Selasa, 27 Desember 2011

LANGKAH - LANGKAH IMAN MEMASUKI MASA DEPAN BARU 2012 - Seri I

SEBUAH REFLEKSI KONTEMPLATIF

LANGKAH – LANGKAH IMAN

MEMPERSIAPKAN BEKAL PERJALANAN
SEPANJANG JALAN MENUJU MASA DEPAN BARU

LUKAS, SANG TABIB DAN PENULIS SEJARAH
MENULISKAN

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,
tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga
kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa
yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
ROMA 12 : 2

DITULISKAN DI
MEDAN – SUMATERA UTARA

 OLEH
ARIE A. R. IHALAUW

SELAMAT TINGGAL 2011. Betapapun dahsyatnya pengalaman perjalanan sepanjang tahun 2011, kita akan selalu mengenangnya sebagai sejarah masa lalu yang pernah dilalui. Keindahan atau keburukan, keberhasilan atau kegagalan, kesenangan atau kesengsaraan, kebahagiaan atau penderitaan, dan keadaan-keadaan lainnya hanya bisa dicatat tiap pengembara dalam KITAB KEHIDUPAN-nya. Catatan-catatan itu kelak akan menjadi bacaan pembanding (footnotes, red), ketika siapapun menghadapi masalah baru pada perjalanan berikutnya.

MENGAPA MENGAWALI MASA BARU MENURUT CATATAN LUKAS ? Tidak ada seorangpun yang lahir di luar TRADISI (budaya, red). Semua orang yang lahir akan masuk ke dalam TRADISI yang telah ada dan dijalankan sebelum kehadirannya. YESUS KRISTUS, TUHAN dan ALLAH kita, yang disebut juga PENYELAMAT, PELEPAS, PENEBUS, PEMIMPIN MASA DEPAN-pun mengikuti TRADISI leluhurnya. Hal itu dilakukan oleh MARIA – YUSUF berdasarkan Firman Allah yang diberikan kepada ABRAHAM, leluhurNya (KEJ. 17 : 12 -> “ANAK YANG BERUMUR DELAPAN HARI HARUSLAH, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun”). Menurut interpretasi saya terhadap TRADISI GEREJA GEREJA DI BARAT, penyunatan Tuhan Yesus dan waktunya menunjuk pada beberapa gagasan :

a).  Penyunatan Tuhan Yesus memperlihatkan betapa kuatnya TRADISI LELUHUR yang mengikat dan patut dilakukan seseorang, jika ia ingin disebut sebagai anggota keluarga. Dan, MARIA–YUSUF taat mengikutinya. Jadi, bukan Tuhan Yesus yang mengikuti TRADISI itu, tetapi kedua orangtuanya. Oleh karena Tuhan Yesus masih bayi serta tidak mengetahui apapun tentang TRADISI LELUHUR-Nya. Di sini kita mengetahui dan mengerti fungsi PENGAJARAN DALAM BUDAYA ISRAEL YANG WAJIB DIJALANKAN ORANGTUA  kepada anaknya (bd. ULNG. 6 : 6 – 9 -> “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, HARUSLAH ENGKAU MENGAJARKANNYA BERULANG-ULANG KEPADA ANAK-ANAKMU… dst).

b).  Tuhan Yesus tidak dapat menolaknya, malahan MARIA–YUSUF pun tidak ! Sebab mereka terhubung pada ketentuan sebuah masyarakat. Mereka adalah anggota KELUARGA UMAT ALLAH.

c). Jika kesaksian Lukas, sang Tabib dan Sejarawan, ternyata benar, maka kita dapat mengerti hubungannya dengan penetapan Perayaan–Perayaan Kristen yang dilakukan sesuai TRADISI TAHUN LITURGI GEREJA–GEREJA DI BARAT, yakni : 25 Desember ditambah DELAPAN HARI menjadi 1 Januari. Dan, oleh karena itu, seharusnya kekristenan  tidak merayakan TRADISI TAHUN BARU, melainkan mengingatrayakan HARI PENAMAAN DAN PENYUNATAN TUHAN-nya. Dengan kata lain, jikalau pada akhirnya kita harus merayakan TAHUN BARU, maka hal itu selayaknya diselenggarakan dalam pemahaman : TINDAKAN PENYELAMATAN ALLAH SESUAI HUKUM PERJANJIAN YANG DIBERIKANNYA KEPADA ABRAHAM, LELUHUR ORANG BERIMAN. Dengan demikian, kekristenan merupakan ‘cabang yang dicangkokkan’ kepada AKAR TRADISI ABRAHAM, katakanlah : KEKRISTENAN (AGAMA KRISTEN) BERSIFAT ABRAHAMIS. Dengan demikian siklus TAHUN LITURGI GEREJA tidak terpotong oleh tradisi budaya-agama-suku. Dan, oleh karena itu, 1 Januari dapat dijadikan PERAYAAN UCAPAN SYUKUR KARENA YESUS KRISTUS MENCIPTAKAN JALAN : a). UNTUK KEKRISTENAN MASUK KE DALAM TRADISI ABRAHMIS, sekaligus : b). PENYEMBAHAN KEPADA DIA YANG MENJADI PEMIMPIN KE MASA DEPAN BARU.

LANGKAH – LANGKAH
MENUJU MASA DEPAN BARU

PENGANTAR KE DALAM PEMAHAMAN. Pada saat seperti ini banyak orang sedang memikirkan rencana tentang bagaimana menyambut TAHUN BARU 2012. Hal seperti itu wajar-wajar saja, karena kegembiraan hatinya. Akan tetapi, menurut hemat saya, sebaiknya 4 (empat) hari menjelang tahun 2012, selayaknya kita memanfaatkan waktu ini untuk melakukan introspeksi atas berbagai masalah yang menyebabkan kemalangan dan membawa keberuntungan sepanjang tahun 2011, lalu memikirkan langkah-langkah strategis baru sesuai FIRMAN TUHAN dan yang akan dijalankan kemudian.

1.   LANGKAH I -> PENGERTIAN TENTANG MASA DEPAN BARU. Alkitab menyaksikan : “Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "LIHATLAH, AKU MENJADIKAN SEGALA SESUATU BARU !” (WHY. 21 : 5). Sebab sesungguhnya, AKU MENCIPTAKAN LANGIT YANG BARU DAN BUMI YANG BARU; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.” (YES. 65 : 17). Di dalam kedua kutipan ayat yang dituliskan itu, kita dapat menyimak beberapa makna tersirat, yakni :

1.a.  MASA DEPAN BARU. WAKTU (Yun. KRONOS) dan KESEMPATAN (Yun. KAIROS) adalah ciptaan Allah, bukan karena rutinitas reguler. Secara waktuwi tahun 2011 dan 2012 tidak berbeda, hanya terjadi pergantian angka saja. Akan tetapi KESEMPATAN (Yun. KAIROS = SAAT ANUGERAH) berbeda isinya.

        Jika kita menghubungkannya dengan pernyataan Nabi Yesaya : “… SUPAYA ORANG TAHU dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. AKULAH TUHAN DAN TIDAK ADA YANG LAIN,  yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, YANG MENJADIKAN NASIB MUJUR DAN MENCIPTAKAN NASIB MALANG; AKULAH TUHAN YANG MEMBUAT SEMUANYA INI (45 : 6 – 7), maka kita mengetahui dan mengerti tujuan TUHAN Allah menciptakan, menjadikan dan membuatsesuatu yang baru’, yakni : SUPAYA ORANG TAHU, bahwa AKULAH TUHAN DAN TIDAK ADA YANG LAIN. Bukan hanya TAHU (MENGENAL, red) dalam arti yang biasa-biasa saja, melainkan percaya dan mengakui Dia selaku SATU-SATUNYA ALLAH yang berdaulat atas ciptaan-Nya.

1.b.  PENGENALAN AKAN ALLAH. Kemajuan dan kemunduran, keberhasilan dan kesuksesan serta kebahagiaan dan kesengsaraan sangat tergantung sikap hati kita MENGENAL ALLAH, bukan saja mengenal Dia secara teoritis akademis; akan tetapi sekaligus PERCAYA TEGUH  dan MENGAKUI ALLAH selaku SATU-SATUNYA PEMILIK – PENGUASA SELURUH CIPTAAN.

1.c. BEKERJA BERSAMA ALLAH MENGHADIRKAN RACHMAT KE ATAS KEHIDUPAN CIPTAAN. Seringkali kita melupakan tugas ini. Kita berpikir bahwa pekerjaan dapat dilakukan sendirian. Kita lupa bahwa ALLAH SAJALAH YANG MEMBERIKAN KEKUATAN SPIRITUAL DAN PISIK. Karena, selayaknya kita melibatkan Dia dalam proses menghidupkan diri. Kita MEMBERI DIRI DIPIMPIN OLEH DAN BEKERJA BERSAMA DIA. Keputusan iman seperti ini akan membuka matahati dan pikiran kita untuk mengenal cara-cara Allah menuntun kita ke dalam masa depan baru yang diciptakanNya. KEYAKINAN IMAN (PERCAYA TEGUH, red.) serta SIKAP BEKERJA SAMA YANG BAIK-BENAR akan menentukan apakah kita memperoleh kemalangan ataukah kemujuran.

1d.   CAKRAWALA BARU. Kita perlu melakukan upaya reinterpretasi dan reformulasi tentang LANGIT–BUMI YANG BARU. Langit dan Bumi baru bukanlah SURGA yang bersifat imaginatif menurut perpektif agama. LANGIT–BUMI BARU merupakan sebuah gambaran yang melebihi hanya bentuk pisik geograpis atau lokasi tertentu, melainkan suatu KEADAAN BARU dalam ruang tempat dan waktu yang telah ada, yang mungkin dapat dimasuki oleh orang-orang yang memiliki KARAKTER BARU, PARADIGMA BARU, POLA PIKIR (HATI DAN AKALBUDI) YANG BARU, TATANAN (ORDE, red) BARU, dstnya. Dengan kata lain, LANGIT YANG BARU dan BUMI YANG BARU merupakan suatu DUNIA BARU YANG DIMULAI, KETIKA ALLAH BEKERJA MENGUBAH, MEMULIHKAN DAN MEMBAHARUI MANUSIA. MANUSIA BARU itulah yang akan memasuki DUNIA BARU CIPTAAN ALLAH.

2.   LANGKAH II -> MEMAHAMI TUGAS PANGGILAN YANG DIBAHARUI. TUHAN Allah memanggil manusia untuk melaksanakan tugas PEMELIHARAAN dan PENGUSAHAAN lingkungannya (KEJ. 2 : 15), agar SEMUA BANGSA AKAN MENDAPAT BERKAT (KEJ. 12:3). Fungsi dan peran manusia amat ditonjolkan, sebab pikiran dan perasaannya yang tertuang ke dalam berbagai bentuk PEKERJAAN (IBADAH-KARYA-HIDUP, red) akan menentukan terciptanya KONDISI / KEADAAN SOSIAL, termasuk EKOSISTEM yang dibaharui Allah. Manusia, selayaknya, memberdaya semua potensinya untuk melanjutkan keberadaan ciptaan yang telah dipulihkan dan dibaharui-Nya, di mana DAMAI-SEJAHTERA dan SUKACITA, KEBENARAN dan KEADILAN serta INTEGRITAS CIPTAAN bisa dinikmati seutuh / sepenuhnya. KEADAAN BARU akan sulit diwujudkan, jika manusia yang memasukinya masih berpikiran dan berperilaku lama. Hal itu juga pasti terwujud, jika manusia berusaha mengenal Allah dan kehendak-Nya.

3.  LANGKAH III -> MENGENAL RANCANGAN ALLAH TENTANG MASA DEPAN. Nabi Yeremia menubuatkan : “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu RANCANGAN DAMAI SEJAHTERA dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu HARI DEPAN YANG PENUH HARAPAN.” (29:11). Ucapan ilahi itu mengemukan RENCANA PENYELAMATAN ALLAH atas umat Israel-Yehuda (mikrokosmos, red) di tengah alam semesta (makrokosmos, red). Kutipan tersebut menunjuk pada makna :

a).  RANCANGAN DAMAI SEJAHTERA. Allah memiliki VISI terkait masa depan manusia (umat Israel-Yehuda), yakni : DAMAI-SEJAHTERA, (sebuah kondisi keselamatan / pembebasan menyeluruh dan utuh, inilah gagasan Agama Israel yang terkandung dalam kata SHALOOM). Sebuah KEADAAN DAMAI di mana simpul-simpul RELASI VERTIKAL dan RELASI HORISONTAL berada dalam keadaan HARMONIS. Keadaan yang dikembalikan Allah seperti EDEN PERTAMA yang hilang karena dosa dan pelanggaran manusia.

b).  HARI DEPAN YANG PENUH HARAPAN. Hari depan itu dilahirkan karena pengalaman MASA LALU dan MASA KINI. Manusia membutuhkan perubahan dan perkembangan positif dari MASA LALU yang membuat keadaannya menderita. Oleh karena itu, ia bekerja bersama Allah untuk membangun MASA KINI, agar KEADAAN MASA DEPAN yang diharapkannya terwujud secara bertahap. Dan, keadaan itu sulit tercapai, jika MANUSIA MASIH MEMILIKI KARAKTER / KEPRIBADIAN LAMA. Sulit juga, jika MANUSIA LAMA itu menghadapi gelombang perubahan dengan memakai CARA-CARA LAMA. Harapannya sulit terwujud, dan ia pasti terlindas mati. Jadi pembangunan masa depan ditentukan oleh perubahan pikiran yang tampak melalui tindakan untuk menyambut perubahan dengan sikap hati yang bersyukur kepada Allah.

4.  LANGKAH IV -> PERTOBATAN HATI DAN KARAKTER / KEPRIBADIAN YANG BERLANGSUNG SECARA BERKELANJUTAN (YEH. 36:25 – 26; EPS. 4 : 20 – 24; KOL. 3 : 10). Pemulihan dan pembaharuan sebagaimana dijelaskan di atas, seharusnya, dimulai dari kehidupan bathiniah. Yeheskiel menyampaikan ucapan ilahi : AKU akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang AKAN MENTAHIRKAN KAMU; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu AKU AKAN MENTAHIRKAN KAMU. Kamu akan KUBERIKAN HATI YANG BARU, dan ROH YANG BARU di dalam batinmu dan AKU AKAN MENJAUHKAN DARI TUBUHMU HATI YANG KERAS dan Kuberikan kepadamu HATI YANG TAAT. ROHKU AKAN KUBERIKAN DIAM DI DALAM BATHINMU dan AKU AKAN MEMBUATMU HIDUP MENURUT SEGALA KETETAPANKU tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan MELAKUKAN-nya. (36 : 25 – 27). Perlu ditegaskan kembali, bahwa PEMULIHAN DAN PEMBAHARUAN itu dikerjakan Allah. Diawali ketika Allah bertindak untuk membentuk kembali (reformasi, red) kepribadian / karakter manusia yang telah hancur berkeping. Dia menyucikan dan membebaskan manusia dari cengkeraman kuasa dosa (istilah Yeheskiel : AKU AKAN MENTAHIRKAN KAMU).

4.1.  PEMBAHARUAN ROH DAN PIKIRAN. Menurut kesaksian Alkitab, kerusakan yang diderita manusia dan alam semesta, dikarenakan karena KECENDERUNGAN HATI (KONDISI BATHIN YANG TIDAK SEHAT, red. -> KEJ. 6:5 -> Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala KECENDERUNGAN HATI-nya selalu membuahkan kejahatan semata-mata…; bd. MAZ. 14:1-3; ROM. 3:10-12). Paulus mengartikannya dalam istilah ROH DAN PIKIRAN (EPS. 3:23). Menurut rasul, pembaharuan dan pemulihan itu bisa terlaksana, jika manusia berdosa BELAJAR MENGENAL KRISTUS, yakni : MENDENGAR TENTANG DIA DAN MENERIMA PENGAJARAN tentang kebenaran Allah yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus (EPS. 4 : 21). Hasilnya akan mengurangi sedikit demi sedikit sifatnya yang lama dan bertumbuhlah sifat baru yang baik oleh pengenalan akan kehendak Allah (EPS. 4: 22, 24). Hal itu tidak akan terjadi SESAAT SAJA, melainkan berlangsung TERUS MENERUS DAN DIPIMPIN OLEH ROH ALLAH (KOL. 3:10; GAL. 5:25). Dengan kata lain, untuk menjadi MANUSIA BARU, tiap orang patut BEKERJA BERSAMA ALLAH OLEH TUNTUNAN ROHKUDUS, bukan hanya berlaku SESAAT saja melainkan TERUS MENERUS, sama seperti ia BELAJAR sepanjang kehidupannya di atas bumi.

4.2.  Perubahan itu berhubungan dengan KEBIASAAN, PERILAKU dan KARAKTERnya yang buruk dan berdosa.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar