Kamis, 10 Mei 2012

35. SIKAP – PENDIRIAN (ATTITUDE) : Pendekatan Psikologi Sosial untuk membangun Etika Kepribadian Kristen


Hai anak – anakku ... !!!

Marilah kita belajar tentang SIKAP atau PENDIRIAN (Ing. attitude) manusia yang disaksikan Alkitab. Pembelajaran ini bertujuan, agar kita mengetahui dan mengerti secara jelas alasan-alasan, situasi-kondisi maupun peristiwa yang melatarbelakangi pemberitaan Firman Allah.

a).   Sikap atau Pendirian merupakan kecenderungan (reaktif) yang dipelihatkan seseorang terhadap situasi-kondisi, fenomena kehidupan masyarakat dan peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihadapinya. Malahan sikap dan pendirian pribadi itu juga dapat ditunjukkan bertentangan dengan kemauannya sendiri, karena kondisi psikologisnya.

b).   Sikap atau pendirian itu dapat dipelajari melalui pengamatan terhadap tindak-tanduk (behavior) manusia secara pribadi maupun berkelompok dalam interaksi sosial dan peristiwa-peristiwa.

c).    Sikap atau pendirian yang merupakan kecenderungan (reaktif) itu bisa bersifat positif – negatif, tergantung dari rasa suka atau tidak suka.

d).   Ada beberapa faktor psikologis yang mempengaruhi pembentukan sikap atau pendirian :

1.    Afeksi         :   emosi dan perasaan.
2.    Kognisi      :   nilai-nilai dan kepercayaan (doktrin/ideology/dogma/isme).
3.    Conasif       :   kecenderungan bertindak.
4.    Evaluasi    :   stimulan pendorong : positif atau negatif.

e).   Bagaimanakah kita dapat mengamati sikap atau pendirian seseorang atau sekelompok orang dalam Gereja / Jemaat dan Masyarakat ?

1.   Amatilah perjumpaan antar pribadi atau sekelompok orang di dalam Gereja / Jemaat dan Masyarakat :

1.1.  Amatilah situasi-kondisi (keadaan)-nya; contoh cerita Alkitab -> Raja Saul – Pangeran Jonathan – Raja Daud.

i).    SIKAP RAJA SAUL TERHADAP JONATHAN DAN DAUD

SAUL ctr. DAUD. Setelah Nabi Samuel menyampaikan penolakan Allah terhadap Saul (I Sam. 15:16-23 -> Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja), kemudian nabi menobatkan Daud, anak Isai (I Sam. 15:12-13). Hal itu diketahui Saul setelah menyaksikan perubahan sikap rakyat Israel terhadap Daud, karena keberhasilannya (I Sam. 18:6-16).

SAUL ctr. JONATHAN. Dikarenakan persahabatan yang dibangun Daud dan Jonathan (I Sam. 20:1–43), akhirnya pangeran itu didamprat oleh ayahnya, Saul (I Sam. 20:30-31).

ii).  SIKAP JONATHAN DAN DAUD.

JONATHAN vrs. DAUD. Situasi bathin : emosional dan perasaan, Saul karena kecurigaan terhadap Daud tidak mempengaruhi PENDIRIAN / SIKAP Jonathan. Justru, sebaliknya, pangeran itu mengikat perjanjian persahabatan dengan Daud (I Sam. 20:1–16). SIKAP/PENDIRIAN itu dikarenakan ia menggunakan pertimbangan / penalaran akalbudi (aspek kognisi) yang berhubungan dengan masa depan kehidupan keluarganya (“Jika aku masih hidup, bukankah engkau akan menunjukkan kepadaku kasih setia TUHAN ? Tetapi jika aku sudah mati, janganlah engkau memutuskan kasih setiamu terhadap keturunanku sampai selamanya. Dan apabila TUHAN melenyapkan setiap orang dari musuh Daud dari muka bumi, janganlah nama Yonatan terhapus dari keturunan Daud, melainkan kiranya TUHAN menuntut balas dari pada musuh-musuh Daud." Dan Yonatan menyuruh Daud sekali lagi bersumpah demi kasihnya kepadanya, sebab ia mengasihi Daud seperti dirinya sendiri – I Sam. 20 : 14-17).

iii). SIKAP RAJA DAUD TERHADAP SAUL.

Meskipun Raja membenci Daud, tetapi ia tidak melakukan hal sama. Daud tidak memperlakukan rajanya selaku musuh (I Sam. 24:1-33 -> Berkatalah Daud kepada orang-orangnya: "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN. – ayt. 7)

Bertolak dari sumber tradisi itu, kita dapat melihat SIKAP / PENDIRIAN Raja Saul terhadap Daud dan anaknya, Jonathan. Timbul ketidak senangan dan kebencian kepada Daud serta anaknya. Dari cerita tersebut kita menemukan bukti-bukti tentang kepribadian Saul, Jonathan dan Daud.

PEMAKNAAN TEOLOGI TERKAIT PERISTIWA SOSIAL. Perjumpaan tiap orang pada peristiwa-peristiwa dapat saja berbeda situasi-kondisinya. Bisa saja situasi-kondisi kurang menyenangkan dan atau menyenangkan; juga tergantung dari perasaan suka (to like) atau tidak suka (to dislike), akan tetapi penulis Kitab Samuel hendak menyatakan, bahwa jikalau kondisi bathiniah (the inner-life) : emosional dan perasaan, orang percaya dikuasai Roh Allah (“Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.” – I Sam. 16 : 13b), maka ia mampu memperlihatkan SIKAP / PENDIRIAN yang positif, seperti sikap Daud terhadap Saul dan Jonathan.

MEDAN – SUMATERA UTARA
HARI KAMIS, 10 MEI 2012

PUTERA SANG FAJAR
Arie A. R. Ihalauw

Tidak ada komentar:

Posting Komentar