Selasa, 06 Desember 2011

MENCARI KEBAHAGIAAN DALAM PERJALANAN HIDUP - Amsal 24 : 23 - 27 - Renungan Hari Ini - Rabu, 07 Desember 2011

LANGKAH STRATEGIS DALAM
MENGEMBANGKAN HUBUNGAN KEMITRAAN
AMSAL 4 : 23 – 27

KARYA AKAN BERHASIL, JIKA MANUSIA MENJAGA HATI
UNTUK TIDAK MERANCANGKAN KEJAHATAN, MELAINKAN
MENDATANGKAN DAMAI SEJAHTERA ATAS KEHIDUPAN SESAMA

HARI RABU, 07 DESEMBER 2011

DITULISKAN OLEH

ARIE ARNOLD REMALS IHALAUW

BACAAN ALKITAB

4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
4:24 Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu.
4:25 Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka.
4:26 Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu.
4:27 Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.

Sering kita menemukan berbagai masalah dalam keluarga dan di tempat kita bekerja. Beberapa masalah dapat diselesai-tuntaskan, tetapi ada pula yang masih menggantung serta tak dapat diselesaikan. Kita sering berpikir : mengapa kita bermasalah ? Mengapa masalah datang bertubi-tubi, tanpa dapat diselesaikan ? Malahan sebelum satu masalah selesai datang pula masalah baru. Marilah kita merenungkan perikop yang dituliskan penulis Kitab Amsal ini :

1.   Masalah itu datang, karena tidak menjaga HATI dari berbagai keinginan daging (hawanafsu).

      “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (ay.23). Menurut penulis Kitab Amsal, masalah itu ditimbulkan dari dalam HATI tiap orang. HATI yang dimaksudkan adalah pusat kegiatan berpikir, pusat kegiatan emosional, intelektual, pusat kegiatan jiwa, pusat kegiatan spiritual, dan sejenisnya. Kadang-kadang kita tidak dapat membedakan kebutuhan dan keinginan. Kita tidak mampu memprioritaskan kebutuhan menurut kepentingan (kompetensi)-nya. Kita didorong oleh keinginan (hawanafsu) untuk memperoleh segala sesuatu, serta menghabiskan segala sesuatu demi mencapai keinginan, sehingga kita terjebak dalam masalah. Benarlah yang dikatakan penulis Kitab Kejadian : “TUHAN melihat, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,…” (KEJ. 6 : 5). Segala kecenderungan hati manusia membuahkan kejahatan semata-mata. Artinya, segala sesuatu yang lahir dan didorong oleh kecenderungan (hawanafsu) selalu membuahkan / menghasilkan kejahatan semata-mata. Pertama, kecenderungan hati yang jahat sering mencelakakan orang lain untuk mencapai kepentingan diri sendiri. Kedua, kecenderungan hati yang jahat itu mengakibatkan si pelaku terjebak dalam masalah yang melilit kehidupannya. Jadi kita bermasalah, karena kita tidak dapat menguasai kecenderungan hati yang jahat. Oleh karena itu, berdoalah kepada TUHAN, agar Dia menguasai hati kita, sehingga kita tidak melakukan kejahatan yang berakibat buruk bagi kehidupan pribadi dan keluarga.

      Contohnya : penggunaan fungsi mulut (AMSL. 4 : 24). Jika kita menggunakan mulut kita untuk membicarakan gagasan-gagasan yang positif dan membangun kehidupan bersama, maka kita akan menerima hasil yang baik. Akan tetapi, sebaliknya, jika mulut kita berbohon, menjelek-jelekkan orang, memfitnah, dan sebagainya; maka kita akan menuai hasil buruk.

2.   “Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka.” (AMSL. 4 : 25). Maksudnya : janganlah kita bekerja sambil mengingat-ingat peristiwa masa lampau yang telah dilewati, atau, janganlah kita memasuki masa depan dengan membawa masa lalu yang pahit. Siapapun yang melakukan pekerjaan dengan membawa beban masa lalu akan mengalami hambatan. Banyak orang suka berkata begini : “Dulu kita berbuat ini dan itu, lalu kita berhasil. Mengapa sekarang kita tidak melakukan hal yang sama ?” Orang-orang seperti ini tidak akan maju ke depan, sebab tantangan masa lalu cukup berbeda dengan perkembangan yang sedang dan akan terjadi. Kita dapat menggunakan pengalaman masa lalu yang baik, namun perlu dikembangkan sesuai perkembangan konteks yang sedang dihadapi masa kini. Orang yang mau berjalan maju tetapi ia masih bernostalgia dengan kesuksesan masa lalunya, ia akan menjadi “tiang garam”, sama seperti Isteri Lot. Ia akan mengalami kegagalan. Itu berarti ia tidak akan menikmati kebahagiaan. Orang yang ingin maju, tetapi HATInya masih memikirkan masa lalu, akan menjadi hambatan bagi kemajuan sebuah keluarga dan di dalam pekerjaan.

3.   “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu.” (AMSL. 4 : 26). Ada 2 (dua) hal yang patut dilakukan menurut penulis Kitab Amsal, yakni : pertama, tempuhlah jalan yang rata (tidak berliku-liku, red). Kadang-kadang selaku bisnismen seseorang suka berspekulasi dan mengambil jalan berliku-liku dalam perniagaan. Ia menduga mitra kerjanya tidak berpikir demikian juga. Ternyata mitra kerjanya lebih lihai dan piawai dari padanya. Akhirnya ia mengalami kesulitan. Kedua, hendaklah tetap segala jalanmu; artinya, cara kerja yang telah direncanakan dan diputuskan harulah konsisten. Bekerja sesuai dengan komitmen yang telah digariskan, jika tidak berbuat demikan, maka si pelaku akan mengalami kesulitan. So pasti, akan datang banyak tantangan, kendala, hambatan dan ancaman yang menghadang; akan tetapi jika  ia tetap melangkah sesuai kebijakan strategis yang telah diputuskan --- ia bersikap konsisten ---, maka pekerjaan yang dilakukan akan selamat dari kehancuran. Orang yang tidak bersikap konsisten menjalankan kebijakan yang telah diputuskan bersama akan selalu menimbulkan kesulitan dalam kemitraan kerja. Orang seperti ini tidak TEGUH HATI.

4.   “Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” (AMSL. 4 : 27); artinya, pertama : bekerjalah dengan tidak memusingkan apa yang bukan menjadi urusan sendiri. Bekerjalah dengan tidak mencampuri urusan orang lain, sejauh tidak diminta. Bekerjalah dengan tidak menyontek cara kerja orang lain. Harus konsisten. Kedua, orang yang suka mencampuri urusan orang lain adalah orang jahat. Kita disebut penjahat, karena kita mencampuri urusan yang bukan menjadi tugas utama. Akhirnya pekerjaan yang harus dikerjakan menjadi terbengkalai, dan akibatnya akan buruk. Orang seperti ini tidak layak untuk diserahi tanggungjawab dalam perusahan.

Pertanyaan sederhana untuk direnungkan : BAGAIMANAKAH SAYA DAPAT MENCAPAI KESUKSESAN DALAM KELUARGA DAN PEKERJAAN ? Silahkan menjawab pertanyaan tersebut dalam diskusi kelompok.

Shaloom dan Tepilah

Penulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar