Selasa, 13 Desember 2011

JANJIMU MENGHIDUPKAN AKU -> Renungan Pengantar Kerja

RENUNGAN PENGANTAR KERJA

JANJIMU MENGHIDUPKAN AKU
MAZMUR 119 : 49 – 52

KETIKA SEORANG PEKERJA MENJALANKAN PEKERJAAN,  TETAPI
IA MENGALAMI KEGAGALAN, SO PASTI, AKAN LAHIR  KEKECEWAAN MENDALAM.
BAGAIMANA SI PEKERJA MENGATASINYA ? KEMANAKAH IA MENCARI PENGUATAN ?

OLEH
PENDETA ARIE A. R. IHALAUW

DITULIS DI KOTA
MEDAN – SUMATERA UTARA,
HARI RABU, 14 DESEMBER 2011

SEBUTIR MUTIARA

Suatu hari datanglah seorang pekerja kristen ke rumah Pendeta mengendarai mobil Toyota Fortuna. Ia adalah seorang donatur Gereja dan Direktur sebuah perusahan di Kota Medan. Langkahnya lunglai lemas. Wajahnya kusut. Pakaiannya tak terurus. Katakan saja namanya si Polanus. Pendeta tersenyum kecil menyambut dan menyapanya : “Apa kabar, Pak Polanus ? Sudah lama saya kita tidak bertemu. Sehatkah ?”…. “Itulah Pak Pendeta…. badanku sering meriang karena sakit-sakitan.” jawabnya singkat tak berekspresi ceria. “Mari, silahkan masuk, … duduklah.” kata Pendeta ramah... “Adakah sesuatu yang dapat saya bantu ?” tanya Pendeta itu melanjutkan percakapan. “Begini, Pak… akhir-akhir ini kepalaku pusing dan penyakit magku kambuh… “ Suasana ruang kerja Pendeta menjadi hening sejenak. Lalu Pak Polanus melanjutkan ceritanya : “Aku sulit berkonsentrasi pada pekerjaanku. Semua urusanku tak sanggup kukerjakan lagi. Perusahanku mulai goncang, karena beberapa masalah karyawan dan keluarga. Karena itu, aku datang ke sini untuk berkonsultasi pada Pendeta.” Kepalanya menatap lantai. Pendeta menatap wajah warganya dalam dalam. Suasana hening berlangsung beberapa detik. Pendeta bertanya : “Apakah bantuan yang Pak Polanus harapkan ?”…., “Kumohon Pendeta mendoakan kehidupanku, mungkin aku telah keliru selama ini.” jawabnya. “Doa saja tidak dapat menyelesaikan masalah, Pak Polanus. Kadang-kadang doa dijadikan tempat pelarian oleh orang kristen. Mereka berpikir, asalkan berdoa TUHAN akan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Doa  adalah permohonan kepada Allah, agar Dia bekerja menguatkan spiritualitas Bapak di saat yang sulit. Akan tetapi keadaan sulit itu tidak akan berubah, jikalau tidak diikuti perubahan perilaku Bapak.” Pak Polanus mengangguk mengiyakan. “Ya begitulah kira-kira. Aku tahu persis kesalahanku. Aku tahu persis Pak… Aku sombong,… tidak tulus memberi kepada TUHAN,… suka mencari nama baik melalui pemberianku, agar aku dihormati dan dipuji semua orang. Yah…, namanya juga manusia, Pak.” Pak Polanus mengakui kesalahannya, sambil berkilah.

Begini…, Pak Polanus… Pengakuan yang diucapkan itu baik benar. Tetapi bapak telah melukai hati TUHAN. Bapak menjadikan TUHAN bagaikan pembantu yang harus memenuhi seluruh keinginanmu. Selalu mengklaim dan memaksa TUHAN dengan mengungkit kebaikan yang telah Bapak berikan kepada siapapun. Kadang-kadang Bapak memberikan kesaksian tentang kesuksesan yang dicapai, agar orang menyanjung; sementara semua kelimpahan itu merupakan BELAS-KASIHAN dan RACHMAT Allah. Itulah kekeliruan Bapak” ujar Pendeta. “Semua yang Pendeta katakana tidak meleset. Akulah yang bersalah…, lalu bagaimana jalan keluarnya, biar kehidupan keluarga dan pekerjaanku dipulihkan kembali, Pendeta !” Pak Polanus memelas. “Nah…, marilah kita membaca kesaksian pemazmur, supaya dapat mengenal Allah dan kehendak-Nya.” Pendeta membacakan lalu menguraikan MAZMUR 119 : 49 – 52 :

119:49   Ingatlah firman yang Kaukatakan kepada hamba-Mu,
oleh karena Engkau telah membuat aku berharap.
119:50   Inilah penghiburanku dalam sengsaraku,
bahwa janji-Mu menghidupkan aku.
119:51   Orang-orang yang kurang ajar sangat mencemoohkan aku,
tetapi aku tidak menyimpang dari Taurat-Mu.
119:52   Aku ingat kepada hukum-hukum-Mu yang dari dahulu kala,
ya TUHAN, maka terhiburlah aku.

1.   Pemazmur mengahadapi kesengsaraan (ay. 50), di mana “orang-orang kurangajar (tidak beretiket) mencemohkan” dirinya (ay. 51). Dia kecewa, karena berpikir ia telah membagikan banyak kebaikan kepada mereka. Sementara orang-orang itu menyanjung di hadapan, tetapi secara sembunyi-sembunyi mencelanya. Kemungkinan Bapak Polanus menyalahkan Allah : “Mengapa semua ini menimpaku, padahal aku telah berusaha melakukan firman-Nya ?” Mungkin menurut ukuran bapak sendiri, segala sesuatu yang dikerjakan itu baik, tetapi ingatlah !, TUHANlah yang mengenal dan menguji hati bapak (bd. AMSL. 16:2). Dan, oleh karena itu, bapak tidak dapat menghindarkan diri dari penilaian Allah.

Keadaan seperti ini patut dimengerti dari 2 (dua) sudut pandang : pertama, mungkinkah TUHAN memakai cara ini untuk menguji kesetiaan hati kepada-Nya ? Jika keadaan ini merupakan ujian dari TUHAN, maka Dia sendiri akan menyelesaikan semua rencana-Nya atas pekerjaan dan keluarga bapak. Kedua, bisa jadi masalah ini muncul karena perilaku yang menyimpang dan hati yang serong terhadap Allah yang mengasihi bapak. Jikalau menyadari kesalahan, lalu segera mengubah sikap hati kepada Allah serta perilaku sosial, maka TUHAN akan memulihkan kembali hak-hak bapa selaku anak-Nya.

2.   Sepanjang masalah ini belum selesai, janganlah bapak meninggalkan TUHAN. Bapak patut mendekatkan diri kepada-Nya. Pemazmurpun menceritakan keadaan yang dideritanya. Dalam keadaan seperti itu Pemazmur memiliki keyakinan iman yang kokoh di dalam TUHAN. Ia selalu menaruh kepercayaan dan harapan pada JANJI ALLAH (ay. 50), sambil membaca dan melakukan perintah-Nya (ay. 51-52).

      Menurut pemazmur, FIRMAN TUHAN adalah JANJI YANG KOKOH bagi setiap orang-percaya-yang-setia untuk meletakan harapannya. FIRMAN TUHAN adalah penghiburan yang menguatkan spiritualitas tiap orang-percaya-yang-setia, ketika sedang berada di dalam kesengsaraan (ay. 50). Oleh sebab itu, Bapak Polanus wajib membaca dan merenungkan firman-Nya. Bukan hanya itu…, bapak juga wajib mengingat perintah-perintahnya untuk dilakukan pada tiap kesempatan.” Pendeta mengakhiri penjelasan bacaan kepada Pak Polanus.

Lalu…, apakah yang saya patut lakukan, Pendeta ?” tanya lelaki itu. “TUHAN ingin Pak Polanus menjadi sahabat-Nya. Bergaul akrab dengan Dia dan rajin membaca firman serta melakukan kebaikan menurut kehendak-Nya (1 PET. 3:17), bukan menurut keinginan bapak. Bekerjalah bersama Roh Allah untuk mengubah perilaku, supaya Dia merachmati keluarga dan pekerjaan.” tutur Pendeta. “Baiklah, Pak…, saya akan melakukan firman TUHAN itu, supaya saya diberkati.” Pak Polanus berjanji. “Oke…, bolehkan bapak berdoa mengakhiri pertemuan ini ?” pinta Pendeta. Sambil tersenyum Pak Polanus berdoa : “Ya Allah, aku tahu pasti, hati-Mu terluka oleh perbuatanku yang berdosa. Ampunilah aku, ya TUHAN. Setelah mendengar sabda-Mu, aku berjanji akan mengubah perilaku yang jahat, karena itu tuntunlah aku oleh Roh Kebenara, supaya aku disanggupkan melakukan kehendak-Mu, demi nama Tuhan Yesus Kristus. Amin !”. Wajah lelaki itu tampak ceria, ketika akan meninggalkan Kantor Pendeta. Di depan pintu kantor, Pendeta menyalami dan memberkatinya dalam nama Allah.

Tujuh bulan setelah kedatangannya ke kantor Pendeta, Pak Polanus sekeluarga kembali lagi. Kali ini ia membawa ucapan terima kasih kepada Pendeta. Namun secara halus Pendeta berkata : “Waktu itu, dimanakah Pak Polanus dan saya berdoa ?” …. “Di Gereja… e e e… di kantor Gereja, Pendeta.” jawabnya tersenyum. Ia tahu persis apa yang akan diucapkan Pendeta nanti. “Yah… jika demikian pemberian ini bukan milik saya tetapi milik TUHAN…, serahkanlah ke Kantor Majelis Jemaat sebagai ucapan syukur atas berkat Allah”. …. “Baiklah, Pendeta hehehehehehee…..” Pak Polanus menuju Kantor Gereja dan menyerahkan persembahan syukurnya kepada TUHAN, sebab TUHAN telah memulihkan keadaannya.

PERTANYAAN UNTUK DISERUNGKAN :

a. Mengapa saudara mengalami kegagalan dalam pekerjaan dan rumahtanga, setelah sukses hari kemaren ?


b. Sudahkan saudara menemukan jalan keluarnya ?

1 komentar:

  1. :
    Jika P Polantus, setelah tuju bulan kemudian, tidak datang ke Pak Pendeta!?
    Dan
    Jika P Pendeta mengambil persembahan dari Pak Polantus

    Kira-kira apa yang ada dalam pikiran Pak pendeta
    dan
    Kira-kira apa yang ada dalam pikiran P Polantus!?

    BalasHapus