Rabu, 08 Mei 2013

CONTOH MATERI BINA DASAR 2 - Kursus Alkitab tentang KITAB NABI HOSEA = Prog. 2013-2014 GPIB PETRA CILUAR - BOGOR


Materi – 2  : HOSEA
Kursus Alkitab  Malam
GPIB Jemaat PETRA – Ciluar di Bogor
  

KITAB NABI HOSEA 

הושע

ditulis oleh

ARIE A. R. IHALAUW

***

A.  PENDAHULUAN

KITAB NABI HOSEA (Hoshea – הושע)

Kitab ini merupakan tradisi lisan yang dituliskan kembali oleh redaksi. Hal tesebut dapat dibaca melalui catatan redaksi yang tertulis pada pasal 1 : 1Firman TUHAN yang datang kepada Hosea bin Beeri pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda, dan pada zaman Yerobeam bin Yoas, raja Israel.” Di dalam tersebut kita menemukan beberapa catatan penting, yakni :

a.    Silsilah Hosea. Ayahnya bernama Be’eri.

b.    Hosea menerima panggilan Allah untuk diutus sebagai nabi di Israel Utara. Nabi adalah seorang penduduk asli dari salah satu suku yang mendiami wilayah utara.

c.   Hosea bekerja pada masa pemerintahan Yerobeam II.  disebut juga, Yerobeam bin Yoas, raja di Israel Utara. Dan juga beberapa Raja Yehuda di Yerusalem, yaitu : Raja Uzia (2 Rj. 15:1–17; 2 Taw. 26:1–23), Raja Yotam (2 Rj. 15:32–38; 2 Taw. 27:1–9), Raja Ahas (2 Rh. 16:1–20; 2 Taw. 28:1–27) dan Raja Hizkia (2 Rj. 18:1-4; 2 Taw. 29:1-2).

B. KONDISI MASYARAKAT ISRAEL UTARA PADA MASA PEMERINTAHAN YEROBEAM DAN MASA KERJA NABI HOSEA.

1.    Tentang Yerobeam dan keadaan Kerajaan Israel Utara dan ibukotanya, Samaria, kita membacanya dalam Kitab Raja (2 Rj. 14:23-29). Meskipun redaktor Kitab 2 Raja menuliskan perilaku buruk Yerobeam, bahwa “Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. Ia tidak menjauh dari segala dosa Yerobeam bin Nebat, yang menyebabkan orang Israel berdosa pula” (2 Rj. 14:24); akan tetapi dicatat pula keberhasilan yang dicapai selama pemerintahannya (2 Rj. 14:25 => Ia mengembalikan daerah Israel, dari jalan masuk ke Hamat sampai ke Laut Araba sesuai dengan firman TUHAN, Allah Israel, yang telah diucapkanNya dengan perantaraan hamba-Nya, nabi Yunus bin Amitai dari Gat-Hefer”).

2.      Kondisi politik ekonomi dan pertahanan keamanan nasional Israel Utara --- pada masa Yerobeam --- berada pada puncak kejayaan. Namun penulis Kitab Raja menerangkan, bahwa kemakmuran itu hanya dinikmati oleh kelompok elit pemerintahan dan kaum pedagang. Sementara rakyat Israel Utara menderita kesengsaraan (Sebab TUHAN telah melihat betapa pahitnya kesengsa-raan orang Israel itu: sudah habis lenyap baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya, dan tidak ada penolong bagi orang Israel.=> 2 Rj. 14:26).

3.    Pada masa itulah TUHAN, Allah Israel, mengutus 2 (dua) prang nabi sekaligus, yakni : Hosea bin Be’eri dan Amos, seorang peternak domba (Ams. 1:1) dan petani buah ara hutan (Ams. 7:14), yang berasal dari Tekoa di wilayah Yehuda.

C.   PEMBERITAAN NABI HOSEA

1.   Panggilan Hosea menjadi Nabi

Panggilam Hosea sangat unik di antara nabi-nabi Israel Utara maupun dalam wilayah Yehuda. Dalam Kitab Hosea 1 – 3, Allah menyuruh nabi menikahi 2 (dua) perempuan berbedam tetapi memiliki sifat yang sama.

CERITA 1 (Hos. 1:2-9)

Nabi disuruh Allah mengambil seorang pelacur-suci menjadi isterinya. Namanya Gomer binti Diblaim (1:3). Gomer memperanakan anak-anak bagi Hosea, yang pertama seorang anak laki-laki bernama Yisreel, maknanya : “Berilah nama Yizreel kepada anak itu, sebab sedikit waktu lagi maka Aku akan menghukum keluarga Yehu karena hutang darah Yizreel dan Aku akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel” (Hos. 1:4); yang kedua seorang anak perempuan bernama Lo-Ruchama, artinya : “Aku tidak menyayangi lagi kaum Israel, dan tidak akan mengampuni mereka” (1:6b). Kemudian dilahirkannya anak ketiga, seorang laki-laki, bernama Lo-Ami, artinya : “Kami ini bukan umatKu dan Aku bukan Allahmu” (1:9). Setelah melahirkan kedua anaknya, Gomer meninggalkan Hosea. 

MAKNA PEMBERITAAN SIMBOL DALAM CERITA II

Cerita 1 menyiratkan beberapa makna dalam pemberitaan Nabi Hosea, antara lain :

a) Cerita ini merupakan ilustrasi yang menggambarkan sikap hati Israel terhadap TUHAN, Allahnya. Israel disimbolkan seperti bersundal (perempuan pelacur murahan) yang selalu bergonta-ganti pasangan tidur.

b)  Latarbelakang simbol ini berbasiskan pengenalan akan Allah (Ibr. yada elohim) menurut Taurat butir 2 (Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” => Kel. 20:5).

c) Nabi Hosea menyoroti kembali sejarah pembentukan / penciptaan umat Allah (Bangsa Israel) dengan mengatkan pada tradisi exodus dari Mesir. Katanya : Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu” (Kel. 4:22 => “Maka engkau harus berkata kepada Firaun : Beginilah firman TUHAN : Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung”). Akan tetapi Israel tidak setia menngasihi Allahnya “dengan segenap jiwa, dengan segenap hati, dan dengan segenap kekuatan” (bd. Ul. 6:5). Mereka mengkhianati TUHAN, kata nabi : “Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung” (Hos. 11:2). Inilah yang dimaksudkan nabi : Negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN" (Hos. 1:2b).

d)  Sementara, menurut nabi, TUHAN selalu “mengajar Israel berjalan, menggendong dengan tanganNya dan menyembuhkan.” Perbuatan Allah itu memperli-hatkan kesetiaan dan kasihNya terhadap perjanjian yang telah diberikanNya (Hos. 11:3-4).

e) Akhirnya TUHAN, Allah Israel, memutuskan untuk menghakimi dan menghukum Israel Utara, Samaria. Itulah arti dari kedua nama anak Hosea bersama Gomer binti Diblaim,  Lo-Ruchama dan Lo-Ami.

CERITA 2 (Hos. 3:1-5).

Setelah beberapa waktu lamanya, kemudian Allah menyuruh nabi menikahi “seorang perempuan yang suka bersundal dan berzinah” (3:1). Hosea melakukannya sesuai perintah Allah. Perkawinan ini berbeda dengan yang dilakukannya bersama Gomer binti Diblaim. Hosea membeli (membayar mahar perkawinan) sebesar 15 syikal dan satu setengah homer jelai kedelai (3:2).

MAKNA PEMBERITAAN SIMBOL DALAM CERITA II

a) Dosa dan kejahatan Israel Utara kepada Allah tidak terampunkan. Mereka dihukum-Nya (bd. Hos. 1:4 => “sedikit waktu lagi maka Aku akan menghukum... dan Aku akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel”; bd. 9:17 => “Aku akan membuang mereka). Hosea belum bebicara tentang bentuk penghukuman, yang pasti, Israel Utara akan dihukum. Gosea mengecam dosa Israel. Ia menterjemah-kan ucapan Allah : ”Negeri ini telah membelakangi Aku” (bd. Hos. 11:7 => “UmatKu betah membelakangi Aku) ke dalam berbagai bentuk, antara lain :

·       Mempersembahkan korban kepada ilah-ilah (Hos. 4:13; bd. 7:16; 9:10; 13:2);
·       Roh perzinahan ada di dalam diri Israel, sehingga tidak mengenal TUHAN (Hos. 5:4);
·       Tidak tulus menyembah Allah (Hos. 7:14);
·       Mengkhianati TUHAN (Hos. 5:7);
·       Dosa di bidang politik (Hos. 8:9);
·       Israel melupakan Pembuatnya (Hos. 8:14; bd. 4:6);
·       Hatinya licik terhadap Allah (Hos. 10:3);
·       Israel menimbulkan sakit hati TUHAN (Hos. 12:15);
·       Israel tidak mengenal Allah (Hos. 4:6);
·       Melupakan ajaran Allah (yang dimaksudkan adalah Hukum Taurat => Hos. 4:6);
·       Dan lain-lain.

b)  Pengenalan akan Allah (Ibr. yada elohim)

1.    Tradisi Yakub.

Hosea mengawali gagasan tentang pengenalan akan Allah dengan menegaskanm bahwa Allah lebih dulu mengenal engkau (Hos. 13:5); Aku ini mengenal Efraim (Hos. 5:3). Untuk membuk-tikan kebenaran gagasan itu, nabi memakai tradisi Yakub, lelujur Israel: “Yakub melarikan diri ke tanah Aram[1] dan Israel memperhambakan diri untuk mendapat isteri[2], ya, untuk mendapat isteri ia menjadi gembala”[3] (Hos. 12:13).

2.    Tradisi Exodus dan Padang gurun.

Hosea memakai tradisi exodus untuk membukti-kan, bahwa Allah mengenal Israel, sebab Dialah yang menciptakan bangsa Israel. Dia memangggil mereka sebagai anakNya. Malahan nabi menegas-kan, bahwa Allah sudah mengenal mereka dari Mesir[4]. Malahan Hosea menjelaskan, bahwa Allah juga menyertai Israel selama pengembaraan di padang gurun[5].

c)   Monotheisme Allah. Gagasan ini hanya muncul satu kali saja dalam Kitab Hosea[6]. Ayat ini diragukan berasal dari nabi; akan tetapi kita boleh menyepakati, bahwa cikal bakal gagasan monoteisme Allah sudah mulai diperdengarkan pada masa itu untuk melawan penyembahan dewa-dewi (politeisme dalam budaya-agama-suku Kanaan).

d)  Pengenalan Allah akan umat bersumber dari hatNya yang mengasihi umat, demikian pula Israel wajib setia mengasihiNya.

e) Sesudah masa penghukuman Allah bangkit menyayangi Israel kembali. Tindakan penyelamatan itu bersumber dari hatiNya yang berbelas kasihan (Hos. 11:8b => Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak”). Ia akan mengumpulkan Israel dan Yehuda bersama-sama. Inilah nubuat nabi tentang masadepan yang akan datang : “Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari TUHAN, Allah mereka, dan Daud, raja mereka. Mereka akan datang dengan gementar kepada TUHAN dan kepada kebaikanNya pada hari-hari yang terakhir” (Hos. 3:5).

f)    Gagasan Teologi Penebusan dan pengharapan mesianik (Hari TUHAN).

·   Tindakan nabi ‘membeli’ perempuan pelacur, sesungguhnya melambangkan penebusan Allah atas Israel (Hos. 3:2 => “aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai”). Gambaran itu sangat jelas dalam pasal 2, di mana Allah mengatakan : “Aku akan mengikat perjanjian bagimu pada waktu itu... Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteriKu dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN.” (Hos. 2 : 18-20).

·   Frasa pada waktu itu sangat kental dipakai dalam tradisi nabi-nabi. Ia memiliki 2 (dua) makna berfungsi untuk menunjukkan peristiwa yang pernah dibuat Allah di masa lampau, sekaligus merupakan antisipasi akan masadepan. Sama seperti Allah bertindak membebaskan Israel di bawah penindasan bangsa Mesir, demikianlah Dia akan mengulangi hal tersebut dalam sejarah bangsa pilihan itu.

·    Keadaan itu akan tercipta setelah Allah membuat perjanjian baru, sebab perjanjian yang lama itu telah dilangkahi Israel.

g)   Reuni keluarga. Hosea memakai keluarganya sebagai simbol persekutuan umat bersama Allah. Seorang laki-laki mengambil perempuan menjadi isterinya dengan membuat ikatan perjanjian dan disahkan menurut kebiasaan masyarakat tentang pelunasan mahar perkawinan. Mahar, sesungguhnya, menunjuk pada pelunasan hukum perjanjian perkawinan. Dan, Allah telah melakukannya secara sempurna. Dia sendiri yang melamar Israel, perempuan pelacur itu. Hanya satu tujuanNya, menyelamatkan Israel dengan cara mengembalikan dia pada posisinya semula, namun dalam kondisi baru : “Pada waktu itu (menunjuk pada masadepan), demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku : Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku ! Aku menjauhkan nama para Baal dari mulutmu, maka nama mereka tidak lagi disebut” (Hos. 2:16-17). Orang di Israel tidak lagi mendengar perkataan : “Kamu ini bukan umatKu dan Aku ini bukan Allahmu” (Hos. 1:8); akan tetapi seluruh umat akan berseru : “Engkaulah Allah kami, dan kami ini umatMu.”

h)  Ibadah kepada Allah.

·  Berbeda dari Amos yang menekankan ibadah Israel dalam bidang pelayanan sosial, Hosea mengarahkan umat Israel untuk mengasihi Allah. Ibadah, menurut nabi Hosea, bukanlah sekedar persembahan korban dalam pertemuan jemaah. Israel berpikir, seakan dengan memenuhi tuntutan Hukum Taurat dalam hal persembahan korban, maka Allah menyenanginya (bd. Hos. 8:13a[7]).

·  Dalam pandangan Hosea, kualitas ibadah kepada Allah wajib memperlihatkan pengenalan akan Allah, kebenaran dan keadilan, kasih-sayang dan kasih-setia, belas-kasihan. dan kesetiaan. Allah tidak menuntut korban sembelihan (Hos. 6:6; bd. Amos 5: 21-27).  Apakah arti makna korban persembahan, jika diberikan tanpa hati yang mengasihiNya ? Menurut Hosea, Ibadah yang benar harus dinaikkan dari hati dan pikiran yang mencintai TUHAN. Ibadah yang demikian hanya dapat dilakukan, jika Israel memberlakukan ajaran --- kehendaNya --- sesuai Taurat. Ibadah tanpa dilandasi oleh pengenalan akan Allah dan tanpa hati yang mencintaiNya, bukanlah ibadah sejati. Di dalamnya lahir kemesraan, dan kerinduan kepada Allah. Ibadah semacam ini akan berbuah melalui perbuatan baik sehari-hari dalam kehidupan bersama masyarakat. Jadi, jika praktik penyembahan dibuat tanpa kemesraan cinta kepada Allah, tidak berbeda dengan praktik ritual yang diadakan oleh penganut budaya-agama-suku Kanaan.

D. KONTEKSTUALISASI PESAN HOSEA KEPADA ORANG KRISTEN YANG MELAK-SANAKAN IBADAH DI INDONESIA

1)  Kenalilah TUHAN, Juruselamat ! (Hos. 13:4).

Dialah Allah yang setia mengasihi dan merachmati kita. Seharusnya kita menyadari, bahwa Allah menunjukkan kasih-sayang serta membuat berhasil segala usaha yang kita kerjakan (bd. Ul. 8:17-18 => Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu : Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.”). Rachmat atau berkat itu menyatakan cinta-kasih yang dianugerahkan oleh Dia ke dalam kehidupan kita, dengan maksud mengokohkan ikatan perjanjianNya di dalam Kristus Yesus. Oleh karena itu, kita wajib mencintaiNya dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap akalbudi.

2)  Bukan persembahan korban yang dimintai Allah, tetapi hati dan pikiran yang mengenal Dia dan memberlakukan segala firmanNya.

3)  Ibadah yang dilaksanakan tanpa hukum (kebenaran) tidak akan membagikan keadilan (salah satunya adalah kesejahteran sosial). Ibadah, jikalau ia diselenggarakan tanpa kasih-setia, tak akan mungkin menampakkan kesetiakawanan sosial, kepedulian dan keberpihakan terhadap seruan Allah melalui mulut kaum dhuafa dan fakir miskin. Ibadah yang dilakukan tanpa kesetiaan (iman) akan melahirkan keangkuhan, dan tanpa kasih-sayang (cinta) seluruh bentuk pelayanan-kesaksian Kristen bagaikan korban bakaran Kain di hadapan TUHAN. Tanpa cinta, mustahil ibadah Kristen diberkati Allah.

E.   TUGAS PESERTA BINA.

1.  Diskusikan isi pemberitaan Nabi Hosea dalam konteks masyarakat Indonesia yang sedang membangun masa depannya (setiap kelompok wajib memasukkan dan melaporkan hasil diskusi bersama).

3.   Kita menyaksikan banyak khotbah yang secara halus atau tersirat memaksa warga je-maat memberikan berbagai persembahan. Menurut pendapat saudara, apakah makna Ibadah Jemaat (pujian, doa, persembahan korban, persepuluhan), jika dilakukan tanpa cinta-kasih ? Jelaskan pendapat saudara !

4.   Jika saudara menyimak serta menyimpulkan penjelasan di atas, bagaimanakah ibadah yang sejati (menurut Nabi Hosea) ? Sudahkah ibadah sejati itu tampak dalam pelayanan Kristen dalam beragam denominasi ferejawi ? Jelaskan pendapatmu dalam diskusi kelompok !

Ciluar – Bogor,
Perayaan Pemuliaan Yesus Kristus
Kamis, 09 Mei 2013

PEMBINA

Arie Arnold Ihalauw

Arsp/ari ihalauw



[1]     Kej. 27:41 – 29:30
[2]     Kej. 29:18
[3]     Kej. 29:30
[4]   Hos. 11:1 => Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anakKu itu”; bd. Kej. 4:22.
[5]   Akulah yang mengenal engkau di padang gurun, di tanah yang gersang. Ketika mereka makan rumput, maka mereka kenyang; setelah mereka kenyang, maka hati mereka meninggi; itulah sebabnya mereka melupakan Aku” (Hos. 13:5-6; bd. Ul. 6:11-12)
[6]    “Aku adalah TUHAN, Allahmu sejak di tanah Mesir; engkau tidak mengenal allah kecuali Aku, dan tidak ada juruselamat selain dari Aku” (Hos. 13:4; Yes. 45:6b, dab ayat lainya).
[7]    Mereka mencintai korban sembelohan, mereka mempersembahkan daging dan memakannya, tetapi TUHAN tidak berkenan kepada mereka.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar