Jumat, 17 Mei 2013

Rancangan PEMBERITAAN FIRMAN dalam Ibadah Keluarga - Rabu, 22 Mei 2013




GEREJA PROTESTA DI INDONESIA BAGIAN BARAT
G P I B
Majelis Jemaat PETRA Ciluar di Bogor
Jalan Raya K S. Tubun – Km. 7 Cibuluh – Bogor


RANCANGAN
PEMBERITAAN FIRMAN
DALAM KEBAKTIAN KELUARGA

KEESAAN JEMAAT
DI DALAM KRISTUS

I KORINTUS 12 : 27 - 31

THEMA

Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.
I KOR. 12 : 27

Cibuluh – Bogor
Hari Jumat, 16 Mei 2013

disusun oleh
ARIE A. R. IHALAUW

-----ooo00ooo-----

PENDAHULUAN

A.  PENDAHULUAN

Ketika akan menyusun pemberitaan firman, seharusnya, kita memikirkan kondisi sosial dan kondisi jemaat yang sedang berjalan. Fenomena ini membantu kita untuk menerapkan teologi alkitabiah ke dalam keadaan tersebut, sehingga audiens (pendengar) mencerna inti berita yang diajarkan.

Ingatlah, bahwa khotbah yang disampaikan bukan atau tidak sama persis dengan firman Allah ! Khotbah adalah tafsiran si pelayan firman terhadap naskah Alkitab yang dipilih dan ditetapkan sebagai bahan bacaan. Kualitas khotbah tidak bertindih tepat (tidak sama persis) dengan firman Allah, sebab yang disebutkan firman Allah adalah ucapan-ucapan yang langsung (direct sentences) keluar dari mulutNya. Dengan demikian, seorang pelayan firman harus memiliki kesadaran tinggi, supaya ia mengawasi diri sendiri dalam penyampaian berita tersebut.

Uraian ini dimulai dari penjelasan tentang konteks sosial dan konteks jemaat :

A.1.Kontek sosial

a.    Salah satu masalah yang sedang dihadapi Bangsa Indonesia adalah banyak warga negara meragukan keesaan (kesatuan) wawasan kebangsaan. Keraguan itu dilandasi berbagai tindakan anarkis kelompok agama tertentu terhadap penganut agama yang berbeda : penutupan gedung ibadah, tindakan kekerasan terhadap penganut seagama dari aliran yang berbeda, dan lain-lain. Sementara pemerintah hanya merumuskannya sebagai kecemburuan sosial. Tak ada solusi yang tuntas atas masalah perselisihan di kalangan agamawan.

b.    Munculnya gerakan separatis di Irian Jaya yang menuntut kemerdekaan penuh, namun dipolitisir oleh berbagai pihak seakan penduduk Papualah membuat masalah. Alangkah dahsyatnya tudingan tersebut tanpa mengkaji masalah dasar, di mana seluruh kekayaan di tanah Papua diperah habis-habisan, sementara rakyat Papua tidak memperoleh kesejahteraan dari hasil buminya (kasus Timika).

c.     Wawasan kesatuan bangsa semakin dipertanyakan sehubungan dengan kesenjangan sosial antara kaum borjuis (bangsawan, pemimpin, konglomerat) dan proletar (rakyat biasa). Kadang kita bicara soal kesatuan bangsa hanya dari aspek geopolitik semata, tetapi kurang memperhatikan kesetiakawanan dan kemitraan dalam proses membangun bangsa. Ini juga masalah lama dalam kemasan baru.

A.2. Konteks Jemaat dan Gerakan Keesaan (ekumenis)

a.    Manipulasi pesan Yesus tentang Pemberitaan Injil merusakkan persekutuan ekumenis. Tidak kalah pentingnya dengan masalah kebangsaan, di dalam persekutuan umat Kristenpun muncul bera-gam masalah pelik terkait gerakan ekumenis. Kasus-kasus sengketa antar umat seiman dipacu dan dipicu semangat penginjilan membabi buta. Konsep peng-injilan yang tidak sehat dikembangkan dengan tujuan pembaptisan ulang (kristenisasi terhadap orang yang sudah Kristen, tetapi malas ke gereja), dengan tujuan memperbanyak anggota Gereja. Para pemimpin Gereja saling menuding dan melempar isu, seolah Gerejanya yang memiliki Rohkristus, sementara yang lain tidak. Hal seperti itu menghambat kemajuan gerakan ekumenis.

b.    Kurangnya penguasaan Ajaran Gereja membaha-yakan kesatuan Jemaat. Beberapa Pejabat Gereja di tingkat jemaat kurang menguasai ajaran Gereja, tata Gereja, dan liturginya. Mereka suka “jajan rohani,” kemudian pengetahuan yang diperoleh di sana diterapkan dalam pelayanan jemaat.

c.     Penyalahgunaan otoritas mengancam keesaan. Ada juga bahaya penonjolan kekuasaan dan kekuatan material dari sekelompok orang dalam jemaat, dengan tujuan : dihormati, disegani dan dipilih men-jadi PHM; padahal tidak menguasai sistem pelayanan Gereja. Memang tidak semua pejabat Gereja berbuat demikian, tetapi secara fenomenal hal itu sungguh-sungguh dapat dibuktikan. Jangankan yang sudah pensiun, tetapi terlebih lebih yang masih berdinas aktifpun berpikir dan bertindak sedemikian.

d.    Kurangnya Pembinaan Warga dan Pejabat Gereja. Beberapa bersoalan yang dipaparkan di atas, sesung-guhnya, berakar dari pembentukan kepribadian dan karakter Gereja. Dan, ujung-ujungnya dapat disim-pulkan, bahwa Pembinaan Warga dan Pejabat Gereja kurang dijalankan secara baik benar.

Bagaimanakah kita menyoroti persoalan-persoalan di atas dengan menggunakan kacamata yang dipakai Paulus, ketika menyelesaikan kekisruhan di dalam Jemaat Korintus ?

B.   PERIKOP BACAAN DAN PENJELASANNYA

Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.
Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh.
Adakah mereka semua rasul, nabi, atau pengajar ? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat,
atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh ?
Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.

PENJELASAN

1.    Paulus menggambarkan persekutuan orang-orang percaya dalam bentuk “tubuh Kristus.” Terminologi (peristilahan) ini memerlukan penjelasan khusus.

2.    Marilah kita memeriksa penggunaan istilah ini dari sudut bahasa. Ia terdiri dari 2 (dua) kata : tubuh + Kristus. Kata tubuh menunjuk pada 2 (dua) gagasan mendasar. Pertama, keutuhan dan kesatuan fungsi dari bagian-bagian yang saling mengait dan berhubungan satu dengan yang lain. Kedua, menurut pemahaman iman Israel, tubuh adalah organ (benda) mati, bukan hidup.

Kata Kristus menunjuk pada Allah, kekuatan kuasa Allah, yakni RohNya yang menghidupkan. Ketika menggunakan istilah ini, rasul mentransformasikan pemahaman iman Perjanjian Lama ke dalam gagasannya. Secara tersirat Kristus bukan saja sesembahan orang Kristen, melainkan juga gagasan Yahudiisme tentang pengharapan mesianik serta kekuatan kuasa Allah.

Jika kedua kata benda itu digabungkan, maka maknanya mengalami perubahan : tubuh yang mati itu dihidupkan oleh kekuatan kuasa Allah (bd. konsep teologi penulis Kejadian (2 : 7 => “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”). Dengan demikian, tubuh  tidak mungkin berfungsi (hidup, bergerak), bila Allah tidak memberikan kekuatan kuasaNya, RohNya. Pengertiannya, Gereja / Jemaat sebagai organ mati (tubuh jasmani) tidak akan mungkin berfungsi (hidup, bergerak), jikalau orang-orang beriman (Kristen) tidak tinggal tetap dalam persekutuan dengan Allah (Kristus).

APLIKASI

GPIB Jemaat PETRA – Ciluar di Bogor adalah organ mati, jikalau seluruh warga dan pejabatnya tidak tinggal tetap di dalam persekutuan dengan Allah dalam iman kepada Kristus yang hidup. Mengapa ? Sebab persekutuan yang diikatkan oleh keinginan manusiawi (daging) tidak akan bertahan lama. Setiap warga dan pejabat akan memperlakukan organ Jemaat menurut keinginan dan kepentingan pribadi serta kelompok. Memang ada roh yang menggerakan organ Jemaat, tetapi roh itu berasal dari kehendak manusia, dan bukan dari Allah. Sebaliknya, jika seluruh warga dan pejabat dalam jemaat merelakan persekutuan ini dipimpin oleh Rohkristus, maka organ yang mati itu akan berfungsi baik-benar sesuai kehendak yang terkandung dalam tujuan Allah. Jemaat hanya menjadi organ hidup, jikalau Rohkristus memerintah di dalamnya. Dan, di situlah masing-masing anggota tubuh berfungsi menurut karunia pemberian Allah. Itupun berarti, persekutuan orang-orang beriman itu diikatkan oleh Rohkristus, berpikir dan bekerja bersama Allah dan sesama seiman untuk merealisasikan target yang ditentukan Allah, yakni keselamatan seluruh ciptaan.

Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat : pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh.

3.    Apakah Allah yang mengadakan jabatan gerejawi ataukah Gereja ? Apakah Pejabat Gereja dipanggil oleh Allah ataukah karena keinginan sendiri ? Bagaimanakah kita menerangkan hal itu, agar dipahami warga jemaat ?

a.       Pernyataan Paulus : “Allah menetapkan beberapa orang dalam jemaat,” tidak sama artinya dengan Allahlah yang mengadakan jabatan gerejawi. Dalam Injil Yohanes dituliskan ucapan Yesus : “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (15:16). Ucapan itu mengandung arti, seluruh orang Kristen dipilih dan ditetapkan Allah untuk menjalankan pekerjaanNya, bukan hanya pejabat Gereja. Di kemudian hari, setelah sistem organisasi Gereja diadakan dan berkembang, barulah ucapan-ucapan Yesus dibijaki dalam aturan-aturan pengadaan pejabat Gereja. Salah satunya adalah ton presbuterion (Dewan Tua-Tua Jemaat atau Majelis Jemaat). Dalam kerangka berpikir formal, Dewan Tua-Tua Jemaat menjadi perwakilan Jemaat secara institusional (bd. narasi tentang pengangkatan Tua-Tua => Kel. 18:13-27).

b.      Bermitra bersama Allah. Pada tulisannya yang lain, Paulus mengutip pendapat umum : “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah” (I Tim. 3:1). Jelaslah, bahwa kedua unsur, yakni : Allah dan manusia, bekerja bersama untuk mewujudkannyata-kan panggilan dan pengutusanNya. Sekalipun orang menghendaki jabatan itu, tetapi tidak terpilih, sia-sia. Sebaliknya, jika Allah memilih, namun manusia meno-lak pilihan, juga menimbulkan masalah. Jadi keduanya bekerja bersama.

c.       Allah memilih langsung maupun tak langsung. Cerita-cerita pemilihan yang tertulis dalam Alkitab dapat membantu kita mengerti proses memilih seseorang menjadi pejabat gereja. Pertama, murid-murid dan juga Paulus dipilih langsung oleh Tuhan Yesus. Kedua, pejabat / pelayan itu dipilih oleh warga jemaat (bd. pemilihan ketujuh Diaken – Kis. 6:1-7). Namun orang Kristen membahasakan pemilihan itu menurut pemahaman iman, Allah yang memilih.

4.    Gereja yang mengadakan Jabatan Gerejawi. Paulus tidak menyatakan, bahwa Allah (= Yesus Kristus) yang membuat jabatan rasul (apostolos), nabi (propethes) dan pengajar (didaskalos). Yang pasti, Yesus Kristus berpesan, agar Gereja melaksanakan pemberitaan dan pengajaran akan firman Allah (Mat. 28:18-20; Mrk. 16:15; Kis. 1:8). Gerejalah yang mengadakan jabatan-jabatan untuk merealisasikan pesan Kristus. Perkembangan jabatan itu tampak dalam surat Epesus (4:11) sesuai karunia yang diberi oleh Dia.

5.    KASIH ADALAH KARUNIA ALLAH YANG MULIA.

Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi (12:31).

Ayat (kalimat) ini merupakan jalan masuk ke dalam pasal 13:1-13.... “... jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing..., aku sama sekali tidak berguna.., sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku(1 Kor. 13:1-3). Paulus mengakui akan karunia rohani yang dianugerahkan oleh Allah kepada orang percaya. Semuanya baik, asalkan membangun kehidupan jemaat. Dan, hal itu hanya dapat dilakukan, jikalau setiap orang saling mengasihi.

SELAMAR MENYUSUN PEMBERITAAN FIRMAN

PENULIS








































Tidak ada komentar:

Posting Komentar