4 orang penderita kusta itu telah menikmati kebaikan TUHAN, serta ada 4 (empat) pesan moral :

1)   Hari Kabar Bahagia

i.   Larinya tentara Aram dari perkemahan merupakan sebuah peristiwa mengejutkan. Pasukan yang kuat dan pemberani, ternyata takut menghadapi bahaya. 

ii.  Peristiwa itu terjadi karena campur tangan TUHAN. Dia bekerja menyelamatkan umat-Nya dari ancaman kelaparan yang mematikan. 

iii. Pada saat bersamaan Dia juga memberikan kelepasan bagi orang-orang sengsara yang menggantungkan harapan kepada-Nya.

iv. Kabar Bahagia (Yun. euanggelion; Arb : Injil) itu terkait erat dengan pekerjaan penyelamatan / pembebasan yang dilakukan oleh Allah.

2)   Tidak patut kita lakukan ini…, kita ini tinggal diam saja

i.   Ke-4 orang penderita kusta adalah orang pertama yang menikmati pembebasan yang dikaruniakan Allah.

ii.  Pembebasan itu bukan bersifat rohaniah saja tetapi meliputi seluruh bidang kehidupan. Dalam peristiwa pengepungan Aram terhadap Samaria, kita dapat melihat makna pembebasan itu. Penduduk Samaria tidak saja terbebas dari rasa takut, melainkan dari kekurangan bahan pangan, penindasan/penjajahan Aram, ekonomi dan sebagainya. 

iii. Sikap terhadap karya Allah. Ke-4 orang penderita kusta merasa berdosa/bersalah/tak enak hati, setelah puas menikmati anugerah Allah, tetapi tidak membe-ritahukan hal itu kepada raja dan seluruh rakyat. 

3)   Kita pergi untuk memberitahukan

Ke-4 orang penderita kusta itu diselamatkan oleh Allah untuk menjadi pemberita kabar baik. Ada pesan moral di sini : jangan tahan kebaikan Allah untuk dinikmati sendiri. Bagikan juga kepada semua orang yang dikenal maupun tidak dikenal, agar mereka pun memperoleh kebaikan TUHAN.

4)   Karya Pembebasan menunjukkan Kasih dan Kuasa Allah

i.   Kita selalu terpaku dan terpukau pada peristiwa (tanda-tanda) yang kelihatan, sehingga melupakan apa yang tidak kelihatan. So pasti, larinya tentara Aram dari perkemahannya hanya dipahami terhubung pada pekerjaan Allah yang membebaskan. 

ii.  Padahal ada makna tersirat yang jauh lebih dalam dari sebuah tindakan nyata, yakni : KASIH dan KUASA ALLAH yang tertuju pada umat-Nya. Oleh karena kasih-Nya Dia mengambil inisiatif untuk menyelamatkan. Pekerjaan itu menunjukkan, bahwa Dia adalah satu-satunya Allah yang memiliki kuasa

iii. Karena kasih-Nya pula Allah melanjutkan pemeliharaan dengan memberikan perlindungan kepada orang-orang tertindas. 

C.   APLIKASI : Pembentukan kepribadian dan karakter Warga / Pejabat Gereja selaku Pelaksana Misi

Cerita perikopal II Raja 7 : 4 – 9 dapat dimanfaatkan untuk mengajar dan membimbing akalbudi warga/pejabat Gereja tentang :

C.1. Mengenal maksud dan tujuan Allah di balik peristiwa sejarah
 
a). Setiap peristiwa (entahkah susah atau senang, menyulitkn atau membahagiakan, gagal atau sukses, dll) wajib dipahami melalui pertanyaan ini : apakah maksud dan tujuan Allah di balik peristiwa sejarah yang saya alami.

b). Pengalaman iman sepanjang perjalanan itu akan menguatkan kepribadian dan membentuk karakter tiap anggota Gereja, selaku KELUARGA ALLAH, agar mampu mengemban tugas-tugas gerejawi kelak.

C.2.  Mengemban tugas pemberitaan

a). Kepekaan hatinurani merupakan persyaratan mutlak dalam melaksanakan tugas pemberitaan. Kepekaan hati nurani bukan saja ketika kita menyaksikan penderitaan sesama, tetapi bagaimana kita mengerti dan membaca kondisi sesama yang menderita sebagai panggilan TUHAN, agar kita dapat menjalankan tugas pemberitaan (kesaksian) dan penggembalaan (pelayanan). Acapkali hal ini terlewatkan, karena mementingkan kepentingan sendiri (bd. simaklah kepekaan ke-4 orang penderita kusta : “Tidak patut kita lakukan ini. Hari ini ialah Hari Kabar Baik, tetapi kita ini tinggal diam saja. Apabila kita menanti sampai terang pagi, maka hukuman akan menimpa kita. Jadi sekarang mari kita pergi menghadap untuk memberitahukan hal itu ke istana raja” – II Rj. 7 : 9).

b). Kepekaan hati nurani dibutuhkan dalam kehidupan bersama Gereja, selaku KELUARGA ALLAH. Hal itulah yang melahirkan kepribadian dan membentuk karakter sebagai kita sebagai pemberita ‘kabar baik’ (ay. 9), baik secara individual maupu kolektif.

c). Pada butir C.3.b dikatakan : “Kita sebagai pemberita ‘kabar baik’ (ay. 9), baik secara individual maupu kolektif”. Kata ganti orang ke-3 jamak menunjuk pada kebersamaan antara “aku” dan “kau”. Kita adalah Gereja. Kita adalah KELUARGA ALLAH, yang dibangun oleh Allah di atas dasar Kristus selaku batu penjuru (I Kor. 3:11; I Pet. 2 : 3 – 5 -> ”Jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan. Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persemnahan rohani, yang karena Yesus-Kristus berkenan kepada Allah”).

d). Sama seperti ke-4 orang penderita kusta, kita juga telah menerima kebaikan Allah. Sama seperti ke-4 orang itu dinajiskan dan dikucilkan atas perintah Allah, kita juga adalah orang yang dinajiskan karena penyakit dosa. Dan, oleh karena itu, sama seperti ke – 4 orang itu, oleh kesadaran sendiri, pergi untuk memberitakan kabar baik; demikianlah hendaknya kita pun  berpikir untuk menjadi pelayan Allah yang memberitakan kabar baik.  Hanya dengan cara itu, kita membawa kabar pembebasan / penyelamatan atas orang-orang sengsara (bd. Yes. 61 : 1 – 3; Luk. 6 : 18 – 19).

SELAMAT MENYUSUN PENGAJARAN

Medan – Sumatera Utara,

Senin, 07 Pebruari 2011

Salam dan Doaku

Arie A. R. Ihalauw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar