Kamis, 15 Desember 2011

CERITA BERSAMBUNG BAGIAN 2

BERUSAHA MENYEMBUHKAN LUKA

KADANG – KADANG ORANG BERPIKIR, BAHWA IA TELAH
MENGORBANKAN YANG TERBAIK. TETAPI IA MENGALAMI KESULITAN
MENANGKAP HIKMAT ALLAH DI BALIK PERISTIWA PETAKA YANG MENIMPA

DITULISKAN DI
MEDAN – SUMATERA UTARA
HARI KAMIS – 15 DESEMBER 2011

OLEH
ARIE A. R. IHALAUW

MENYEMBUHKAN BATHIN YANG LUKA. Tubuh jasmaniah yang terluka mampu menutupi lukanya secara otomatis menurut sifatnya. Akan tetapi ‘tubuh-rohani’ atau bathin yang terluka’ tidak dapat menyemuhkan dirinya sendiri. Kondisi tubuh-rohani (bathin) selalu membutuhkan perawatan khusus di masa pemulihan (rehabilitasi, red). Arie berusaha keras untuk melupakan kenangan indah sepanjang perjalanan cintan bersama gadis pujaannya : Shaty Helminda. Sewaktu-waktu kerinduan menggelitik hati dan meresahkan pikirannya : “Apakah aku harus menemuninya untuk menyelesaikan masalah ini ? Namun selalu terjadi pertempuran dalam hatinya : ANTARA HARGA DIRI DAN CINTA. Arie tak ingin menghancurkan harga-diri karena cintanya pada Shanty. Baginya harga-diri adalah milik satu-satunya yang diberikan Allah melalui peristiwa-peristiwa yang dijalani sejak kecil. Ia tak ingin menggadaikan harga-diri dengan cinta. Arie bukan seorang pengemins cinta. “Apakah cara yang terbaik untuk kujalani menuju masa depan baru ? Bersama Shanty ataukan menyerahkan seluruh keberadaanku kepada TUHAN, lalu berusaha keras meninggalkan kesedihan ?” Arie terpekur memikirkan berbagai jalan keluar. Bathinnya terluka dalam. “Aku harus menyelesaikan kuliah ! Mungkin itulah yang terbaik, agar aku dapat mencapai tujuan.”

MEMBACA LEMBARAN MASA LALU DAN MENYUSUN KEPRIBADIAN BARU.”Aku harus menjadi …” Entah apa yang dipikirkannya, tetapi, so pasti, ia ingin menjadi. Hari itu, ketika pulang dari Ibadah di Gereja Koinonia – Matraman, Arie mengunci diri di kamar kosnya. Sampai-sampai ia tak mendengar paggilan Oma Kainama untuk makan siang bersama. Berjam-jam  ia membaca dan berusaha mengerti pengalaman iman yang dituliskan oleh para penulis Alkitab. Arie membuka seruan Yeremia : “Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu ada ganjaran..., Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN.” (YER. 31 : 16 -17). Hati dan pikirannya resah gelisah. Hatinya bertanya : “Apakah maksud dan rencana TUHAN dalam hidupku ? Mungkinkah aku telah berbuat kesalahan, sehingga TUHAN menegurku ?” Ada sesuatu menggetarkan hatinya. Arie merasa takut tiba-tiba : “Mungkinkah TUHAN tidak menginginkan aku berpacaran dengan gadis tak seiman ? Mungkinkan musibah ini adalah cara TUHAN menyatakan, Dia tidak setuju terhadap hubungan cintaku ?” Arie bingung. Matana dikucak-kucakan. Berulang-ulang Arie membaca tulisan suci itu dan berusaha menangkap hikmat di balik masaahnya. Pemuda itu lelah bepikir. Ia meletakkan kepalanya di atas Alkitab terbuka. Tertidur pulas.

Waktu berjalan tanpa kompromi. Jam dinding bertalu-talu di angka sebelas. Arie terbangun. Kepalanya digelengkan untuk menghilangkan kantuk : “Aku bermimpi ?” gumannya bertanya. Pemuda itu membuat segelas susu-milo, lalu pergi duduk di kursi santai di depan kamarnya. Ia memikirkan mimpinya kembali. “Benarkah TUHAN menyertaiku, seperti suara yang terdengar dalam mimpiku:AKU SELALU MENCINTAIMU, DAN SELALU MENYERTAIMU, ANAKKU !SEBERAT APAPUN BABANMU DAN SEDALAM DALAMNYA LUKA DI HATIMU : AKULAH, TUHAN, ALLAHMU, YANG AKAN MENCIPTAKAN MASA DEPAN BARU BAGIMU, ASALKAN ENGKAU SELALU SETIA MENCINTAIKU DAN MENURUTI RENCANAKU ATAS DIRIMU.” Arie tertegun kagum. Semangat (motivasi) – nya bertumbuh karena penguatan dan penghiburan TUHAN. Ia menertawai diri sendiri. “Pekerjaan TUHAN itu ajaib. Ketika aku bergumul sendirian, dan tidak seorangpun menemaniku, TUHAN selalu menjagaku. Ketika tak ada tangan yang menggengam tanganku, TUHAN memegang aku. Ketika aku terjatuh di depan mata banyak orang, tak seorangpun yang menegakkan.... hanya TUHAN yang menguatkan kakiku untuk berdiri tegak. Dia telah membebaskan aku dari keputusasaan dan rasa takut. Sekarang aku yakin penuh. Ia pasti menyelesaikan masalahku serta membibing aku ke masa depan baru yang diciptakan menurut maksud-Nya bagiku. Sambil  bersiul Arie mengambil handuk lalu mandi. Ia menyanyi keras : “Bersyukur, bersyukur, bersyukurlah, bersukur karena kasih sayang-Mu. Kusembah, kusembah, hanya Dikau kusembah, terpujilah Engkau, ya Allahku.” Keluar dari kamar mandi, wajahnya cerah. Ari berguman : SELAMAT TINGGAL DUKA. SELAMAT JALAN SHANTYKU MANIS, SHANTYKU SAYANG

GODAAN ITU DATANG KEMBALI. Baru saja sembuh dipulihkan Allah, Arie tergoda oleh bisikan hatinya : “Kau harus pacaran lagi !” Arie sulit mengendalikan keingiannya. Ia tak bisa terlalu lama ditinggalkn cewe. Selalu gonta-ganti pacar. Baru saja ditinggalkan Shanty, wajah Connie mulai merasuk hatinya.  Hari Senin seusai jam kuliah ia bercakap bersama Edyson Saragih-Sumbayak (sekarang Pendeta GKPS di Pematangsiantar) dan Evelyn Liow serta Dolfie Rondo.

Lyn…, kemaren ada cewe yang mengusik hatiku…. Sebenarnya aku tersiggung…, tapi kalau dipikir-pikir…, ngga apalah…. Mumpung lagi kosong sekarang…. hehehehehe….” Tuturnya membuka cerita di kantin kampus.
“Ada apa ne… ?” tanya Edyson.
Tau ah… No Comment !” ketus Evelyn. Wajahnya cemberut kesal.
“Napa loe, sobat ?” canda Arie .
Ngana ninda tobat-tobat. Pikirin skrpsi keq…. Malahan makin mengatal…, keqnya ngana ngga bisa kesepian tanpa perempuan… so strep, ngana Nok… kakakakakakaa….” Dolfie mengguyon….  
Wah…. wah… parah kali kau, Nok” timpa Edyson dengan logat Bataknya yang kental. “… Aha do, Noke ? … kan udah setahun kau pacaran ama cewe Islam itu…,  gimana akhirnya ?
 “Forget it… I don’t care anymore…” Arie menyanggah…
Bajingan juga kau…. gonta-ganti pacar melulu…. kakakakakaka…” kata Edyson  nimbrung.
Bukan salahku ..., kan gue yang ditinggali, … emang gue pikirin… Kalo cinta…, emang cinta, kalo sayang, gue bilang sayang… tapi so nyanda guna, Evelyn… dia beking kita pe hati so saki s’kali… biar jo no …. hahahahaha e e e e ….” tawa Arie lepas.
Kau nekad banget, Nok” Edyson menimpali…, ”bersabarlah sedikit, kawan. Cooling down, mungkin ada jalan lain yang lebih baik…” Arie diam tak berkomentar.
“Noke, kita cumin mo kase inga…, Shanty tu calon dokter, meskipun kalian berbeda keyakinan, komunikasikanlah…, sapa tau keadaan bisa berubah… pikir-pikir penginjilan juga… hehehehehe….” ujar Dolfie.
“Pandangan kalian betul, sih…, tapi sejak semalam gue udah putuskan untuk meninggalkan cinta masa laluku. Gue ingin konsern kuliah, cos nilai Ibrani turun satu point kemaren. Gue dimarain Pak Ihromi….” tukas Arie… “tapi gue juga akan mendekati Connie, biar kesepian hati ini terisi kembali…, walaupun tidak seratus persen… kekekekeke….”
Kaco…. Makin runyam loe, Nok… ! Balas dendam ya…. hahahahahaha…” Edyson menyelidiki.
Ya ngga lah… bagiku semua penting, terutama cewe, cos hidupku terasa indah, saat gue membuka mata, dan melihat ceweku ada di sampingku. Kehidupan semakin indah, ketika gue ketemu cewe….” Arie melucu.
Tenang-tenang si kutu buku ini menghayutkan jugalah….. Terserah apa maumu… Aku sekedar mengingatkan.” Edyson menyambung percakapan.
E do do e e e … jang ngana lupa Noke…, kita pe eksegese Kitab Deutero-Yesaya beking klaar jo…” Evelyn mengingatkan Arie tentang tugas kuliahnya.
Iya Lyn…., pastilah… esok gue kase pa ngana…. Bye…” pamit Arie, sambil berlalu pergi dengan lambreta tuanya
Keempat sahabat dekat itu berpisah. Edyson kembali ke asrama putera. Dolfie mengantarkan Evelyn ke kontrakannya di Berlan – Matraman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar