Minggu, 09 Oktober 2011

MEMPERTANGGUNGJAWABKAN BAPTISAN ANAK


SAKRAMEN BAPTISAN

APAKAH SESEORANG MENERIMA ROHKUDUS     SEBELUM DIBAPTIS ATAUKAN SESUDAH DIBAPTIS

ditulis oleh
PENDETA ARIE A. R. IHALAUW

III
BAPTISAN ANAK

MANUSIA DISELAMATKAN OLEH ANUGERAH ALLAH KARENA IMAN KEPADA YESUS KRISTUS, DAN       BUKAN KARENA DIBAPTISKAN

KESAKSIAN ALKITAB  SEBAGAI LANDASAN PENGEMBANGAN GAGASAN

1.       Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (EPS. 1 : 9; bd. ROM. 8 : 29 – 30)

2.       "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau,… (YER. 1 : 4)

3.       Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya… (GAL. 1 : 15)

4.       Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (KIS. 4 : 12)

5.       Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat (ROM.3 : 28).

6.       Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya ? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. (ROM. 6 : 3 – 4).

SIMBOL SUNAT DITRANSFORMASIKAN GEREJA

1.       Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu (KEJ. 17 : 2).

2.       Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (LUK. 2 : 21).

PERINTAH UNTUK MEMBAPTISKAN

1.       Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (MAT. 28 : 19 – 20).

LANDASAN PENGEMBANGAN TEOLOGI TENTANG BAPTISAN ANAK ATAU ANAK – ANAK
Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." (MAT. 19 : 13 – 4)

KARYA ROHKUDUS DAN MAKNA BAPTISAN

Di dalam Dia kamu juga --- karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu --- di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya (EPS. 1 : 13 – 14).
TUGAS ORANGTUA TERHADAP ANAKNYA

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun (UL. 6 : 6 – 7).



A.     PENDAHULUAN

Sejak dahulu banyak orang kristen berpandangan : “Karena saya dibaptiskan, maka saya diselamatkan oleh Allah.” Pandangan ini tidak benar. Alkitab tidak pernah menyatakan demikian. Seluruh kesaksian Alkitab : Perjanjian Lama (APL) dan Perjanjian Baru (APB) menyatakan : KESELAMATAN / PEMBEBASAN ADALAH ANUGERAH YANG DIKERJAKAN ALLAH SENDIRI (APL). HAL ITU DINYATAKAN DALAM PEKERJAAN YESUS KRISTUS. DAN ROH-NYA MEMIMPIN MANUSIA UNTUK PERCAYA KEPADA-NYA UNTUK BEROLEH BERKAT KESELAMATAN / PEMBEBASAN ITU (APB).

Pernyataan yang disarikan dari kesaksian APL – APB itu hendak mengingatkan Gereja dan orang Kristen, bahwa :

1.   APAPUN PERBUATAN BAIK MANUSIA TIDAK MEMBUAT ALLAH MENYELAMATKANNYA (bd. Hos. 11 : 8 – 9 Yeh. 36 : 22, 32; Rom. 3 : 28;
2.   BAPTISAN DAN CARA YANG DIPAKAI UNTUK MELAKSANAKANNYA TIDAK MENYELAMATKAN MANUSIA DARI DOSA (Rom.3 : 28). BAPTISAN HANYALAH TANDA / METERAI YANG DIPAKAI UNTUK MENYATAKAN, BAHWA ORANG YANG TELAH DIBAPTIS ITU TELAH DISELAMATKAN. DENGAN KATA LAIN, KESELAMATAN DIANUGERAHKAN ALLAH MENDAHULUI BAPTISAN.

Gereja perlu menjelaskan kepada warganya alasan-alasan teologis-alkitabiah tentang pembaptisan anak atau anak-anak kecil. Hal ini dipandang penting, oleh karena warga Gereja mengikuti pembaptisan anak atau anak-anak berdasarkan kebiasaan yang diwariskan saja. Sudah sepantanya pandangan Gereja diketahui oleh warganya, agar mereka menyadari tanggungjawab sebagai orangtua kristen serta mampu menjawab pertanyaan yan diajukan kepadanya. Artikel ini dituliskan untuk membantu Gereja melaksanakan tugas pengajaran dan pembinaan iman kepada warganya.

B.     TRANSFORMASI KESAKSIAN ALKITAB TENTANG BAPTISAN ANAK

SEJARAH SINGKAT. Batptisan Anak atau anak-anak bukanlah masalah baru dalam sejarah perjalanan Gereja. Ia telah lama dibahas oleh Bapa-Bapa Gereja. Pelaksanaan Baptisan Anak ini didasarkan atas pemahman Jemaat Kristen Abad I – II A.D tentang KARYA PENYELAMATAN ALLAH.

Ada 2 (dua) simbol APL yang disatukan dan kemudian dipakai Jemaat Kristen Abad I untuk menguraikan pandangan kristen tentang karya penyelamatan Allah, yaitu :

B.1. BAPTISAN PROSELITOS
B.2. SUNAT

B.1. BAPTISAN SEBAGAI TANDA PERJANJIAN

B.1.a.   MASA KERJA YESUS. Kita membaca kesaksian APB (Alkitab Perjanjian Baru, khususnya Injil-Injil Sinoptis dan Injil Yohanes), bahwa sejak masa kerja-Nya Tuhan Yesus tidak pernah membaptiskan para murid dan pengikut-Nya.

B.1.b.  PRAKTIK PEMBAPTISAN. Praktik pembaptisan dilaksanakan Jemaat Kristen Abad I sehubungan dengan perintah / pesan Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil (Mat. 28:18-20; bd. Mrk. 16:15; Kis. 1:8) Perintah memberitakan Injil itu memunculkan pertanyaan : bagaimanakah bukti yang menyatakan bahwa seseorang telah menjadi murid / pengikut Tuhan Yesus ? Untuk membuktikannya, Jemaat Kristen Abad I mengambil alih tradisi Agama Israel / Yahudi terkait Baptisan Proselitos untuk menandai perpindahan kewarganegaraan dari orang asing menjadi warga Israel.

B.1.c.   PEMBERITAAN SIMBOLIK. Kita dapat menemukan berbagai pemberitaan simbolik dalam kesaksian Alkitab, seperti : Sunat sebagai meterai perjanjian (Kej. 17), pemercikan darah anak-domba yang tidak bercacat cela yang menjelaskan pengampunan dosa, anak-domba dan roti tidak beragi yang menceritakan karya Allah membebaskan Israel dari Mesir, dan lain-lain sejenisnya.

Pada uraian sebelumnya (II.1) telah dijelaskan, bahwa Baptisan Proselitos sudah dipraktikkan sejak Abad II sb. Masehi. Praktik pembaptisan ini ditujukkan kepada orang asing yang ingin menjadi warga Israel (persyaratan naturalisasi kewarga-negaraan). Sesudah orang asing dibaptiskan, ia masih harus mengikuti persyaratan berikutnya, yakni : penyunatan (Kej. 17).

B.1.d.  TRANSFORMASI. Jemaat Kristen Abad I – II Masehi mengambil alih kerangka pemahaman tentang Baptisan Proselitos (keluar dari kewargaan lama untuk masuk menerima kewargaan baru ---> menjadi warga Israel), lalu mengisinya berdasarkan pemahaman dan pengakuan iman kepada Yesus Kristus, yakni : oleh iman kepada Allah di dalam Yesus-Kristus, maka orang yang dibaptis dalam nama BAPA, ANAK dan ROHKUDUS (Mat. 28:19) menerima kewargaan baru atau masuk ke dalam persekutuan dengan Allah dan bersama sesama seiman.

                    Paulus, rasul kepada bangsa-bangsa non-israeli, mentransformasikan Baptisan Proselitos ke dalam ajaran kristen dan memaknainya oleh karya Yesus Kristus : kematian – kebangkitan. Ia mengatakan “bersama dalam kematian-Nya kita mematikan serta menanggalkan manusia-lama, dan bersama dalam kebangkitan-Nya kita dibangkitkan kepada hidup baru”. Dengan demikian berdasarkan iman akan kematian-kebangkitan Yesus, kita masuk ke dalam persekutuan hidup bersama Dia yang menjadikan kita sebagai anak-anak Allah dan ahli waris kerajaan-Nya.

B.2. SUNAT SEBAGAI TANDA PERJANJIAN

B.2.a. SUNAT DALAM PERJANJIAN LAMA. Menurut penulis Kitab-Kitab Perjanjian Lama, untuk menjadi ahli waris perjanjian Allah dan warga Israel, seorang laki-laki wajib disunatkan pada usia 8 hari (Kej. 17:9-15). Penyunatan itu juga terkait keikut sertaan seorang anggota umat Israel dalam penyelenggaraan Paskah (Kel. 12:48).

B.2.b. SUNAT YESUS SECARA LAHIRIAH. Menurut kesaksian Alkitab, Yesus adalah Allah sendiri (Mat. 1: 18, 20 -> “sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.”). Jikalau Yesus adalah Roh Allah sendiri, dan Allahlah yang menyruh Israel menyunati anak-anak (Kej. 17); pertanyaannya : MENGAPA YESUS DISUNATKAN ORANGTUANYA PADA HARI KE - 8 (Luk. 2:21). Sesungguhnya Yesus tidak perlu disunat sebab Dia adalah Allah (Kristus). Akan tetapi perbuatan itu dimaksudkan untuk menjelaskan kepada kita, bahwa Yesus menghormati tradisi leluhurnya, karena itu menggenapi seluruh hukum Taurat (Mat. 5:17-19).  Dengan demikian kita patut mengerti, bahwa Yesus tidak disunat, agar Dia diselamatkan, tetapi untuk membuktikan bahwa Dia adalah keturunan Abraham. Dan di dalam Dia-lah Allah berkerja  menghadirkan berkat Abraham kepada semua kaum di muka bumi (Kej. 12:3). Di dalam Dia juga, Allah menyelamatkan umat-Nya. Itulah arti nama-Nya (Mat. 1:21).

B.2.c. SUNAT KRISTUS DALAM TULISAN PERJANJIAN BARU. Paulus mentrasformasikan tradisi sunat dalam APL dengan memaknainya secara rohani. Ia memakai tradisi nabi-nabi tentang sunat, ketika mereka melawan kebiasaan Israel yang buruk. Kita dapat membaca makna baru tentang sunat tradisi Kitab Ulangan (sumber D), yang berbunyi : “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.” (Ul. 10:16; bd. Ul. 30:6; Yer. 4:4 -> “Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu, hai orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, supaya jangan murka-Ku mengamuk seperti api, dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkan, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat”).

Paulus menasihati jemaat-jemaat yang diinjilinya, karena perselisihan mengenai penyunatan dan Hukum Taurat. Ia menuliskan : “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.” (1 Kor. 7:19; bd. Gal. 6:15 -> “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.”). Sebab apakah gunanya sunat, jika orang melanggar kehendak Allah ? Pertanyaan itu sama bunyinya : apakah  yang dibanggakan seorang yang telah menjalani baptisan selam dan atau baptis ulang, yang dikatakan menerima Roh Allah, padahal perkataan dan perbuatan masih berkanjang dalam dosa ? Jadi bukanlah meterai sunat yang dikejar, melainkan makna yang tersirat di balik meterai itu, yakni : keselamatan yang dikaruniakan Allah, yang olehnya umat mengucap syukur dengan melakukan hal-hal yang sesuai firman-Nya.

B.2.d. SUNAT DAN BAPTISAN KRISTUS. Karena itu, Paulus mengatakan kepada Jemaat Kristen di Kolose : Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita…,” (Kol. 2:11). Pendapatnya ini dituliskan, karena sedang terjadi perselisihan antara orang Kristen-israeli yang masih memberlakukan tradisi Agama Yahudi dan memaksa kebiasaan itu kepada orang Kristen non-israeli. Bagi Paulus, hal sunat atau tidak bersunat bukan persoalan, tetapi yang terpenting adalah  kepercayaanmu kepada kuasa Allah” yang bekerja di jemaat.

Menggunakan nasihat Paulus ini, saya berpendapat : “Masalah BAPTIS SELAM maupun BAPTIS PERCIK serta BAPTISAN ANAK maupun BAPTISAN ORANG DEWASAtidak perlu menjadi topik debat teologis di kalangan orang kristen; akan tetapi yang perlu dipercakapkan ialah : “Apakah buah kebaikan yang lahir dari hati setiap orang yang telah dibaptis ?”. Topik inilah yang patut dibicarakan bersama di kalangan kristen, agar pekerjaan Allah tidak terhalangi karena kita menyoal : CARA PEMBABTISAN MANAKAH YANG BERKENAN KEPADA ALLAH.

B.3. KESELAMATAN MENDAHULUI BAPTISAN, BUKAN SEBALIKNYA.

Apakah dasar Alkitabiah untuk menjelaskan sub-pokok-bahasan ini ?

"Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau,… (Yer. 1 : 4); bandingkan pernyataan Paulus :  Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya…” (Gal. 1 : 15). Kutipan ayat Alkitab itu menjelaskan, bahwa Allah yang menciptakan, Dia juga menghendaki manusia diselamatkan, sejak dari dalam kandungan ibunya. Rasul Paulus menuliskan pemahaman iman pribadinya sebagai berikut :

Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus (Eps. 1 : 9; bd. Rom. 8 : 29 – 30)

Gereja menggunakan ayat-ayat di atas untuk menjelaskan keyakinan iman (PEMAHAMAN DAN PENGAKUAN IMAN), bahwa Allah telah berhenti menciptakan manusia secara langsung, seperti yang dilakukan-Nya pada waktu menciptakan Adam – Eva. Akan tetapi Ia memakai cara lain untuk menyatakan kekuatan-Nya yang menciptakan manusia, yakni : melalui kandungan dan persalinan perempuan. Ke dalam bayi yang sedang dikandung ibunya, TUHAN Allah memberikan roh yang sama seperti ketika ia menciptakan Adam – Eva, sehingga bayi itu disebut : MAKHLUK YANG HIDUP (Kej. 2:7). Inilah pandangan Gereja tentang PROKREASI (Kej. 1:28; 3:16 -> “… perempuan itu mengandung … dan melahirkan”).

Menurut Ajaran Gereja yang didasarkan atas kesaksian Alkitab, manusia (khususnya EVA sehubungan dengan proses persalinan) diikutsertakan dalam karya penciptaan dan penyelamatan yang direncanakan oleh Allah. Jadi setiap orang kristen perlu mengetahui dan mengerti, bahwa “penciptaan– keselamatan” juga dilakukan Allah melalui kandungan seorang ibu beriman. Dengan demikian kita wajib percaya, bahwa rencana dan karya penyelamatan Allah sudah ditetapkan sejak semula, sebelum segala sesuatu diciptakan oleh Dia sendiri. Dan, oleh karena itulah kita wajib mendidik dan mengajarkan kepada anak, bahwa kelahirannya melalui kandungan seorang ibu beriman adalah rachmat Allah yang menghendaki anak itu diselamatkan (Pandangan Teologi Calvinis tentang PREDESTINASI dan PROVIDENSIA).

B.4. APAKAH DASAR ALKITABIAH YANG DIPAKAI GEREJA UNTUK MENYELENGGARAKAN BATISAN ANAK ?

Gereja mentransformasikan dan mengkonfirmasikan kesaksian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk menjelaskan ajarannya tentang Pembaptisan Anak, sebagai berikut :

D.4.a. PESAN YESUS. “… jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:19)

“BAPTISLAH MEREKA !” Dalam pesan itu tak ada maksud Yesus menyuruh membaptiskan orang dewasa saja. Kata “MEREKAtidak boleh hanya ditafsirkan secara eksklusif (sempit) terkait orang dewasa. Kata itu terbuka untuk dikenakan tertuju pada semua orang : orangtua, pemuda-pemdi, remaja dan anak-anak. Oleh karena itu, siapapun tidak boleh memperdebatkan tentang : apakah anak-anak boleh dibaptiskan ataukah tidak. Katakanlah sebuah contoh saja : ketika seorang ibu Kanaan memohon Yesus menyembuhkan anak perempuannya, ia berkata : “Ya Tuhan, Anak Daud, KASIHANILAH AKU…” Permohonan ini  : KASIHANILAH AKU, mengungkapkan pergumlan bathin seorang ibu yang mengandung dan melahirkan anaknya. Bukan saja anaknya yang sakit, tetapi bathin perempuan itu sangat tertekan melihat derita anaknya, sebab itu ia berseru kepada Yesus: “Ya Tuhan, Anak Daud, KASIHANILAH AKU.” Yesus berkata : “Hai ibu, BESAR IMANMU, jadilah seperti yang kaukehendaki.” (Mat. 15:21-28). Anak perempuan itu disembuhkan (diselamatkan) karena IMAN ibunya. Sikap Yesus yang mengasihi anak-anak tampak jelas dalam cerita penulis Matius selanjutnya.

B.4.b. SIKAP DAN PANDANGAN YESUS TENTANG ANAK. Penulis Matius menceritakan, bagaimana Yesus memarahi murid-murid yang menghalangi orangtua yang mengantarkan anak-anaknya untuk diberkati-Nya (Mat.19:13-15). Panulis Matius menyimpulkan pandangan dan sikap Yesus seperti demikian : “Lalu IA MELETAKKAN TANGAN-NYA atas mereka…” (Mat. 19:15; Mrk. 10:16 menambahkan : “IA MEMBERKATI MEREKA; bd. Luk. 18:15-17).

Apakah makna IA MELETAKKAN TANGAN-NYA dan IA MEMBERKATI MEREKA ? Bukankah makna inilah yang terkandung dalam tanda / meterai baptisan, yakni : BERKAT PERJANJIAN KESELAMATAN ? Lantas apakah yang dipersoalkan lagi tentang BAPTISAN ANAK ? Keberatan yang diajukan tidak berdasar sama sekali. Keberatan terhadap BAPTISAN ANAK bertolak dari pandangan psikologis yang sempit, seakan-akan JIWA ANAK tidak lebih berharga ketimbang jiwa orang dewasa ! Karena anak atau anak-anak belum memiliki kesadaran rohani, yakni : pengetahuan dan pengenalan akan Allah.

B.4.c. TUGAS FUNGSIONAL DAN PERAN ORANGTUA DALAM KELUARGA ALLAH. Baptisan itu bertujuan menyatakan kepemilikan Allah atas orang percaya yang setia. Baptisan itu juga dimeteraikan atas nama Allah Mahaesa : BAPA, ANAK DAN ROHKUDUS. Gereja yang menyatakan diri sebagai Umat Tuhan (Yun. kuriake, kuriakon, kuria) mengakui akan KEMAHAESAAN (atau KEESA-TRIAN) Allah, sama seperti yang diakui umat Israel (Ul. 6:4 Yes. 45:5-6, dll), serta berjanji untuk mengasihi Dia (Ul. 6:5) sesuai pengajaran Yesus : “KASIHILAH TUHAN ALLAHMU DENGAN SEGENAP HATIMU, DAN DENGAN SEGENAP JIWAMU, DAN DENGAN SEGENAP AKALBUDIMU” (Mat. 22:37).

         Dalam tradisi Agama Israel, orangtua berkewajiban untuk membimbing : mendidik dan mengajarkan anak-anaknya untuk mengasihi Allah (Ul. 6:6-7). Kewajiban itu dilakukan dalam kesadaran akan pengalaman, bahwa TUHAN itu Allah yang membebaskan Israel dari tanah Mesir, tanah perhambaan (Ul. 5:6; bd. Kel. 20:2). Inti ajarannya itu adalah “KENALILAH ALLAH YANG TELAH MENYELAMATKAN KITA !

         Hal itulah yang dipesankan Yesus kepada Gereja : “… BAPTISKANLAH … DAN AJARKANLAH MEREKA SEGALA SESUATU YANG TELAH KUPERINTAHKAN KEPADAMU.” (Mat. 28:19). Apakah PERINTAH Yesus yang wajib diajarkan oleh orangtua kepada anak-anak yang telah dibaptiskan. Kata Yesus : “KASIHILAH TUHAN ALLAHMU DENGAN SEGENAP HATIMU DAN DENGAN SEGENAP JIWAMU DAN DENGAN SEGENAP AKALBUDIMU” (Ul. 6:5; Mat. 22:37), dan kata-Nya lagi : “KASIHILAH SESAMAMU MANUSIA SEPERTI DIRIMU SENDIRI” (Im. 19:18; bd. Mat. 22:39). Dalam proses mewariskan ajaran itu orangtua berdoa: “YA TUHAN, BERIKANLAH ROH-MU KE DALAM HATI NURANI DAN AKALBUDI ANAK INI, SUPAYA IA MEMILIKI HIKMAT KRISTUS UNTUK MENGENAL ENGKAU SELAKU BAPANYA.”

C.      APAKAH MAKSUD DAN TUJUAN PENULISAN ARTIKEL INI ?

C.1. Artikel ini tidak ditulis oleh tujuan dan maksud untuk dipakai menyerang ajaran kristen menurut pemahaman Gereja lain, tetapi untuk menanamkan pemahaman iman dan menularkan pengetahuan Alkitab yang diyakini dan diajarkan oleh GPIB tentang BAPTISAN ANAK.

C.3. Dengan demikian jika saudara-saudara seiman menyoal BAPTISAN ANAK, maka  warga dan pejabat GPIB dapat menjelaskannya secara baik dan benar sesuai kesaksian Alkitab, seperti yang dinasihati Paulus kepada Timotius (bd. 1 Tim. 4 : 11 – 16)

BERSAMBUNG --->

4.   BAPTISAN ORANG DEWASA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar