Rabu, 19 Oktober 2011

SUMBANG PIKIR BAGI PENGEMBANGAN FUNGSI GERMAS GPIB


TUGAS AGAMA DALAM
PEMBANGUNAN MASYARAKAT BANGSA

SEBUAH ANALISIS DAN EVALUASI TETHADAP TUGAS FUNGSIONAL AGAMA – AGAMA DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT-BANGSA

TUJUAN PENULISAN

Artikel ini disumbangkan kepada DEPARTEMEN GERMASA GPIB demi mengembangkan DIALOG antar umat beragama dan atas denominasi gerejawi

MEDAN – SUMATERA UTARA,

RABU, 19 OKTOBER 2011

DITULIS OLEH

ARIE A. R. IHALAUW


I
PENDAHULUAN

AKU MENCARI PIKIRAN ALLAH merupakan mimpi tentang bagaimana manusia perlu mengusahakan sebuah konsep pembangunan yang menyeluruh utuh dan terpadu terkait pelaksanaan tugas pembangunan yang diamanatkan oleh Allah (Kej. 2:15 -> TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”). Topik ini dipilih untuk menyoroti perubahan dan perkembangan masyarakat yang sedang berlangsung serta mengantisipasi peristiwa sosial yang akan datang sebagai ekses masalalu. Semua itu dikaji dan diuji berdasarkan kesaksian Alkitab sebagai sumber teologi kristen.

Sejak dahulu sampai sekarang, kita menemukan 2 (dua) faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan teologi kristen :

1.      SEJARAH SOSIAL.

Pertumbuhan dan perkembangan pembangunan masyarakat ditentukan oleh kemampuan manusia menangani masalah dalam kurun waktu dan tempat. Masalah ini berhubungan dengan interaksi manusia dengan sistem lingkungan hidup, manusia dan sistem masyarakat, serta interelasi antar manusia dalam sistem. Hal itu terekam dalam tulisan-tulisan sejarah.

2.      PIKIRAN ALLAH DALAM UCAPAN-NYA.

A.   Sejarah Pertumbuhan Kepercayaan

A.1.   Politeisme.

Manusia mengembangkan eksistensinya dalam lingkungan alam dan lingkungan sosialnya. Di sanalah ia mengalami berbagai peristiwa, bisa saja menguntungkan tetapi bisa pula merugikan. Jika peristiwa itu menguntungkan, maka eksistensinya semakin berkembang; sebaliknya, jika merugikan ia akan mencari cara untuk membebaskan diri. Kenyataannya sepanjang pengalaman manusia banyak menemukan kegagalan, karena ketidak mampuan atau keterbatasan eksistensialnya. Keterbatasan eksistensial yang dimaksudkan terkait dengan kondisi pisik dan psikis, kecedasan emosional, kecerdasan intelektual dan spiritualitasnya.

                 Menghadapi keadaan yang diuraikan di atas, manusia mencari jalan keluar. Ia berdialog dengan alam, lalu ia menemukan kekuatan alami. Ia berdialog dengan matahari, lalu ia menemukan kekuatan cahaya, kemudian disebutnya sebagai “dewa matahari”. Ia berjumpa pada masalah kematian, menemukan sebuah kekuatan penghancur kehidupan, dan menyebutnya dewa kematian. Ia bertemu dengan sungai yang mengalir air yang memiliki kekuatan menghidupkan serta mematikan, ia menyebutnya “dewa kehidupan”. Ia bertemu dengan alam yang indah dan tanah yang subur, disebutnya : “dewi kesuburan”.

                 Sejak perjumpaan itu manusia menyusun sistem ajaran tentang “kekuatan alami” sebagai pemberi dan penghancur kehidupan. Sistem ajaran itulah yang mendorong manusia untuk mengadakan penyembahan (ibadah) kepada “kekuatan alami” yang menolongnya untuk bertahan hidup. Itulah yang disebut pakar ilmu pengetahuan : kepercayaan tentang dinamisme dan animisme. Sebuah konsep kepercayaan tentang alam yang mengandung “kekuatan gaib (mistik)” yang mempengaruhi siklus kehidupan manusia. Kepercayaan itu dikembangkan terencana dan diajarkan kepada seluruh lapisan keturunan. Kepercayaan ini disebut agama.

A.2.  Keluar dari Politeisme menuju Monotheisme

Perkembangan kepercayaan / agama tidak terjadi serta merta. Proses itu terjadi dalam rentangan peristiwa-peristiwa sosial yang digumuli manusia. Semua Kitab Suci yang diakui oleh penduduk bumi menceritakan ucapan-ucapan ilahi yang disampaikan seseorang di tengah peristiwa sosial yang sedang digumuli masyarakatnya. Tidak ada sebuah kepercayaan / agama yang dilahirkan di luar kandungan peristiwa sosial. Malahan setiap ucapan ilahi yang diberitakan selalu berhubungan dengan masalah yang sedang melanda kehidupan manusia dalam masyarakat dan juga dalam hubungan dengan lingkungan alamnya.

Contoh cerita yang dituliskan dalam Kitab Kejadian 11 mengemukakan kepercayaan / Agama Israel, bahwa TUHAN mengacaubalaukan bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi. (ay. 9). Mengapa TUHAN mengacau-balaukan manusia ? Sebab manusia telah keliru menafsirkan suruhan-Nya : Allah memberkati mereka, lalu berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. (Kej. 1:28) dan lagi TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. (Kej. 2:15). Intinya, TUHAN Allah menciptakan manusia untuk menjadi saluran berkat bagi seluruh ciptaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, manusia perlu berkembang biak dan memenuhi bumi, agar menjalankan tugas pemeliharaan dan penatalolaan alam semesta sesuai rencana penyelamatan Allah.

Bertolak belakang dari rencana Allah, manusia hidup mengelompok dalam wilayah yang terbatas (wilayah Mesopotamia). Mereka membangun kerajaan (Menara Babel) untuk tinggal beranak pinak serta menikmati hasil bumi bagi “keluarga-manusia” sendiri. Mereka tidak befungsi sebagai penyalur berkat ke atas seluruh ciptaan di atas permukaan bumi. Mereka menjalankan gagasan yang tidak sesuai rencana Allah; oleh karena itu, Dia menghukum.

Meskipun cerita ini adalah legenda (atau juga mythos keagamaan), penulis Kejadian menggunakannya untuk merefleksikan 2 (dua) ajaran Agama Israel :

a).  Panggilan Abraham : keluar dari budaya-agama-suku masuk ke dalam monoteisme.

      Diceritakan oleh penulis Kejadian : Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. (Kej. 12:1-3). Kutipan tersebut menguraikan maksud Allah memanggil dan janji-Nya kepada Abraham (Abram) :

i.    PERGILAH… Kemanakah Abraham (Abram) akan pergi ? Ke sebuah wilayah baru yang akan ditunjukkan Allah kepadanya. Ia harus memutuskan apakah mengikuti atau menolak suara Allah. Abraham pergi meninggalkan segala sesuatu yang dicintai, karena ia taat mengikuti suara Allah.

ii.   JANJI ALLAH… Apakah janji Allah kepada Abraham ? Dia akan membuat Abraham menjadi sebuah bangsa besar, memberkati keturunannya serta memelihara mereka (Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau).

iii.  TUGAS ABRAHAM… Apakah tugas panggilan yang wajib dilakukan  Abraham ? Allah menyuruhnya : “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat”. Abraham menjadi penyalur berkat Allah kepada semua orang.

      Bersumber dalam tradisi narasi di sekitar Abraham, kita menangkap sebuah perkembangan baru pada sejarah kepercayaan / agama pada waktu itu. Kemungkinan besar sedang terjadi pergeseran dari politeisme (termasuk panteisme) kepada monoteisme. Kemungkinan ini tidak dapat ditepis, sebab pada waktu itu keluarga Terah, ayah Abraham, memiliki ajaran tentang dewa-dewi yang diwariskan kepada keturunannya (simak kepercayaan Laban, sepupu Ribka, isteri Abraham -> Kej. 31:29-35 tentang TERAFIM).

      Abraham tidak akan mungkin keluar dari budaya-agama-suku yang diwariskan ayahnya, jikalau ia tidak mengambil keputusan untuk taat mengikuti suara Allah. Menurut pendapat saya, istilah ALLAH yang dimaksudkan dalam tradisi narasi Abraham, pada awalnya, menujuk akan sebutan umum kepada sesembahan budaya-agama-suku. Mengapa ? Karena istilah itu dipakai secara umum oleh suku-suku bangsa pada waktu itu (El, El-Baal, Eloi, Elohim, dan seterusnya). Oleh karena itu, kita memerlukan banyak informasi tentang sesembahan yang dipercaya keluarga Terah, di mana Abraham adalah pewarisnya.

      Mengapa terjadi perubahan kepercayaan pada Abraham ? Menurut saya, hal itu bisa saja terjadi sepanjang perjalanan Abraham memenuhi panggillan Allah. Itu dapat dibuktikan dari pernyataannya, ketika ia tiba di Bet-El (Kej. 12:8 -> Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN). Walaupun para pakar Ilmu Agama dan Teologi Perjanjian Lama memperkirakan Kej. 12:8 ini merupakan tambahan yang dimasukkan oleh redaksi; akan tetapi saya memahami narasi ini sebagai sebuah pengalaman iman pribadi (Abraham) sepanjang perjalanan bersama Allah, di mana ia menyaksikan pemenuhan janji-Nya, sehingga ia tiba pada kesimpulan : Allah itu TUHANku. Saya tidak ingin mempersoalkan narasi ini dari sudut pandang kritik teks dan kritik sejarah; akan tetapi saya cenderung menyoroti fungsi kepercayaan (spiritualitas) yang lahir dari perjumpaan Abraham dan Allah bagi pembangunan fungsi agama dalam masyarakat Israel post-pendudukan Kanaan.  

b).  Panggilan Israel-Yehuda

      Cerita legendaries itu dijadikan landasan untuk membangun pemahaman teologi Agama Israel tentang tugas misional yang diberikan Allah kepada Abraham. Eksistensi umat Israel-Yehuda bukan saja dihubungkan oleh para penulis dan nabi Perjanjian Lama dengan Abraham – Ishak – Yakub secara biogenetic, tetapi juga dikaitkan pada kepercayaan / agama Abraham. Malahan di awal pertumbuhan Agama Israel, Musa menyatakan, bahwa TUHAN adalah (=) Allah yang disembah leluhur mereka (Kel. 3 : 13 – 15 -> Agama Musa ?).

      Eksodus dari Mesir adalah karya pembebasan yang dikerjakan oleh TUHAN yang disembah leluhur Israel.

      Tradisi lisan / narasi di sekitar Abraham disoroti para penulis Kitab Musa sebagai pengulangan sejarah dalam bentuk yang berbeda. Hal itu tampak jelas pada rumusan janji yang terdapat dalam panggilan Allah (Kej. 12:1-3). Perjalanan Abraham ke Mesir (Kej. 12:10-20) merupakan kerangka cerita yang diulangi dalam peristiwa historis : pembebasan Israel dari Mesir. Unsur-unsurnya jelas :

a). Kelaparan melanda tanah Kanaan memaksa Abraham ke Mesir (Kej. 12:10).
b).  Abraham tinggal di Mesir (Kej. 12:16).
c).  Masalah Abraham di Mesir (Kej. 12 : 14).
d).  Hukuman / tulah yang diberikan TUHAN atas Firaun (Kej. 12:17).
e).  Pembebasan Abraham (Kej. 12:19-20).

      Kedua kerangka cerita, tentang Abraham dan Israel dibebaskan Allah dari Mesir itu, dihubungkan oleh pernyataan nubuatan tentang suatu keadaan yang akan dialami keturunannya : Firman TUHAN kepada Abram : "Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak.” (Kej. 15:13-14). Melalui cara itu penulis Kejadian ingin menyatakan, bahwa apa yang pernah dialami oleh Abraham akan juga dirasakan keturunanya. Meskipun peristiwa sejarahnya berbeda, namun inti berita sama : TUHAN ALLAH AKAN SENANTIASA MEMBEBASKAN ISRAEL. TUHAN Allah yang membebaskan Abraham adalah TUHAN Allah yang sama yang menyelamatkan Israel dari Mesir. Pokok kepercayaan / agama seperti inilah yang menjadi kekuatan spiritual umat untuk membangun masyarakat-bangsanya. Apakah inti kepercayaan itu ? TUHAN, Allah yang disembah leluhurnya, akan senantiasa bekerja membebaskan umat-Nya dari penderitaan.

BERSAMBUNG -->

A.3.  Kepercayaan dan Pertumbuhan Masyarakat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar